GuidePedia

HumbahasGlobal Post “Memang beginilah rupanya nasib manusia yang tidak memiliki keluarga pejabat,” demikianlah ratapan Rapta Banjarnahor, yang tengah meratapi kepergian istri tercintanya Lersiana Br. Tinambunan (50 tahun) diduga akibat korban Mall Praktek di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Doloksanggul yang akhirnya meninggal dunia pada 30 Mei 2016 sekitar pukul 04.00 subuh mengawali ceritanya dengan didampingi anak gadisnya Rama Br Banjarnahor terkait isterinya yang meninggal 6 hari seusai menjalani operasi usus buntu di RSUD Doloksanggul.
Kalaulah aku tahu bakal seperti ini, aku tidak akan mau membawa isteriku untuk berobat dan dioperasi di RSUD Doloksanggul. Isteriku hanya sebagai bahan praktek dokter itu tanpa mendapat kesembuhan bahkan tidak sampai seminggu usai dioperasi maut menjemputnya. Sebelumnya ketika pulang kerumah akibat dipaksa oleh dokter yang mengoperasinya, selama diperjalanan isteriku terus mengeluh akan sakit bekas operasi diperutnya, apalagi dengan situasi jalan Doloksanggul – Pakkat sampai kerumah yang penuh dengan lobang, ingin rasanya menangis bagai anak-anak mengingat penderitaan isteriku sepanjang jalan. Apa daya beginilah rupanya nasib manusia yang tidak memiliki keluarga pejabat atau petinggi di Humbahas ini, karena isteriku dioperasi dan masuk program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan sehingga bagai binatang walau jahitan diperutnya belum menandakan kesembuhan atau kering akan tetapi sudah dipaksa untuk meninggalkan RSUD Doloksanggul itu,” ujar Rapta Banjarnahor dengan nada memelas dan dari matanya terlihat sedikit meneteskan air tanda kesedihan yang mendalam.
Hal itu disampaikan Rapta Banjarnahor suami Lersiana Br. Tinambunan usia (50) melanjutkan ceritanya terkait kematian isterinya tersebut diduga korban Mallpraktek oleh dr. Santer Sihaloho Sp.B. usai menjalani operasi usus buntu di RSUD Dolokksanggul.
Rapta menceritakan bahwa awal penyakit yang diderita isterinya  dimulai Selasa (24/6/16) usai konsultasi dan mengambil rujukan dari Puskesmas Pakkat, isterinya langsung berangkat ke RSUD Doloksanggul dimana sesuai rujukan untuk menjalani operasi terkait sakit perut yang dideritanya. Sesampainya di RSUD Doloksanggul sekitar pukul 12.00 wib, beberapa saat kemudian pada pukul 18.00 wib dilakukan operasi atas isteri saya. Penyakit yang diangkat dari perut isteri saya dimasukkan kedalam botol, katanya.
“Pukul 12.00 wib pada tanggal 24 Mei 2016 Kami sampai dirumah sakit, kemudian pada pukul 18.00 wib ibu dioperasi selesai pukul 19.30,” ujar Rama Br Banjarnahor menceritakan kronologis ibunya dioperasi oleh dr. Santer Sihaloho Sp.B. di RSUD Doloksanggul.
Pada tanggal 28 Mei 2016 oleh dr. Santer Sihaloho Sp.B. disuruh untuk pulang dengan alasan korban sudah sehat. Akan tetapi dikatakan korban bahwa ; Hurang sehat dope au amang dokter, apalagi dalan tu huta nami maol do. Bekas operasi on haccit hian dope huhilala (Kurang sehat masih aku pak dokter, apalagi jalan kekampung kami susah. Bekas operasi ini masih sangat sakit aku rasa).
Kemudian langsung dijawab dr.Santer Sihaloho Sp.B. dengan berkata; Piga Hari nai hamu dison? Sataon nai? Nadia na hancit huroa? (berapa hari lagi kamu disini? Setahun lagikah? Yang mana yang sakit rupanya - Red). Hal itu dikatakan dr. sembari memukul-mukul perut yang baru dioperasi tersebut.
Rapta juga menceritakan bahwa selama berobat, korban hanya menerima infus dari RSUD Doloksanggul, sementara obat yang diperlukan mereka hanya menerima resep dokter dan membelinya keluar ataupun ke apotik Samsere yang ada diluar RSUD Doloksanggul.
“Sedangkan luka pada kaki saja belum tentu sembuh 4 hari, ini bagian dalam dioperasi mana mungkin langsung sembuh dalam 4 hari,” ujar Rapta Marbun dengan mimik sedih membayangkan penderitaan almarhum isterinya tersebut.
Rapta juga menyebutkan bahwa pasca kembali dari RSUD Doloksanggul, bukan hanya masyarakat biasa keluarga dan sanak saudara  yang bekerja sebagai para medis mengherankan kwalitas jahitan pada tubuh isterinya yang tidak bagus.
“Layaknya jahitan tersebut dibuat pada seekor binatang atau kegoni saja dan bukannya pada manusia makanya sepanjang waktu isteriku terus mengerang kesakitan,” ujar Rapta Banjarnahor mengakhiri ratapannya.
Rapta Banjarnahor juga meminta agar wartawan merekam semua keterangannya agar dapat dipakai sebagai bahan untuk menindak dokter yang menyebabkan isterinya meninggal dunia.
“Rekam saja apa aku ceritakan ini aku tanggung jawab akan kebenarannya, kalaulah ada tuntutan dari Rumah Sakit terkait keterangan ini aku siap bertanggung jawab,” ujar Rapta Banjarnahor dengan tubuh lunglai.
Sebelumnya dr. Santer Sihaloho Sp.B. ketika ditemui wartawan menceritakan bahwa seusai dioperasi korban ataupun pasien meminta pulang tanggal 28 Mei 2016 pulang, harusnya cek kembali setelah 3 hari pulang atau pada tanggal 31 Mei 2016 atau tanggal 1 Juni 2016, akan tetapi setelah ditunggu-tunggu tidak datang juga.
Sementara ketika disebutkan bahwa pada saat berobat malam di RSU tidak ada obat maupun oksigen dengan nada menyakinkan dr Sugito Panjaitan Direktur RSU Doloksanggul langsung menyebutkan bahwa obat 24 jam selalu ada.  (Amhas)
 
Top