GuidePedia


Waluyo sebagai Kepercayaan atau pelaksana Lanjutan Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Laut Barus dari PT. Hidup Indah Permai dengan latar belakang dinding dermaga/pelabuhan yang hancur total.

Barus, Global Post Masyarakat Kecamatan Barus Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) Provinsi Sumatera Utara heran atas kwalitas pengerjaan Lanjutan Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Laut Barus, karena walau disebut-sebut sesuai plank proyek sebagai proyek nasional akan tetapi kwalitasnya sangat rendah. Kwalitas proyek dikatakan sangat rendah dengan alasan, walau masih berbilang bulan ditinggalkan pemborong, akan tetapi disana-sini sudah banyak terdapat yang rusak dan hancur.
Hal itu antara lain disampaikan oleh Tanjung, Pasaribu dan Jepri warga Barus yang berdomisili  disekitar proyek tersebut kepada wartawan baru-baru ini.
“Padahal sesuai kontraknya yang tertulis pada papan kontraknya, biaya untuk pembangunan fasilitas pelabuhan laut Barus tersebut sangat besar dan fantastis. Bayangkan aaja biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 17.805.516.000,00 (Tuju belas miliar delapan ratus lima juta lima ratus enam belas ribu rupiah) yang dikerjakan oleh PT. Hidup Indah Permai, sementara Konsultan Pengawas berasal dari PT. Bina Sarana Ekatama,” ujar Pasaribu mengeja-eja biaya yang harus dikeluarkan untuk pembangunan pelabuhan itu.
Sementara itu dalam keterangannya Tanjung menyebutkan pula bahwasanya mereka tidak kenal dengan pimpinan Unit Pengelola Pelabuhan (UPP) Barus karena sejak memimpin serta saat proses pengerjaannya mereka tidak pernah melihatnya berada dilapangan.
Kami dengar-dengar Kepala UPP Barus berasal dari suku Nias, akan tetapi sejak menjabat serta sejak pengerjaan proyek maupun setelah usai dikerjakan kami tidak pernah melihatnya. Kalaupun ada dari Suku Nias pekerja disekitar UPP Barus adalah buruh kasar pembangunan yang direkrut dari warga sekitar proyek,” ujar Tanjung pula.
Sementara Jepri kepada wartawan menyebutkan bahwasanya saat dikerjakan proyek tersebut sudah diprediksi tidak akan bertahan lama, karena semen sebagai bahan utama pembangunan sangat sedikit dipakai.
“Bayangkan aja bang, campuran semen atas pasir maupun batu sangat sedikit. Sehingga wajar saja proyek tersebut tidak bisa bertahan lama. Ini masih untung masih bisa bertahan sampai 2 bulan tidak hancur total sementara badai di Barus lumayan besarnya,” ujar Jepri lagi.
Waluyo saat ditemui ketika hendak memulai pekerjaan perbaikan kerusakan pelabuhan, hanya menyebutkan bahwasanya pekerjaan itu bukan tanggungjawab mereka, pekerjaan dilaksanakannya hanya karena kasihan.
“Ini bukan tanggung jawab kami kerusakannya, cuma karena kasihan maka kami bantu memperbaikinya. Saya sendiri sudah di Medan hendak kembali ke Jawa (Pulau Jawa -Red) Cuma karena diperintahkan pimpinan maka saya datang untuk memperbaikinya. Perawatan atas proyek ini adalah 180 hari dan jelas bukan tanggung jawab kami,” ujar Waluyo sembari meninggalkan wartawan dan melakukan pemotretan atas batu-batu yang baru datang untuk bahan perbaikan dermaga yang rusak tersebut.
Sebelumnya pada saat proses pengerjaan pelabuhan Barus tersebut, ketika ditanya Waluyo menyebutkan bahwa pimpinannya tidak mungkin datang kelokasi proyek dan cukup ia saja yang dipercaya untuk menangani hal-hal yang terkait pada proyek.
“Manalah mungkin bos besar datang untuk melihat dan memantau pekerjaan itu, cukup saya saja yang menjadi kepercayaannya menghandel semua apapun bila terkait proyek. Bos itu bukan hanya ini proyeknya bahkan ini adalah proyek yang nilainya paling kecil,” ujar Waluyo dengan jumawanya memamerkan kehebatan bosnya tersebut.
Sementara itu Seti Eli Maru Ao Kepala UPP Barus yang juga selaku Pimpinan Proyek (Pimpro) maupun RP Gultom, SH selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) atas proyek tersebut beberapa kali coba ditemui baik saat proyek dilaksanakan maupun setelah proyek selesai tidak berhasil. Staf UPP Barus yang ditanyai wartawan menyebutkan bahwa pimpinan mereka baru saja berangkat ke Medan untuk terkait tugas-tugas proyek tersebut.
Sementara menurut warga sekitar dermaga, bahwa para staf UPP Barus bohong menyebutkan kedua petingginya baru saja berangkat ke Medan. Mereka tidak kenal dan tidak pernah melihat Seti Eli Maru Ao Kepala UPP Barus maupun RP. Gultom, SH wakilnya berada di Barus.
“Bohong para stafnya itu kalau menyebutkan petingginya itu baru berangkat ke Medan, sudah lama mereka tidak kami lihat bahkan kami tidak kenal siapa pimpinannya,” begitulah disampaikan Jepri maupun Tanjung terkait keberadaan petinggi UPL Barus tersebut.
Awalnya melalui telepon selulernya baik Seti Eli Maru Ao maupun RP Gultom SH bersedia bertemu di Medan, balik harinya menyatakan bahwasanya mereka sangat sibuk dan telah menugaskan staf dari Sibolga dan salah seorang wartawan Harian terbitan Medan agar bertemu dengan wartawan di Sibolga saja.
“Kami sangat sibuk ini dan nanti juga akan berangkat ke Jakarta, jadi kalau memang merasa perlu jumpai saja kawan wartawan dan pegawai dermaga yang dari Sibolga itu,” ujar Seti Eli Maru Ao maupun RP Gultom SH seirama saat dihubungi melalui Hand Phonenya diwaktu yang berbeda.
Terkait kerusakan pelabuhan, mereka berdua hanya memberikan jawaban melaui pesan Short Message Service (SMS) oleh Seti Eli Maru Ao menyebutkan,” Lg dikerjakan pak”. Sementara RP Gultom SH memberikan jawaban Kerukan akibat arus ombak dan gelombang tinggi akhir akhir ini, saat ini sedang diperbaiki. Mereka berdua tidak mau memberikan jawaban terkait keberadaan mereka yang tidak ada dilapangan saat proyek dilaksanakan. (Amhas)

 
Top