GuidePedia


Lambar, Global Post - Kabupaten Lampung Barat menjadi salah satu daerah penghasil kopi terbesar di Provinsi Lampung, tidak heran ketika berbicara kopi, tentunya identik dengan Liwa, karena selain memiliki kualitas yang baik, produk olahan kopi bubuk asal Lampung Barat memiliki cita rasa tersendiri yang menjadi pembeda dengan kopi dari daerah lain di Indonesia.  Kopi bubuk olahan yang diproduksi oleh industry rumahan di Lampung Barat terbagi dalam beberapa varian, mulai dari kopi organik hingga kopi Luwak pengolahannya menjadikan hewan musang sebagai media permentasi.

Kualitas dan mutu kopi robusta asal Lampung Barat telah mendapatkan Sertifikasi Indikasi Geografis dari Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia yang dikeluarkan pada tanggal 13 Mei 2014 dengan nama “KOPI ROBUSTA LAMPUNG” bersama dua kabupaten lainnya di Provinsi Lampung. Selain itu Melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 46/Kpts/PD.300/1/2015 tanggal 16 Januari 2016, tentang kawasan perkebunan nasional, Kabupaten Lampung Barat ditetapkan menjadi salah satu kawasan perkebunan nasional. 

Mengacu pada data dinas perkebunan setempat, sebanyak 35.737 KK merupakan petani kopi yang tergabung pada 995 kelompok tani. Dari jumlah itu sebanyak 355 kelompok tani telah bermitra dengan perusahaan ekportir kopi, dengan tingkat produktivitas kopi rata-rata 1.050 Kg/Ha. Kemudian dari keseluruhan areal perkebunan di Lampung Barat mencapai 65.125 Ha, tercatat sebanyak 53.606 Ha atau sekitar 82 % merupakan areal perkebunan kopi robusta.
Bahkan sejauh ini terdapat lima perusahaan eksportir yang telah menjalin kemitraan dengan petani kopi beberapa kecamatan di Lampung Barat. kelima perusahaan dimaksud antara lain PT Nestle yang bermitra dengan 89 kelompok tani pada delapan kecamatan, PT Indocafco yang membina 176 kelompok tani pada Sembilan kecamatan, PT Louis Dreyfus yang membina 34 kelompok pada dua kecamatan, dan PT Nedcoffe dengan Sembilan kelompok binaan pada dua kecamatan serta PT Lampung Robusta Coffee dengan 47 kelompok tani binaan di dua kecamatan.

Belajar dari Vietnam

Dalam rangka meningkatkan produktifitas hasil kopi, Pemerintah Kabupaten Lampung Barat terus melakukan berbagai terobosan, salah satunya dengan melakukan study pembelajaran dari Negara maju. Belum lama ini Bupati Lampung Barat bersama beberapa kepala satuan kerja, perwakilan kelompok tani, perwakilan pedagang dan tenaga penyuluh melakukan study pembelajaran tentang budidaya dan pengelolaan areal perkebunan kopi ke Negara Vietnam.

Bupati Lampung Barat, Mukhlis Basri mengatakan, ada hal yang perlu dicontoh dari Negara maju seperti Vietnam dalam melakukan budidaya tanaman kopi, seperti dalam satu hektar, hanya ditanam sekitar 1500 batang kopi, sementara di Lampung Barat masih berkisar 3000 batang. “Dalam satu batang bisa menghabiskan 4 Kg pupuk kimia dan 10 kg pupuk organik, kalau di Lampung Barat, masih sangat minim,” kata Mukhlis Basri Belum lama ini.

Menurut Mukhlis Basri, pola tanam dan perawatan serta pemupukan teratur yang dilakukan petani Vietnam terbukti menjadikan hasil panen lebih maksimal, dimana dalam satu hektar rata-rata mencapai empat ton, sementara di Lampung Barat rata-rata satu ton.

Kalau tingkat kesuburan tanah, di Lampung Barat jauh lebih bagus, maka sengaja kami membawa petani, penyuluh dan pedagang pengepul supaya melihat langsung,” papar Mukhlis

Sejauh ini Lanjut Mukhlis, upaya meningkatkan produksi dan produktifitas kopi di Lampung Barat dilakukan dengan peremajaan kopi, intensifikasi lahan, konservasi lahan dan antisipasi anomali iklim, penyiapan bibit unggul, bantuan alsintan dan penerapan GAP. Kemudian pemberdayaan dan penguatan kelembagaan kelompok tani melalui pelatihan dan pendampingan, hingga membangun kemitraan dengan perusahaan ekspotrir kopi,” katanya. (Hms/Edial J)
 
Top