GuidePedia

Bogor, Global Post - Seorang sopir angkot trayek 08A bernostalgia ketika melewati Jalan Oto Iskandar Dinata. “Sekarang disini seperti jaman dulu, kita bisa jalan dari arah PMI ke Pasar Bogor,” katanya.
 
Sekitar awal tahun 1970-an ketika ia masih “narik” bemo, jalurnya memang seperti itu. Dari arah PMI ia harus membelokan bemonya ke arah Pasar Bogor, Dari Pasar Bogor, penumpang yang mau ke Sukasari harus naik lagi bemo menembus Jalan Suryakencana. Waktu itu memang belum ada jalan Pajajaran. Ruas jalan itu baru dibangun kemudian untuk mengakomodir kendaraan yang masuk kota dari Jagorawi. Pembangunannya dilakukan secara bertahap sampai kemudian wilayah Sukasari bisa terhubung dengan Warung Jambu.

Amat sulit membayangkannya sekarang apabila tidak ada Jalan Pajajaran. Apa jadinya lalu lintas Kota Bogor jika jalan tersebut belum dibangun. Itulah yang mendorong Walikota Bogor, Diani Budiarto kemudian memprioritaskan pembangunan ruas-ruas jalan baru. 

Di masa kepemimpinannya ia berusaha merampungkan pembuatan Jalan R3 yang menghubungan Warung Jambu dengan Vila Duta. Sebab awal tahun 2000-an, Jalan Pajajaran pun sudah tidak bisa lagi menampung beban kepadatan arus kendaraan. Selain itu didorong pula percepatan pembangunan Jalan Sholeh Iskandar dan Jalan KH Abdulah Bin Nuh yang menjadi tugas Kementrian PU. Lengkap dengan under pass dan jalan tol. Dengan demikian wilayah Utara dan wilayah Barat Bogor bisa terhubung. Arus kendaraan pun tidak lagi tergantung pada jalur tradisional melalui Jembatan Merah dan Gunung Batu. Tidak ketinggalan pula, pelebaran ruas jalan yang menghubungkan Pasir Kuda dengan Pancasan.
Pembangunan ruas-ruas jalan tersebut merupakan implementasi dari program prioritas bidang transportasi. Sayangnya langkah itu kalah cepat dengan pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor, sehingga kepadatan lalu lintas Kota Bogor belum bisa teratasi. Untunglah Walikota Bogor, Bima Arya bergerak untuk melanjutkan program penanganan masalah transportasi, Siapapun boleh berharap, masalah transportasi di Kota Bogor akan bisa teratasi. Setidak-tidaknya, apa yang kemudian dilakukan dapat membuat masalah kepadatan lalu lintas Kota Bogor tidak berkembang menjadi lebih parah, Sejauh ini memang telah banyak langkah yang dilakukan Bima Arya.

 Secara konseptual, Pemerintah Kota Bogor telah menyusun blue print transportasi Kota Bogor yang disebut B-TOP yang berorientasi pada sistem transportasi berkelanjutan. Kedepan model angkutan umum terbatas akan diganti dengan model angkutan massa. Masyarakat pun bisa menikmati moda transportasi modern seperti LRT untuk bepergian ke Jakarta. Secara nyata, telah pula dibenahi beberapa titik kemacetan. 

Di antaranya penataan transportasi di kawasan Stasiun Kereta Api Bogor dengan merevitalisasi jembatan penyeberangan orang. Selain itu membuat pagar pembatas dan membuat pedestrian sebagai jalan khusus masuk ke area stasiun, membangun shelter angkutan kota, membangun pagar pembatas jalan dengan membuat taman vertikal., Langkah fenomenal adalah menerapkan Sistem Satu Arah di ruas jalan lingkar Kebun Raya Bogor. Kini masyarakat sudah mulai terbiasa menikmati sebagian ruas jalan  tersebut yang ‘melongpong’ bebas macet. Terutama di titik rawan macet, depan Mall BTM sampai dengan Lawang Suryakencana.
Sedangkan tindakan manajemen dilakukan antara lain dengan melaksanakan ketentuan pemerintah tentang angkutan umum yang harus berbadan hukum. Sampai akhir tahun 2015 jumlah angkutan kota yang telah bergabung ke badan hukum sebanyak 2.517 unit atau sudah mencapai 73,77% dari keseluruhan angkutan kota sebanyak 3412 kendaraan. Sedangkan jumlah badan hukum angkutan kota sebanyak 23 yang terdiri dari 10 Perseroan Terbatas  dan 13 koperasi. 

Pembenahan kota tentu tidak hanya menyentuh aspek transportasi. Wajah kota pun terus dirapikan. Untuk itu telah dibangun taman-taman baru dan ditata taman yang ada dan kesemuanya mencapai  10 taman.
Di antaranya penataan Taman Ekspresi Lereng Sempur dengan luas 2.500m2, Penataan Taman Kencana dengan luas ±4.795,56 m2 Penataan Taman Median R3 dengan luas ±4.000 m2 dan Pembangunan Taman Adnawijaya (Taman Corat Coret) seluas ± 517 m2. Juga pembangunan Taman Heulang seluas ± 20.768 m2 yang dibiayai pemerintah pusat.

Pembangunan taman juga dilakukan dengan memanfaatkan program CSR. Hal itu terwujud pada penataan taman di depan Rumah Dinas Walikota, Taman Air Mancur dan taman depan Terminal Baranangsiang serta Taman Sempur sisi sebelah Ciliwung seluas ± 800 m2, untuk menampung aktivitas komunitas skate boarding. Kenyamanan kota juga diwujudkan dengan perbaikan dan pembangunan pedestrian. Panjang pedestrian yang kapasitasnya telah dilebarkan mencapai 6,854 Km dan pedestrian yang dibangun di jalan utama mencapai  2,932 Km. Saat ini sedang dibangun  pedestrian sebelah Timur jalan Pajajaran dari Jalan Cidangiang sampai Pangrango Plasa. Selain itu, telah disusun pula perencanaan pembangunan pedestrian dari SMAN 1 sampai BTM, dan pedestrian seputar Kebun Raya.

Selain itu program Bogor Caang yang ditujukan untuk membuat kota lebih terang di malam hari terus dilaksanakan. Selama tahun 2015, telah dilakukan pemasangan PJU di 5326 titik yang meliputi jalan protokol, kawasan pemukiman, gang, taman jembatan perkotaan, dekorasi kota, dan highmast. Juga telah dilakukan pemeliharaan PJU di 5041 titik di 6 kecamatan. Total PJU yang sudah terpasang sampai dengan tahun 2015 mencapai 19.453 titik lampu. Penataan kota sejauh ini terarah pula pada upaya mewujudkan, Bogor sebagai smart city. Untuk itu antara lain dibangun wifi ruang publik pada 20 titik di 10 lokasi ruang publik. Diantaranya di RSUD, DLLAJ, Bappeda, Disdukcapil, dan di 6 Kecamatan se-Kota Bogor.

Juga terus dikembangkan situs Pemerintah Kota Bogor (www.kotabogor.go.id) untuk menjamin keberlangsungan Web Kota Bogor (www.kotabogor.go.id) dan Webmail Kota Bogor serta membangun SIM Pengaduan Masyarakat, Masih terkait dengan kegiatan ini adalah pembangunan Dashboard Pemerintahan (SI Eksotik), yaitu aplikasi penyedia data dan informasi  secara real time dan valid. Saat ini di sebuah ruang yang disebut Bogor Green Room, Walikota bisa memantau secara langsung situasi kota serta memperoleh informasi lain tentang kondisi kota secara aktual. 

Secara umum, banyak prestasi yang diraih pemerintah kota Bogor dalam tiga tahun terakhir. Sebut saja kesuksesan Kota Bogor untuk ke empat kalinya menyabet gelar Juara dalam ajang bergengsi tahunan Indonesia Digital Economi Award (IDEA) tahun 2016. Tahun ini, Kota Bogor berhasil meraih predikat The Champions in Goverment Category.  Tahun lalu, kota Bogor berhasil meraih The Second Champion E-Tourism Category.  

Selain itu, Tim Penggerak PKK Kota Bogor tahun 2015 sukses menjadi yang terbaik di tingkat nasional untuk lomba kesatuan gerak PKK dan KB Kes. Tahun 2015 pun mencacatkan sejarah baru bagi kota Bogor. Karena setelah hampir 27 tahun, akhirnya kita berhasil meraih Sertifikat Adipura. Tahun ini, kota Bogor memperoleh kehormatan masuk finalis kompetisi global We Love Cities melawan 45 kota dari 21 negara lainnya. Warga Bogor masih bisa ambil bagian untuk mendukung kota Bogor sebagai pemenang dengan cara:, Klik "VOTE NOW" pada tautan welovecities.org/bogor (setiap 24 jam sekali/alat).

Mengisi kolom saran "IMPROVE BOGOR" pada tautan welovecities.org/bogor Gunakan #WeLoveBogor pada apapun update Instagram dan Twitter Mari dukung dan berikan yang terbaik untuk kota Bogor agar memperoleh predikat sebagai kota yang paling dicintai warganya.    

Apa yang telah dilakukan para pendahulu terhadap Kota Bogor dan apa yang kini sedang dikerjakan maupun direncanakan untuk masa depan, hakekatnya merupakan penjabaran moto Kota Bogor. “Dinu Kiwari Ngancik Nubihari, Seja Ayeuna Sampeureun Jaga.” 

Diterjemahkan secara bebas moto itu kurang lebih berarti, apa yang kita nikmati sekarang merupakan hasil perjuangan pendahulu kita dan apa yang kita kerjakan sekarang adalah untuk masa depan kota ini. Kesadaran itulah yang diharapkan tetap tumbuh dan terpelihara dengan baik dari generasi ke generasi dan dari tahun ke tahun yang mengantar kota ini semakin tua tetapi semakin modern. (Dauri/Adv)
 
Top