GuidePedia

Baturaja, Global Post – Untuk yang ketiga kalinya warga yang mengatasnamakan masyarakat peduli Lengkiti, melakukan unjuk rasa ke gedung Wakil Rakyat Bumi Sebimbing Sekundang ini, menolak keberadaan PT Gunung Pantara Barisan yang bergerak di bidang pengolahan batu gaping untuk bahan semen.
 
Namun sayangnya, mediasi yang di fasilitasi oleh Wakil Rakyat antara pihak terkait dengan pendemo tidak membuahkan hasil, dan belum sampai pada pokok bahasan terjadi kericuhan yang akhirnya acara mediasi dimulai baru beberapa menit di buka langsung di bubarkan.

Pertemuan antara berbagai pihak untuk menyelesaikan tuntutan warga yang menolak dengan Pihak PT Gunung Pantara Barisan berujung Ricuh. Pasalnya, kericuhan itu terjadi akibat salah satu dari perwakilan Barisan Pemuda Lengkiti Bersatu (BPLB) sebelum di mulai mediasi lantas mengusir salah seorang peserta yang berada di dalam ruangan Badan Musyawarah (Banmus) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Ogan Komering Ulu (OKU) Sumatera Selatan.

“Saya minta sebelum acara dibuka, yang bukan warga Lengkiti keluar dari ruangan,” ujar salah satu perwakilan pendemo.

Mendengar pernyataan tersebut, rapat mediasi yang melibatkan beberapa Instansi tersebut mendadak ricuh, Balak! Kerusuhan terjadi di ruang Banmus DPRD Kabupaten OKU Suasana mencekam terjadi disana selama lebih kurang 15 menit.

Peristiwa itu terjadi saat berlangsungnya pertemuan atau interaksi tiga arah, antara massa pendemo yang menolak rencana pembangunan pabrik semen PT Gunung Pantara Barisan (GPB) yakni Barisan Pemuda Lengkiti Bersatu (BPLB) dan Ampuh, dengan massa “pro” PT GPB yakni Garda OKU serta perwakilan manajemen perusahaan.

Dari sanalah kemudian berlanjut pada saling sahut. Belum sempat Josi Robert (Garda OKU) menimpali omongan perwakilan massa yang kontra tersebut, pimpinan rapat Malkomar Du’i (Ketua Komisi II) langsung menyambungnya.

Malkomar berusaha menenangkan seraya mengatakan bahwa seluruh yang hadir dalam ruangan tersebut sesuai dengan undangan, dan semuanya berkepentingan untuk memediasi masalah yang diributkan.
Belum selesai perkataan Malkomar, langsung disambut gebrakan meja oleh perwakilan massa yang kontra tadi sembari menunjuk Josi Robert dan menudingnya bukan orang Lengkiti.

Melihat situasi memanas, anggota dewan lainnya seperti Yudi Purna Nugraha, Mirza Gumay, Yopi Sahrudin dan lain lain termasuk H Rahman ikut menenangkan suasana. Dan meminta peserta rapat mediasi untuk berlaku sopan dan tidak gebrak-gebrak meja. “Saya putra Lengkiti yang sekarang jadi wakil rakyat, saya tidak ingin caranya seperti. Disini ada etika dan jangan ada keributan,” pintanya.

Saat anggota dewan lain mengatakan hal serupa supaya tidak ribut – ribut, lantas timbul lagi reaksi dari kelompok BPLB. Bahkan ada diantaranya yang langsung menunjuk – nunjuk seorang anggota dewan seraya menyebut kata tak pantas.

Dari sinilah emosi berbagai pihak membara. Anggota dewan yang tersinggung dengan ucapan tersebut sontak ikut gebrak meja sambil menenngkan, bahkan ada beberapa yang langsung naik atas ke meja, hingga salah satu meja tersebut jebol.

Melihat itu, perwakilan Pemerintah Asisten I, Badan Penanaman Modal Daerah (BPMD), Disnakertrans Distamben, Kabag Tapem dan BLH langsung keluar ruangan sembari diamankan agar tidak menjadi sasaran keributan.

Bagaimana dengan pihak perusahaan? Berdasarkan Pantauan dilokasi rapat, perwakilan perusahaan yakni wakil direksi Ibu Liem, Adel, kemudian bendahara serta konsultannya hanya dapat termangu melihat kejadian tersebut.

Situasi nyaris tak terkendali selama 15 menit, dimana semua pihak saling dorong bahkan nyaris baku hantam. Gelas – gelas air mineral beterbangan.

Suasana bisa ditenangkan ketika pimpinan dapat meminta aparat mengusir pendemo dari dalam ruangan. Rapat mediasi dibubarkan dengan ketukan tangan cukup keras oleh Yopi Sahrudin, Ketua Komisi I.
Sementara itu, Wakil Direktur PT GPB, Lin menjelaskan kedatangan mereka atas undangan DPRD OKU untuk mediasi bersama masa aksi. “Kita di sini undangan dan kita datang baik-baik. Kami perusahan legal tidak ada masalah,” akunya saat dikonfirmasi wartawan di ruang rapat DPRD OKU.

Mengenai, posisi izin di Kecamatan Sosoybuayrayab ke Kecamatan Lengkiti, sudah di revisi. Mengenai lapangan kerja kata dia, akan utamakan warga lengkiti, namun tentunya harus sesuai prosedur. “Kitakan sekarang ini belum mulai,” jawabnya.

Disinggung mengenai keberadaan kantor yang disebut belum ada di OKU, kata dia kantor pusat perusahaan ada di Medan. Pihaknya untuk beroperasi di OKU ini baru mendapat izin. Karena itu untuk keberadaan kantor akan mencari tempat terlebih dahulu.

“Kantor kita pusat di Medan. Kitakan baru dapat izin. Kita harus cari tempat cocok, karena ini investasi besar makanya kita mau cari lokasi kantor yang tepat. Kita ini perusahaan legal secara humkum,” katanya.
Ketua aliansi masyarakat bersama gerakan rakyat dan pemuda Lengkiti, Josi Robet mengatakan bahwa pihaknya selaku masyarakat ring satu PT.GPB mendukung sepenuhnya pendirian pabrik semen PT.GPB demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Lengkiti.

Sementara itu Pihak Garda OKU menyuarakan "Kami siap mengawal sampai berdirinya PT.GPB dan beroperasi di wilayah Lengkiti. Kami mendesak pemerintah dan DPRD OKU untuk mendukung kemajuan Lengkiti dengan memberikan izin dan kemudahan kepada PTGPB. Jika ada suara-suara sumbang yang menolak pendirian pabrik semen, itu bukan suara masyarakat Lengkiti," teriak pendukung PT.GPB.

Kapolsek Baturaja Tina, AKP Syaharudin didampingi Kasat Pol PP OKU, Agus Salim meminta agar masyarakat yang mendukung perusahaan untuk menahan diri dan membiarkan terlebih dahulu pihak yang menolak menggelar aksi damai dan bertemu dengan pihak perusahaan untuk mencari jalan keluar atas permasalahan tersebut. 

"Saya minta warga yang mendukung menahan diri terlebih dahulu, jika kalian bersikeras menggelar aksi tandingan kami tidak menjamin keselamatan kalian, biarkan mereka menggelar aksi terlebih dahulu agar masalah ini bisa diselesaikan," pungkasnya. (Cah)
 
Top