GuidePedia


Langkat, Global Post – Keberadaan PT. Ukindo Belangkahan Pom (Palm oil mail) yang ada di desa Belangkahan, Kota Langkat Propinsi Sumatra Utara bukan menjaga kesehatan lingkungan, tapi justru sebaliknya, hal inilah yang sangat meresahkan dan mengecewakan masyarakat Kec.Kuala Kab. Langkat, provinsi Sumatera Utara.

Pasalnya diakibatkan aliran limbah yang dihasilkan oleh PT. Ukindo Belangkahan pabrik kelapa sawit ini bukan dibuatkan bak penampung sebagai ketentuan Analisa Dampak Lingkungan (Amdal), tapi justru dialirkan ke sungai.

Sementara keberadaan sungai tersebut sangat dibutuhkan untuk kepentingan masyarakat sekitar. “Jika PT. Ukindo Belangkahan membuang limbah tersebut maka, air sungai tersebut menjadi hitam dan gelap, ikan dan tumbuhan pada mati, ujar salah seorang warga yang kesal kepada Global Post.

Sejumlah masyarakat disekitar sungai merasa resah dan marah dengan tindakan perusahaan pabrik kelapa sawit yang membuang limbah seenaknya, dan masyarakat merasa resah akibat limbah PT. Ukindo yang di buang ke sungai tersebut sangat mencemari lingkungan, sehingga air sungai tidak dapat digunakan lagi.

Dikatakan mereka, masyarakat tidak bisa berbuat banyak, karena pabrik PT. Ukindo Belangkahan di bekingi oleh pihak kepolisian dari Polsek Kuala dan Satuan Brimob. “Pabrik kelapa sawit, dalam hal ini PT. Ukindo Belangkahan sengaja membuang limbah yang dihasilkannya kesungai. Padahal seharusnya limbah tersebut di simpan di kolam dengan menggunakan sistem intalasi pengolahan limbah yang terdiri dari kolam mixing, pom, anaerobik primer 1, anaerobik primer 2, anaerobik sekunder 1, fakulatif, anaerobik 1, indikator 1, sampai indikator 3. Karena sistem tersebut berguna sebagai tempat pengolahan limbah cair, ataupun menurunkan kadar polutan hingga sesuai dengan baku mutu limbah cair, sebelum dialirkan ke lahan atapun ke sungai. Tapi ini tidak sama sekali,” ujar salah satu warga kesal.

Pada hal peraturan ataupun refrensi sudah ditetapkan tahun 2003, tentang pedoman teknisi pengkajian pemanfaatan air limbah dan minyak kelapa sawit pada tanah dan air. Semua keputusan menteri dan peraturan – peraturan pengolahan limbah tersebut tak di indahkannya.

Sementara tentang pengolahan air limbah yang dihasilkan dari perusahaan pabrik kelapa sawit yang seharusnya mengikuti peraturan yang sudah ditetap dan yang sudah di putuskan oleh Pemerintah Republik Indonesia No. 23 Tahun 1997, tentang pengelolaan lingkungan hidup. Dan peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 28 Tahun 2001, tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air.

Sedangkan tentang pedoman syarat dan tata cara perijinan pemanfaatan air limbah industri minyak sawit pada tanah di perkebunan kelapa sawit yang sudah di putuskan dan sudah di tetapkan oleh Menteri Lingkungan Hidup No. 29 Tahun 2003 tersebut tak dihiraukan.

Ruang lingkup standar operasional prosedur (SOP) ini berlaku dalam kawasan pabrik minyak kelapa sawit PT. Ukindo Belangkahan menjadi tanggung jawab unit menager. 

Semua  peraturan dan perundang–undangan yang sudah diputuskan dan sudah ditetapkan oleh Menteri RI tentang pengelolaan air limbah yang dihasilkan, tidak dihiraukan oleh PT. Ukindo Belangkahan yang beroperasional diKec. Kuala Kab. Langkat, Sumatra Utara yang sudah diputuskan dan yang sudah ditetapkan oleh menteri negara lingkungan hidup.

Di minta kepada Menteri Negara Lingkungan Hidup RI agar segera bertindak dan menindak tegas terhadap perusahaan PT. Ukindo Belangkahan (palm oil mail) yang berada di Desa Belangkahan Kec. Kuala Pekan Kuala Kab. Langkat, Sumatra Utara yang dianggap telah menyalahi aturan dan perundang–undangan yang sudah diputuskan dan ditetapkan pada tahun 1997 no. 23 tersebut, oleh menteri negara lingkungan hidup RI.
Dimana sebuah peraturan dan undang – undang yang sudah diputuskan dan ditetapkan sebanyak 6 (enam) tata cara pengelolaan air limbah tersebut oleh menteri negara lingkungan hidup RI tak dihiraukan dan telah diabaikannya oleh PT. Ukindo Belangkahan. (Raswan)
 
Top