GuidePedia

Kita Jangan Kalah Oleh Teror

Tampaknya aksi terorisme kembali mengguncang negeri ini. Tepatnya di kawasan pusat perbelanjaan Sarinah di Jalan Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (14/1) siang, sejumlah bom meledak, menewaskan tujuh orang, terdiri atas lima pelaku dan dua korban warga sipil, termasuk satu warga negara asing. Polisi masih mengejar pelaku lain yang lolos. Dugaan sementara, mereka terafiliasi dengan jaringan Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS).
Kita mengutuk aksi biadab para teroris. Tindakan kekerasan bertentangan dengan ajaran agama mana pun. Aksi terorisme menyalahi fitrah dan nilai-nilai kemanusiaan. Itu sebabnya, kita mendorong aparat berwenang menangkap dan memproses para pelaku secara hukum, serta memberantas jaringan mereka hingga ke akar-akarnya. Dengan alasan apa pun, terorisme tak boleh ada, apalagi berkembang, di bumi Nusantara. Rakyat Indonesia tidak boleh takut, apalagi menyerah, kepada teroris.
Tentunya selain kita menyampaikan empati yang mendalam kepada para korban dan keluarganya kita juga mengecam keras atas apa yang dilakukan para teroris. Kita bersyukur aksi pengeboman di Jalan MH Thamrin tidak sampai membuat kolaps pasar saham dan pasar uang di dalam negeri. Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) "hanya" melemah 23,9 poin (0,52 persen) ke level 4.513,18. Sedangkan rupiah turun dari Rp 13.861 menjadi Rp 13.977 per dolar AS.
Meskipun banyak pihak sempat khawatir aksi terorisme membuat pasar keuangan di dalam negeri limbung. Setelah bom meledak, investor di lantai bursa memang panik dan melepas portofolionya, sehingga IHSG pada penutupan sesi I anjlok 77,859 poin (1,72 persen) ke posisi 4.459,32. Kekhawatiran terhadap kemungkinan "longsor"-nya pasar saham domestik cukup beralasan. Saat perdagangan dibuka, IHSG langsung turun 44,39 poin mengikuti pelemahan bursa regional sebagai imbas anjloknya harga saham di Wall Street.
Untugnya investor berubah sikap. Menjelang penutupan, mereka kembali masuk pasar dan memborong saham. Alhasil, IHSG tidak sampai terjun bebas. Begitu pula rupiah.
Meski demikian, di sisi lain, kita tetap prihatin karena sejumlah faktor positif di dalam negeri, seperti penurunan BI rate dari 7,5 persen ke 7,25 persen dan penawaran 10,64 persen saham divestasi PT Freeport Indonesia senilai US$ 1,7 miliar, tenggelam oleh hiruk-pikuk kasus bom di Jalan Thamrin.
Sikap para pelaku pasar yang tidak panik, tetap tenang, dan optimistis patut dipuji. Sikap tersebut mencerminkan kematangan para investor dalam menghadapi situasi yang sifatnya tak terduga (force majeure) seperti peledakan bom. Lebih menggembirakan lagi, investor domestik ternyata lebih bandel ketimbang investor asing. Ketika investor asing lari tunggang-langgang dari lantai bursa dan ramai-ramai melepas saham, investor lokal bertindak sebaliknya. Itu pula yang membuat IHSG tidak terperosok terlampau dalam.
Kita percaya, optimisme para investor, terutama investor lokalakan terus terpelihara di lantai bursa. Investor domestik tak lagi bermental gerombolan atau ikut-ikutan (herd mentality). Mereka bisa menjadi panutan (trendsetter) bagi para investor asing. Dengan begitu pula, pasar saham Indonesia akan lebih kebal dari guncangan, baik yang berasal dari eksternal maupun internal.
Sejatinya memang tak ada alasan yang kuat bagi para investor untuk mencemaskan kondisi keamanan di dalam negeri. Pemerintah punya komitmen yang sangat tinggi untuk membasmi terorisme dan memelihara keamanan. Aksi terorisme hanya dilakukan segelintir orang yang mengatasnamakan agama. Komitmen pemerintah didukung penuh rakyat. Masyarakat di Tanah Air sudah menganggap teroris sebagai musuh bersama. Lalu, bukankah ISIS juga sedang diperangi masyarakat internasional?
Di luar faktor keamanan, perekonomian nasional sedang diselimuti ekspektasi positif. Hal itu ditopang berbagai langkah yang ditempuh pemerintah untuk menyiasati perlambatan ekonomi global. Pemerintah sudah meluncurkan delapan paket kebijakan ekonomi yang segera disusul paket-paket berikutnya untuk mendorong sektor riil, meningkatkan investasi, memperkuat daya beli masyarakat, menekan ekonomi biaya tinggi, menggenjot ekspor, dan menguatkan rupiah. Paket stimulus pemerintah didukung paket kebijakan Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Untuk memacu pertumbuhan ekonomi nasional, pemerintah juga berjanji mengelola APBN 2016 secara lebih manageable. Melalui proses tender yang lebih cepat, diharapkan tidak ada lagi tradisi menggenjot belanja pada pengujung tahun yang menyebabkan APBN tak punya daya gedor terhadap pertumbuhan ekonomi. APBN 2016 pun lebih kokoh. Untuk mengejar target penerimaan pajak, pemerintah antara lain akan menerapkan Undang-Undang (UU) Pengampunan Pajak.
Kita yakin langkah-langkah pemerintah, BI, dan OJK untuk menggairahkan perekonomian segera membuahkan hasil. Karena itu, kita berkeyakinan asumsi pertumbuhan ekonomi yang dipatok dalam APBN 2016 sebesar 5,3 persen akan tercapai. Lagi pula, lembaga keuangan multilateral seperti Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan perekonomian dunia pada 2016 tumbuh 3,6 persen, lebih tinggi dibanding proyeksi tahun lalu sebesar 3,1 persen.
Optimisme bahwa prospek ekonomi tahun ini lebih cerah juga disokong keputusan Bank Sentral AS (The Fed) untuk menaikkan Fed funds rate (FFR) secara bertahap tahun ini sebesar 2,4 persen, melanjutkan langkah serupa pada Desember tahun lalu. Kebijakan The Fed telah memutus ketidakpastian selama ini. Kekhawatiran bahwa penaikan FFR bakal memicu pembalikan modal sudah diakomodasi pasar. Penaikan FFR adalah sinyal mulai pulihnya ekonomi AS. Jika AS pulih, ekonomi dunia tak lagi ringkih.
Dari faktor global, kita pun mendapat kabar baik bahwa ekonomi Tiongkok tahun ini akan lebih stabil sejalan dengan meningkatnya ekspor dan melebarnya surplus perdagangan. Kondisi itu akan semakin mempercepat pemulihan ekonomi global. Jadi, berkaca pada asumsi-asumsi tersebut, mengapa pula kita harus pesimistis, khawatir, apalagi cemas? (Red)
 
Top