GuidePedia

Belum Seriusnya Pemerintah Tangani Asap

Miris memang dengan apa yang tengah dihadapi bangsa ini terkait penanganan Bencana asap yang tak kunjung bisa diatasi. Hingga kemarin, kabut asap masih menghantui masyarakat terutama di Sumatera dan Kalimantan.

Bahkan, dampaknya makin meluas dan korbannya juga kian bertambah banyak. Lambatnya penanganan bencana ini lantaran pemerintah belum all out menghentikan kabut asap tersebut. Bahkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) beberapa waktu lalu mengumumkan dampak kabut asap bahkan sudah menyebar hingga langit Jakarta.

Selain itu, kabut tipis yang berasal dari kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera telah juga menutup sebagian wilayah di Banten, Jawa Barat, juga sebagian Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara. Di luar negeri, dampak asap juga sudah dirasakan masyarakat Malaysia, Singapura, Filipina, hingga Thailand. Fenomena ini tentu makin mengkhawatirkan jika pemerintah tidak segera mengambil langkah serius.

Bukan tidak mungkin, asap akan menyebar seluruh wilayah Nusantara dan ini tentu akan membahayakan kesehatan masyarakat. Tercatat sejauh ini sudah belasan orang meninggal karena terpapar asap. Sementara korban yang terkena penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga akhir September lalu jumlahnya 272.001 orang. Kenaikan kasus ISPA per minggu sudah berkisar angka 500 orang. Kita bisa membayangkan bagaimana masa depan anak-anak yang sudah berbulan-bulan terpapar asap.

Apa ada yang bisa menjamin kalau 10 atau 20 tahun ke depan mereka tidak terkena penyakit yang mematikan seperti kanker dan lainnya? Belum lagi jika menghitung potensi kerugian dari sisi ekonomi. Ini sungguh mengerikan. Fakta ini sebenarnya sudah bisa memberikan gambaran bagi pemerintah betapa seriusnya dampak bencana asap tersebut.

Pemerintah pusat memang sudah melakukan beberapa upaya untuk menghentikan kabut asap. Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga sudah mengunjungi kawasan hutan yang terbakar di Kalimantan. Bahkan, dia sempat berjalan- jalan ditengah hutan yang sedang terbakar. Jokowi juga sudah mengunjungi Jambi, Sumatera Selatan dan Sumatera Barat untuk memantau penanganan Asap. Namun, langkah pemerintah ini masih kurang maksimal karena hingga saat ini bencana asap masih belum bisa diatasi.
Tak berlebihan, jika ada yang menyebut langkah Jokowi yang berjalan di tengah hutan yang terbakar lebih sebagai upaya ”pencitraan”.

Toh sampai sekarang kebakaran hutan masih belum bisa tertangani maksimal, meskipun dibeberapa daerah sudah ada diguyur hujan. Namun di tengah bencana asap yang makin meluas, Presiden Jokowi justru melakukan lawatan ke Amerika Serikat Oktober lalu membuat banyak pihak menyesalkan lawatan itu. Kunjungan Jokowi ini dinilai kurang tepat di tengah kondisi Indonesia yang sedang menghadapi masalah bencana asap yang makin serius. Jokowi seharusnya membatalkan atau menunda ke lawatannya ke Paman Sam sampai masalah asap bisa diselesaikan, tapi apa mau dikata, yang sudah ya sudah-lah! Ke depan kita lebih mawas diri.

Bisa saja Jokowi mencontoh langkah Presiden AS Barack Obama yang tiba-tiba membatalkan kunjungannya ke Indonesia dan Australia pada medio Juni 2010 lalu. Saat itu, batalnya kunjungan tersebut lantaran Obama ingin berkonsentrasi menangani krisis tumpahan minyak di Teluk Meksiko. Sekalipun Jokowi  sudah menugaskan Wakil Presiden dan Menko Polhukam untuk menangani asap. Namun, tetap saja hal itu tentu berbeda maknanya.

Kehadiran Jokowi di Tanah Air sangat diperlukan sebagai tanda keseriusan dan kepedulian pemerintah pusat terhadap masyarakat yang terkena asap. Bencana asap kini sudah sangat memprihatinkan. Karena itu, sudah waktunya pemerintah menetapkan masalah tersebut menjadi bencana nasional. Penanganan asap tak bisa lagi hanya diserahkan ke daerah karena dampaknya sudah menasional.

Dan tidak boleh pula Pemerintah terus-menerus bersembunyi di balik ”kesalahan” pemerintah sebelumnya, dengan menyebut kabut asap ini merupakan kejadian langganan tiap tahun. Di sisi lain, aparat hukum harus serius mengusut tuntas semua pihak yang terlibat dalam pembakaran hutan ini. Hal ini penting agar ke depan tidak ada lagi yang berani membakar hutan hingga muncul bencana asap seperti yang tengah kita alami saat ini.

Terlebih masalah asap ini juga sudah menjadi isu lintas negara yang kalau tidak segera ditangani serius bisa memperburuk citra Indonesia di forum internasional. Fenomena ini tentunya juga akan mengganggu diplomasi pemerintah Indonesia di forum internasional. Karena itu dibutuhkan langkah nyata dan serius dari pemerintah untuk segera menangani masalah asap ini bukan semata-mata karena hubungan bilateral antar Negara tetangga, tapi lebih pada keselamatan anak bangsa. (Red)
 
Top