GuidePedia

Indramayu, Global Post -  Pelaksanaan program untuk mengantisipasi kekeringan ditahun 2016 mendatang yang saat ini tengah dilakukan Pemerintah Daerah (Pemda) kabupaten Indramayu, yakni pembuatan embung atau cekungan penampung air yang difungsikan ketika musim kemarau tiba ternyata mengeluarkan anggaran yang tidak sedikit dan dirasa kurang efektif pemanfaatannya.

Hal tersebut diungkapkan  Hatta, Selaku Sekda LIRA (Lumbung Informasi Rakyat) kabupaten Indramayu, ditemui dikediamannya kala itu, Pada Kamis(19/11/2015), menerangkan, untuk tahun 2015 ini, pemkab akan membuat embung sebanyak 20 titik di tiap kecamatan yang dominasinya lahan pertanian di kabupaten Indramayu, dengan nilai anggaran sebanyak Rp 40 miliar, berarti untuk satu pembuatan embung bernilai sekitar Rp 2 miliar.

Selanjutnya akan kembali membuat embung di 25 titik berikutnya dengan nilai anggaran yang lebih banyak lagi, yaitu sebesar Rp 50 miliar untuk pelaksaannya. Dengan total jumlah anggaran  sebanyak Rp 90 miliar, yang didapatkan  dari pengajuan anggaran pemkab Indramayu ke pemerintah pusat, untuk dua tahun anggaran, yakni, anggaran tahun 2015 dan 2016, yang seluruhnya diperuntukkan guna pembuatan embung di 45 titik dikabupaten Indramayu,” terang Hatta.

Namun Hatta beranggapan, bahwa program pembuatan embung dinilainya tidak tepat, karena pada dasarnya kekeringan pada tahun 2015 ini  juga dikarenakan adanya faktor  kurangnya  perhatian pemkab untuk lebih dapat mengoptimalkan setiap aliran sungai maupun anakan sungai beserta waduk atau danau buatan yang ada dikabupaten Indramayu.

Hatta yang juga sebagai aktivis lingkungan itu, memaparkan kondisi sungai yang ada dikabupaten Indramayu sudah harus di revitalisasi, agar didapat fungsi sungai yang memiliki daya tampung volume air yang lebih besar, sehingga mampu untuk mengantisipasi banjir tahun ini dan mencukupi kebutuhan air baku  yang diperuntukkan bagi seluruh masyarakat Indramayu dimusim kemarau mendatang,” tandasnya.

Dikeluhkan Sekda LIRA itu, bahwa Jika melihat nominal anggaran yang begitu fantastis, seharusnya pemkab lebih jeli dalam menentukan apa yang seharusnya perlu di perhatikan, dianggarkan, dan dipercepat pelaksanaannya, dengan melihat fungsi serta manfaat yang terlebih daya gunanya dapat menjadi kebutuhan hidup masyarakat secara merata,” jelasnya.

Maka dari itu dirinya berharap, agar pemkab bekerja sama dengan dinas ataupun pihak-pihak terkait, untuk secara cepat dan tanggap melakukkan pengoptimalan seluruh sungai, anakan sungai maupun waduk atau danau buatan yang ada, dengan segera dilakukan normalisasi sebelum hujan dengan intensitas yang lebih besar mengguyur, sehingga dapat mengoptimalkan fungsi sungai tanpa harus menganggarkan program yang belum tentu dapat dirasakan manfaatnya.

Ditambahkan Hatta, bahkan  terlebih dalam pembuatan embung hanya berdampak buruk, yang biasanya berujung konflik dikarenakan adanya pembebasan lahan untuk tahap pembuatannya, pungkas Hatta, sekaligus mengakhiri pembicaraan saat itu, Kamis (19/11/2015). (Sihabudin)
 
Top