GuidePedia

Depok, Global Post - Jelang Pilkada serentak 9 Desember 2015 tinggal hitungan hari, khususnya untuk pilkada Kota Depok yang hanya diikuti dua pasangan calon (paslon) walikota-wakil walikota Depok. Paslon nomor 1. Dimas Oky Nugroho-Babai Suhaimi diusung oleh PDI-P, Golkar, Nasdem dan PPP. Sedangkan Paslon nomor 2 . Idris Somad dan Pradi Supriatna diusung oleh PKS dan Gerindra. Suasana di Depok agak sedikit memanas, pasalnya ada bererapa spanduk dipasang diberberapa titik di Kota Depok, kampanye hitam atau SARA.

Namun dalam hal ini yang menjadi korban adalah pasangan calon (paslon) Nomor 1. Dimas Oky Nugroho-Babai Suhaimi. Serangan berupa spanduk yang bertuliskan Haleluya…Puji Tuhan… Ayo sukseskan satu kelurahan satu Gereja itu tersebar diberberapa titik di Kota Depok dan media sosial.

Calon walikota Depok, Dimas pada saat dikonfirmasi hal tersebut usai acara dialog interaktif dengan para wartawan di gedung Sekar Peni, Dimas menilai hal tersebut berpotensi mengancam dirinya, sebab, spanduk itu dipasang di wilayah yang masyarakatnya sangat kuat  dalam bidang pendidikan dan keagamaan. Otomatis warga akan berpikir seribukali untuk memilih pasangan yang diusung PDIP Golkar dan PPP tersebut.  “Kami merasa dirugikan, katanya.

Kendati tidak secara spesipik menyebut pihak dibalik serangan SARA itu, dimata Dimas menegaskan tidak akan tinggal diam, dia sudah melaporkan ke Panitia Pengawas Pemilihan Kepala Daerah (Panwasda) Depok. Bahkan timnya yang mengkaji temuan spanduk SARA tersebut sudah melaporkan ke kepolisian. Dimas pun mendesak  Panwaskada menindak lanjuti temuan ini. “Siapapun pelakunya adalah penjahat demokrasi dan penjahat bangsa,” tegasnya.

Menurut Dimas, segala isu SARA jelang Pilkada Depok  harus dilawan. Sebab, isu tersebut bisa memicu kebencian konstituen terhadap calon walikota-wakil walikota. Isu ini jelas menghina akal sehat warga Depok yang selama ini menhargai nilai toleransi beragama, tandasnya. (Jopi) 
 
Top