GuidePedia


Batam, Global Post – Pelaksanaan wisuda Universitas Batam yang direncanakan digelar pada pertengahan November 2015 mendatang rencananya akan ada penggantian Topi yang selama ini segi lima atau segi empat menjadi Peci yang sudah dimodifikasi dengan bagus dan indah dengan sematan pin Uniba di samping kanannya. Toga wisuda tetap ada dengan warna bukan hitam lagi namun berwarna dasar biru benhur dengan lis berwarna emas.di beri matros dan tali medali berwarna seperti tahun 2014 sebelumnya.

Meski demikian Toga tetap ada, tidak ada penggantian Toga  hanya topi wisuda yang di ganti menjadi peci. Sebenarnya aturan mengenai toga ini pun tidak ada dan dibenarkan bahwa seiap perguruan tinggi dipersilahkan untuk berkreasi sendiri sesuai dengan budaya /adat /muatan lokalnya.

Topi wisuda yang dipakai selama ini, baik itu segi empat atau pun segi lima adalah budaya atau ciri khas Amerika yang di sebut “mortarboatd”. Mortarboatd ditemukan oleh penemu Amerika Edwardo, Relly dan Yosep Durham pada tahun 1950. Mortarboatd biasanya pakai tassel atau jambul/tali yang dipindahkan dari kiri ke kanan, namun tidak semua perguruan Tinggi di Amerika yang memindahkan dari kiri ke kanan seperti mahasiswa pascasarjana (S2), biasanya membiarkan saja tassel ini di sebelah kiri sewaktu wisuda.

Sebenarnya Topi wisuda (Mortarboard) bukanlah budaya Indonesia, Topi adalah budaya Barat. Topi dulunya mempunyai Arti dan nilai bagi lulusan perguruan Tinggi, namun saat ini topi wisuda  bukan lagi untuk lulusan perguruan Tinggi, tapi sudah digunakan untuk lulusan Anak-anak PAUD dan TPQ yang mereka sendiri belum tau arti apa-apa mengenai pakaian topi toga yang mereka pakai tersebut, sehingga arti dan filosofinya sudah hilang.

Universitas di Batam bukanlah institusi pertama yang melakukan penggantian topi wisuda dengan peci. Beberapa perguruan Tinggi lain sudah lebih duluan menggantikannya dengan peci, seperti Perguruan Tinggi (PT) di Aceh, PT di Lampung dan beberapa Perguruan Tinggi kedinasan milik pemerintah. Tidak ada aturan untuk menggunakan topi segi lima pada waktu wisuda, sehingga bisa saja diganti  menurut budaya setempat. Penggantian topi kepada peci ini disimbolkan sebagai simbol nasionalisme atau simbol kesatuan bernegara dan dengan penggunaan peci sebenarnya kita sudah melestarikan budaya Indonesia. Bukan lagi meniru-niru budaya asing.

Uniba berlokasi di tanah Melayu di pulau Batam, peci atau disebut kopiah adalah pakaian nasional orang melayu yang bahkan di pakai di Malaysia dan Brunai Darussalam  atau disebagian Thailand Selatan, dipakai untuk berbagai upacara di negara tersebut. Peci bukanlah identitas agama, dan bukan juga tanda kemusliman atau kesalehan seseorang. Peci kini sudah menjadi budaya formal rakyat Indonesia, sudah menjadi simbol nasionalsme  dan milik Bangsa Indonesia. Pada berbagai upacara kenegaraan, pelantikan pejabat Negara, anggota DPR dan DPRD, pelantikan pimpinan Instansi atau pelantikan kepala-kepala SKPD sudah menggunakan peci.

Peci sudah menjadi simbol kepribadian Indonesia dan simbol nasionalis Indonesia. Peci sebagai budaya melayu simbol kepribadian bangsa dan nasionalisme Indonesia yang di perkenalkan Presiden RI pertama Soekarno saat berumur 20 tahun  dalam rapat jong java di Surabaya pada bulan Juni 1921. Soekarno berani waktu itu untuk memakai peci dan tidak mau mengekor pada budaya Barat. Kemudian Soekarno mempopulerkan lagi peci saat membacakan pledoinya Indonesia menggugat di pengadilan  landraaad  Bandung pada tanggal 18 Agustus 1930 dengan memakai peci, dan bahkan Soekarno selalu memakai peci dimanapun dia berada pada setiap kegiatan.

Pemakain peci pada wisuda di Universitas Batam pertama kali dimulai  pada wisuda 15 November 2014 lalu, dan saat itu sebatas hanya untuk pimpinan saja, lalu kemudian untuk wisuda tahun ini adalah untuk seluruh pimpinan dan wisudawan di wajibkan pakai peci, mahasiswa sudah tahu semenjak wisuda tahun yang lalu. mereka juga sudah melihat foto foto nya. Pemakaian peci wisuda Uniba bukanlah peci hitam, namun dengan dasar biru benhur selaras dengan warna toga, dengan lis kuning emas, dimodifikasi dengan baik seperti tahun 2014 yang lalu yang sudah dipakai pimpinan.

Peci akan tetap digunakan pada wisuda pertengahan November 2015, yayasan dan rektorat sudah berkomitmen untuk melestarikan budaya bangsa sekaligus budaya melayu tanah tempat berdirinya universitas Batam. Bagi mahasiswa yang tidak ingin untuk memakai peci, silahkan untuk tidak ikut wisuda. Wisuda juga tidak wajib, mereka pun sudah di yudisium, sudah dinyatakan lulus dan ijazahnya pun sudah ada.

Memang perlu direnungi dan diresapi bersama guna melestarikan budaya sendiri dan menolak budaya asing, memerlukan komitmen yang kuat, semangat pantang menyerah serta doa, sebab pasti akan menemui banyak rintangan dan tantanngan, baik dari internal sendiri atau dari pihak eksternal. Demikian dikatakan Prof. Dr. Ir. Novirman Jamarun, MSc, selaku Rektor Uniba, Senin (12/10) lalu. (Tombang)
 
Top