GuidePedia

Bandung, Global Post - DPRD Jawa Barat berharap setiap pelaku kekerasan terhadap anak diberi hukuman yang setimpal. Hukuman tersebut harus memberi efek jera agar kejadian tersebut tidak terus terulang.

Ketua DPRD Jabar Ineu Purwadewi Sundari berharap hukuman yang dijatuhkan kepada pelaku kejahatan anak bisa memberi efek jera. Meski menimbulkan pro dan kontra, hukuman pengebirian bisa dilakukan jika memberi efek jera bagi pelaku. "Siapa pun yang merusak masa depan anak, harus dibuat jera, agar tidak terulang lagi. Itu yang harus digaribawahi," kata Ineu di Gedung Sate, Bandung, Senin (12/10).

Oleh karena itu, Ineu berharap usulan hukuman pengebirian ini menempuh kajian yang matang. "Kami berharap nantinya hukuman pengebirian ini jadi efektif. Dengan pengebirian bisa membuat jera," katanya.

Lebih lanjut Ineu katakan, jumlah kekerasan terhadap anak yang terungkap jauh lebih sedikit dibanding yang tidak terungkap. "Masih banyak yang belum melaporkan, tidak terungkap," katanya.

Hal ini dianggap mengkhawatirkan karena anak sebagai penentu masa depan. Maka dari itu, kata Ineu, DPRD Jabar akan mendukung penuh upaya perlindungan terhadap anak. "DPRD Jabar mendukung upaya perlindungan anak. Agar ke depan lebih baik lagi karena anak adalah generasi penerus bangsa," pungkasnya.
Gubernur Jabar Ahmad Heryawan mendukung usulan Menteri Sosial terkait hukuman kebiri bagi pelaku kejahatan seksual kepada anak anak. Heryawan pun menilai, hukuman kejahatan seksual kepada anak-anak harus memberi efek jera bagi pelakunya.

"Pada dasarnya hukuman itu diberikan untuk membuat efek jera. Kalau kemudian rumusannya dari sebuah hukuman yang bisa membuat efek jera itu dikebiri, ya enggak apa-apa. Tapi itu jalan terakhir," kata Heryawan.

Heryawan menilai, kondisi kejahatan seksual terhadap anak-anak memang sudah sangat memprihatinkan. Menurutnya, harus ada hukuman yang tegas sehingga kejahatan tersebut tidak terulang.

Lebih lanjut Heryawan katakan, selama ini Pemprov Jabar melalui P2TP2A Jabar terus berupaya untuk menanggulangi permasalahan tersebut. "Di kita ada Satgas P2TP2A, sudah banyak yang dilakukan. Termasuk bagaimana mengembangkan gerakan 20 menit orang tua mendampingi anak," katanya. (Herman. S)
 
Top