GuidePedia

Jakarta, Global Post 
Sebuah undangan pesta kelulusan dengan bikini sebagai dress code atau busana yang ditentukan membuat geger pihak sekolah. Salah satunya adalah pihak dari SMA Negeri 24 Jakarta yang namanya tertera dalam undangan elektronik yang menyebar di berbagai media sosial belakangan ini.

Wakil Kepala Sekolah SMA Negeri 24 Bidang Kesiswaan Erni Surwati mengungkapkan bahwa pertama kali dia tahu soal undangan itu dari kepala sekolah.

Kepala Sekolah SMA Negeri 24 dapat info tersebut dari sebuah grup chatting yang beranggotakan para kepala sekolah di Jakarta.

"Kaget sekali ada yang kayak gitu-gitu ya. Tadi kepala sekolah tanya ke kami terus langsung dirapatkan," kata Erni, Kamis (23/4/2015) pekan lalu.

Dikatakan Erni, dari hasil rapat kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dan para wali kelas, diputuskan beberapa hal yang pada intinya melarang siswa-siswi kelas XII mengikuti acara tersebut.

Jika ketahuan ada yang ikut atau berpartisipasi, pihak sekolah akan langsung memberikan sanksi tegas. "Pastinya kita akan beri sanksi, nanti sanksinya apa, kita rapatkan lagi," ucap Erni.

Dalam poster undangan bentuk elektronik tersebut, tertera tema acaranya adalah "Splash After Class" yang diadakan pada hari Sabtu (25/4/2015) pukul 22.00 WIB. Acaranya diadakan di The Media Hotel, tepatnya di area kolam lantai enam gedung tersebut. Turut disertakan beberapa baris info kontak yang bisa dihubungi dengan nama penyelenggara Divine Production, dari akun Instagram, Twitter, sampai nomor telepon seluler.
Di bagian bawah poster, juga ada tulisan beberapa SMA dan SMK di Jakarta dan sekitarnya yang mendukung acara tersebut, salah satunya SMA Negeri 24.

Terkait hal itu, Erni menegaskan bahwa SMA Negeri 24 tidak tahu-menahu soal acara tersebut, apalagi untuk mendukung penyelenggaraan pesta itu. "Kita kalau membuat acara pasti harus formal dan enggak aneh-aneh ya," ujar Erni.

Menurut Erni, siang ini (Kamis, 23/4 – red) kepala sekolah di Jakarta tengah berkumpul di kantor Dinas Pendidikan DKI Jakarta untuk merapatkan dan menyikapi undangan pesta bikini itu.

Sementara buntut undangan “Pesta ikini” membuat Dinas Pendidikan DKI Jakarta keluarkan kebijakan baru menyikapi atas perilaku para murid kelas 12 menjadi sorotan setelah beredarnya pemberitaan tentang undangan "pesta bikini" dengan mengeluarkan surat edaran yang mengatur larangan untuk beberapa kegiatan bagi mereka yang baru saja menyelesaikan ujian nasional (UN).

"Murid kelas 12 yang habis UN dilarang buat pesta-pesta, konvoi dengan sepeda motor, dan berbagai bentuk bullying. Kalau ada yang melakukan hal-hal itu, maka akan jadi pertimbangan dalam penentuan kelulusan para murid," tutur Sekretaris Dinas Pendidikan DKI Jakarta Bowo Irianto, Jumat (24/4/2015).

Ketentuan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Dinas Pendidikan DKI Jakarta Nomor 33/SE/2015 tentang Dinamika Peserta Didik Pasca-Pelaksanaan Ujian Nasional.

Surat itu nantinya akan diteruskan ke semua sekolah yang ada di Jakarta. Selain itu, Dinas Pendidikan DKI juga akan mengundang pihak orangtua murid untuk menyosialisasikan isi dari surat edaran tersebut.
Bowo menjelaskan, dengan adanya peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang baru, UN bukan lagi dijadikan penentu kelulusan.

Lulus atau tidaknya seorang murid ditentukan dalam rapat oleh dewan guru di sekolah masing-masing. Dengan demikian, perilaku murid pasca-UN sangat berpengaruh terhadap keputusan dewan guru untuk menentukan kelulusan.

"Kita berharap ke depannya sudah tidak ada lagi yang merayakan terlalu berlebihan setelah selesai UN," ujar dia. (Well/Kompas.com)
 
Top