GuidePedia



Hj. Lely Husna Bantilan, S.Sos

Tolitoli, Global Post - Marak pemeliharaan burung walet di tengah perkotaan Tolitoli, berakibat membuat  banyak  warga masyarakat jadi resah atas kebisingan suara walet tersebut, ditambah lagi sebagai pemicu pada kerusakan keindahan kota.

Demikian dikatakan Kepala Badan Perizinan kabupaten Tolitoli, Provinsi Sulawesi Tengah Hj. Lely Husna Bantilan, S.Sos. Menurutnya saat ini pihaknya belum bisa melarang dan mengambil tidakan tegas terhadap pemilik sarang burung walet. “Sebab kita masih menunggu dulu Raperda yang di susun oleh dua Dinas terkait, yakni Dinas peternakan dan perindustrian. Kalau sudah ada aturan main yang  jelas dan mempunyai dasar hukum yang kuat tentunya kita tidak tinggal diam serta menginstruksikan kepada pihak yang berwenang untuk melakukan penutupan tempat tempat pemeliharaan sarang burung walet yang berada di tengah kota,” ujarnya.

Dia juga menyadari bahwa selama ini pemilik sarang burung walet sangat merugikan pihak pemerintah daerah. Selain tidak jelas restribusinya,  juga merusak keindahan kota. Tahun 2014 Ia sudah pernah melarang bahkan sudah ingin menutup semua tempat tempat pemeliharaan sarang burung walet, bahkan dibuatkan surat peryataan kepada pemilik sarang burung walet. “Badan perisinan berani mengeluarkan izin kalau ada rekomendasi dari tata ruang. Perizinan hanya sifatnya mengeksekusi saja,” tegas Lely.

Sementara menurut sumber yang tidak mau dikorankan namanya mengatakan, pihak perizinan tidak perlu ragu dalam melakukan penutupan terhadap peternak  sarang burung walet, sebab sudah mengganggu keindahan kota serta kebisingan. Bahkan bisa jadi ada akibat  penyakit yang  ditimbulkan pada manusia, cuman belum ada hasil penelitian yang menyatakan sarang burung akan membahayakan bagi manusia. “

Seharus pemerintah harus berani melakukan penutupan, sebab sudah ada dasar aturan yang jelas sekali, seperti pengalihan IMB, pengalihan HO, pengalihan pengelolaan izin lingkungan dan pengaduan lingkungan, serta perda tata ruang No.16 tahun 2012. Sementara para peternak burung walet hanya mengunakan izin rumah toko (ruko). Kenapa pemerintah harus menunggu perda yang dibuat oleh dinas peternakan dan perindutrian, sedikitpun mereka tidak punya kekuatan. Cuman masyarakat juga  menyadari sebab hampir rata rata peternak sarang burung walet adalah mata sipit alias Cina,” katanya. (Sar)
 
Top