GuidePedia

Bekasi, Global Post
Anggota DPRD Tidak Serius Memperjuangkan Kesejahteraan Masyarakatnya
Refomasi telah dimaknai sebagai suatu tuntutan perubahan cepat dan kebebasan tanpa batas, sedangkan globalisasi dimaknai sebagai sebuah tuntutan untuk dapat mencapai kemajuan dalam kehidupan dengan segera, ujar, Agus Salim, pemuda yang bertempat tinggal di Kecamatan Bekasi Utara. Dapil VI, saya mengharapkan semua Anggota DPRD Pusat dan Daerah, harus lebih serius memperjuangkan kesejahteraan warganya, baik pendidikan, kesehatan, hukum dan keamanan, maupun pembangunan insprastruktur jalan, draenase, sarana prasarana umum, termasuk soal transparansi dalam menjalankan tiga fungsinya sebagai Anggota Dewan. Legislasi, Anggaran (budgeting) dan Pengawasan.

Perlu ada konsep-konsep program pembinaan dan pengembangan kapasitas generasi muda yang disusun dan dilaksanakan secara sinergi dan simultan mencakup berbagai sektor, dengan sebanyak-banyaknya menyerap aspirasi dan mengakomodasikan berbagai kepentingan serta aspirasi masyarakat, dan melibatkan banyak elemen maupun komponen bangsa. Untuk strategi dalam pemberdayaan pemuda.  

“Karena tanpa adanya kerterlibatan banyak pihak, maka untuk memposisikan pemuda sebagai legislasi pelaku pembangunan bidang sosial akan mengalami hambatan untuk mencapai hasil optimal,” kata Agus Salim, Pengurus, Lembaga Pemantau Penyelenggara Negara Republik Indonesia, Kota Bekasi, kepada Global Post.

Masih kata Agus Salim, Pembinaan dan pengembangan kualitas sumberdaya pemuda tersebut, tidak bisa secara eksplisit hanya menitik beratkan pada  sektor sosial budaya sebagai sektor tujuan yang ditargetkan dalam memposisikan pemuda sebagai pelaku legislasi pembangunan bidang sosial budaya, bagaimana sektor-sektor lain seperti pendidikan, ekonomi, dan politik, akan berpengaruh terhadap perkembangan sektor sosial budaya.     

Namun demikian, tambah Agus Salim, pemuda  kelahiran Tebing Tinggi Deli Sumatera Utara ini lebih jau memaparkan, tanpa  bermaksud  mengesklusifkan sektor sosial budaya sebagai sektor terpenting, namun secara faktual menunjukkan, bahwa sektor ini memiliki ruang cakupan yang sangat vital bagi terciptanya stabilitas, karena di dalam sektor sosial budaya ini terdapat aspek pembinaan dan pegembangan moral serta mental attitude yang sangat diperlukan untuk memperkokoh dan sebagai standar karakter kepribadian bangsa Indonesia.

Agus Salim berharap, semua steakholter mampu menjadi pengendali seluruh sektor kegiatan pembangunan dari kemunginan terjadinya penyimpangan.  Terbukti tanpa adanya landasan moral dan kepribadian yang kuat, berbagai penyimpangan dalam pembangunan akan mudah terjadi, seperti kondisi yang kita alami saat ini akibat  melemahnya moral, kepribadian dan munculnya sikap ingin serba instan, cepat dalam meraih kepuasan diri, maka kegiatan penyimpangan masih saja terjadi. 

Padahal, tambah Agus Salim, Bangsa Indonesia dikenal oleh masyarakat internasional sebagai bangsa yang memiliki karakteristik budaya khas ketimuran yaitu bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral, sopan santun, ramah, berbudi pekerti halus, serta agamis. Namun dewasa ini, ketimuran tersebut mulai turun bahkan mengalami ancaman yang sangat berat karena kadar nilai moral melemah, dan terjadinya krisis jati diri dari kepribadian pada sebagian masyarakat.

Ditinjau secara makro, bisa dilihat melemahnya kadar nilai moral dan terjadinya krisis jati diri serta kepribadian sebagian masyarakat tersebut, tidak terlepas karena telah terjadinya bisa pemahaman terhadap makna reformasi dan globalisasi oleh masyarakat, katanya. (AS) 


 
Top