GuidePedia

   Bangunan bendung yang jebol bagian dari proyek bangunan pengambilan air baku yang berlokasi di daerah   Gunung Cupu dan Sungai Citanduy Ciamis

Ciamis, Global Post - Proyek Bangunan Pengambilan Air baku melalui Kementrian Pekerjaan Umum Balai Besar Wilayah Sungai Citanduy (BBWS) yang dilaksanakan dari Tahun 2010 sampai tahun 2013 dengan nilai anggaran ± 20 Milyar dari APBN, kini menemui berbagai banayak pertanyaan masyarakat, pasalnya bangunan tersebut belum bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Kab. Ciamis, padahal sudah 1 tahun lebih proyek tersebut telah melaksanakan kewajibannya terhitung dari kontrak tahun 2013 lalu.
Diduga kuat adanya kegagalan bangunan sebagaimana tertuang dalam UUD Jasa Konstruksitahun 1999. Atas kejadian ini akan menimbulkan kerugian Negara karena bangunan tidak bermanfaat.

Saat ditemui Direktur PDAM Tirta Galuh Ciamis, Cece selaku Plt mengatakan mengenai pelaksanaan Proyek Bangunan Pengambilan Air Baku di Gunung Cupu,  pihaknya memang yang mengajukan ke Kementrian  Pekerjaan Umum, namun yang melaksanakan dan sebagai kuasa anggaran BBWS Citanduylah yang lebih berkaitan, “saya hanya menerima bangunan tersebut itupun kalau sudah dapat berfungsi alias dapat digunakan dan sampai saat ini kami belum serah terima. Terlebih kalau masalah pelaksanaan pekerjaan saya tidak tahu, silahkan saja tanyakan langsung kepihak BBWS Citanduy,” katanya.

Sementara ditempat terpisah saat ditemui dikantornya Sutiman selaku Bidang Pelaksanaan diruangannya lebih jauh memaparkan, “pada awalnya saya menerima usulan dari PDAM Ciamis Bangunan Pengambilan Air Baku, namun karena keterbaasan anggaran terpaksa membuat skejul anggaran secara bertahap untuk pelaksanaannya dari mulai tahun 2010 sampai tahun 2013 proyek tersebut dilaksanakan, namun setelah selesai ternyata banyak kebocoran–kebocoran pipa yang harus diperbaiki termasuk jebolnya bangunan bendungan, adapun biayanya masih ditanggung pihak pemborong. Diakuinya keterlambatan itu karena medan cukup berat dimana kontur tanah di Ciamis banyak turunan dan tanjakan sehingga menyulitkan pekerjaan dilapangan.

Apalagi ini kan sistem Grafitasi yang mana mengandalkan ketinggian Air harus bisa mengalir dengan sendirinya ketempat tujuan. “Harapan saya pekerjaan ini bisa cepat selesai dan janganlah melihat kebelakang, saya bekerja demi kepentingan masyarakat. Kemudian bahwa yang namanya kegagalan bangunan tentunya ada unsur–unsur tertentu, namun kalau ini kan masih dalam tahap perbaikan,” paparnya.
Menanggapi permasalah ini Lembaga Pemerhati Kebijakan Publik Asep menilai adanya kejanggalan dalam pelaksanaan dari mulai tahapan anggaran yang pengerjaan tiap tahunnya untuk pipa, terlebih kenapa kontrak sudah selesai masih ada perbaikan–perbaikan,  padahal masa pemeliharaan pun hanya 180 hari, mengapa sudah 1 tahun lebih proyek tersebut belum juga bisa dipergunakan oleh PDAM dan belum diserah terimakan. Diduga kuat atas pelaksanaan pekerjaan ini adanya kegagalan bangunan antara kesalahan perencanaan atau kesalahan dalam pelaksanaan, lengkapnya. Ditambah lagi dengan kejadian jebolnya bangunan bendung salah satu bagian dari proyek tersebut, tidak ada kajian karena dinyatakan dengan bencana alam. (Guanwan) 
 
Top