GuidePedia

Gunung Sitoli, Global Post
Madrasah dibawah naungan kementerian Agama (Kemenag), tetap memberlakukan kurikulum 2013 (K-13) untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Bahasa Arab. Sedangkan Mata pelajaran (Mapel) Umum mengikuti kurikulum Tingkat satuan pendidikan (KTSP) atau kurikulum 2006.

Kepala Madrasah Aliyah Negeri  (MAN) Gunung Sitoli Alfian Afif Putra mengatakan, PAI merupakan Mapel khas dari Madrasah. “K-13 kami nilai lebih baik untuk diterapkan, kami juga ingin menciptakan ilmu yang berkarakter, terutama pada Mapel PAI dan bahasa Arab,” jelasnya.

Pemberlakuan dua kurikulum tersebut memang sangat mempengaruhi tingkat semangat belajar siswa dan juga Guru Pengajar  “tentu pengaruhnya ada dari jam pelajaran karena struktur belajar siswa berkurang dan otomatis jadwal Guru mengajar berkurang,” terang Alfian Afif.

Keluhan dari Guru masih seputar evaluasi penilaian yang mencakup dua hal, evaluasi proses dan hasil. “Penilaian yang mudah dilakukan jika sudah masuk dalam program, Guru tinggal  mengikuti program tersebut,” Papar Alfian.  

Adanya perubahan K-13 secara otomatis memberikan dampak psikologis pada dunia pendidikan, tidak terkecuali para orangtua. “Harus kembali menyesuaikan diri dengan sistem yang ada, serta orangtua juga perlu mendukung pada anak akan pentingnya pendidikan,” ucapnya.

Sebagai kepala sekolah Alfian Afif tetap mengikuti apa yang sudah menjadi keputusan pemerintah. “Kebijakan Pemerintah ini pasti memiliki manfaat positif bagi dunia pendidikan, jika harus kembali ke KTSP, tetap mengajar apa yang pernah dijalankan sebagai pengalaman,” ujarnya.

Ia menambahkan, K-13 bukan sebagai pengganti KTSP, tetapi sebagai pengembangan kurikulum yang sudah ada, kurikulum 2013 dan juga kurikulum 2006 tetap diberlakukan sesuai dengan surat edaran Direktorat Jenderal Pendidikan Madrasah Kementerian Agama RI. (Tm/Sz)
 
Top