GuidePedia

Garut, Global Post
Menjelang Konferensi Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Garut 30 Januari nanti, sejumlah ulama menggelar pertemuan bertajuk Sarasehan dan silturahmi.  Salah satunya adalah pertemuan yang digelar pimpinan ponpes Assadah Limbangan KH Amin Muhidin dan pimpinan ponpes Fauzan KH Aceng Abdul Wahid.

Acara ini dihadiri oleh 250 peserta yang terdiri dari sesepuh pesantren dan 33 Majelis Wakil Cabang (MWC)  NU ini diketahui kedua pimpinan ponpes ini adalah satu paket calon ketua PCNU  dalam konferensi NU nanti.

KH Aceng Abdul Wahid akrab dipanggil Ceng Wahid adalah calon ketua Tandfiziyah NU, sedangkan KH Amin Muhidin yang akrab dipanggil Ceng Mimin adalah calon Rois Suriah PCNU Garut.

"Saya tidak mencalonkan tapi dicalonkan oleh beberapa MWC, di belakanganya para ulama dan guru saya, Insya Allah sudah 33 MWC mendukung saya," ujar Ceng Mimin.

Ceng Mimin menuturkan, jika dirinya terpilih yang akan dilakukan adalah semata mata untuk kemajuan NU. Meluruskan dulu NU, mengembalikan NU ke relnya, baru nanti pada program kerja. "Sekarang rel NU Garut kurang pas, NU berkesan condong ke partai politik tertentu, kental berpihak itu kurang pas bagi kami," tegasnya.

Dalam AD ART NU tidak boleh berpihak, harus menjaga jarak yang sama ke parpol manapun. Menurut Ceng Mimin akibat terlalu kental berpihak, NU tidak besar malah jadi kerdil. Menurutnya satu parpol itu artinya kotak kecil, masuk ke parpol berarti NU menjadi kecil, "Semua Parpol di mata NU itu sama."

Ceng Mimim mengatakan, bobot NU itu masalah aqidah dan amaliyah. Dirinya akan membina masalah aqidah aswaja dari mulai pengurus PC, MWC dan masyarakat. Visinya adalah menjam’iahkan  jamaah, menahdohkan nahdliyin. Artinya Nahdliyin jangan tidur tapi harus bangkit, "Jamaah banyak dimana mana tapi belum tentu NU, padahal semua kulturnya adalah NU."

Intinya kembali ke khitah 26, kata Ceng Mimin. Khitahnya adalah tidak berpihak kemanapun, tidak ke parpol manapun. Secara garis besar diatas kertas 70% dari penduduk Garut adalah warga NU.
"Untuk NU Garut yang kurang action, tanya pada pengurus NU yang sekarang," tegasnya.
NU itu aswaja dan tidak bermusuhan dengan siapapun, tidak ada tabrakan tidak radikal atau arogansi. Dirinya akan membina NU kedalam (Internal), tidak akan dulu mengurus orang luar, supaya nantinya warga NU melek dan tahu jati diri NU.
Di tempat yang sama, calon ketua Tanfidziyah Ceng Wahid menuturkan Sebagai kader kalau sudah dicalonkan maka dirinya harus siap, "Secara pribadi saya sangat siap!"
Menurutnya Dewan Syuriah adalah pemegang kebijakan, tanfidziyah sebagai pelaksana, melaksanakan apa yang menjadi kebijakan Dewan Syuriah.
"Saya harus membesarkan NU, karena Kondisi NU saat ini sebagian sedang tidur, walaupun NU adalah mayoritas. Kalau saya dipercaya, saya akan mengajak umat bersama elemen lain untuk membangun Garut kedepan lebih maju lagi," tukasnya. (Syaiful Noor)
 
Top