GuidePedia

Barus, Global Post 
Warga nelayan Tradisional Bagan dan Nelayan Kecil Barus belakangan ini kembali resah, warga nelayan resah akibatkan mengganasnya Kapal ikan pukat tarik di zona perairan pantai Barat Barus sekitar 2 atau 2, 5 mil dari pantai. Kapal ikan pukat Tarik Berpapan yang beroperasi setiap hari, siang dan malam hari menguras ikan hasil laut kawasan tangkap boat nelayan tradisional diduga illegal. 

Salah seorang warga Nelayan Barus yang enggan menampakkan jati dirinya kepada wartawan mengatakan, sesuai keluhan warga boat penangkap ikan nelayan tridisional, akibat bebasnya kapal ikan pukat harimau dan teng di kawasan itu mengakibatkan hasil tangkapan ikan nelayan tradisional berkurang, sebelum beroparasinya kapal pukat  ini hasil pendapatan nelayan tradisional masih dapat mencukupi hidup mereka, katanya.

Tetapi, setelah mengganasnya kapal pukat  ini, hasil tangkap ikan nelayan tradisional jauh berkurang, sehingga nelayan tradisional cemas tidak akan mendapat kebutuhan hidup dari hasil ikan laut tangkapan mereka. Oleh karena itu warga nelayan tradisional meminta aparat terkait di Dinas kelautan maupun Perikanan melakukan penertiban kapal pukat harimau dan tank yang beroparasi secara illegal.

“Kita memperkirakan bahwa jumlah kapal pukat illegal yang beroparasi di kawasan Zona perairan terlarang mencapai sekitar 20 kapal, ini perlu dilakukan tindakan oleh aparat terkait, sehubungan oparasi kapal penangkap ikan illegal ini bertentangan dengan Kepres 39 Tahun  1979,” katanya

Dikatakannya lagi, dengan bebasnya kapal pukat beroparasi di kawasan terlarang di zona kawasan tangkap boat nelayan tradisional, kuat dugaan semua aparat keamanan laut mendapat uang tutup mata setiap bulannya, agar puluhan kapal pukat  ini tidak ditangkap.

Diantara puluhan pemilik kapal pukat illegal berbobot 5 s/d 20 GT ini warga Barus disebut-sebut Tokke dan untuk menindak lanjuti keluhan warga nelayan tradisional di Barus akan menyurati semua aparat terkait, terutama keamanan laut tingkat daerah dan pusat. (Shs)
 
Top