GuidePedia


Tampak Jerialita Restiana, Sekretaris Redaksi Global Post saat berkunjung pada pesta Festival Perayaan Tabot 2014. (Foto: Red)

Bengkulu, Global Post
Ada yang rutin ditemukan pada ‘khazanah’ tradisi di Indonesia selama mengisi sepuluh hari bulan Muharram. Beberapa perhelatan massal kerap ditemui rutin di beberapa kota besar. Acara yang digelar tiap tahunnya ini diikuti oleh hampir sebagian besar umat muslim, baik di perkotaan maupun di pelosok dengan usungan tradisi yang berbeda-beda nama. Sebut saja dua macam yang mewakilinya, yaitu perayaan Tabot di Bengkulu dan perayaan Tabuik di Padang, Sumatera Barat.

Dua jenis tradisi ini sangat dikenal di masyarakat dan selalu menyedot antusias masyarakat. Uniknya, hal ini sudah dibakukan menjadi salah-satu ‘aset’ yang memiliki nilai daya-jual dalam mengundang minat para wisatawan agar bertandang ke daerah yang telah mencanangkan diri sebagai tujuan obyek wisata tersebut. Wajar bila instansi pemerintah yang terkait, juga ‘turun-tangan’ dalam program yang bisa mendongkrak popularitas budaya dan pariwisata daerahnya tersebut.

Iven tahunan ini diharapkan agar pemerintah propinsi dan pemerintah kota Bengkulu ke depan bisa lebih berperan maksimal untuk menyukseskan agenda tahunan ini. Sehingga Festival yang akan datang diharapkan mampu untuk mengangkat khazanah budaya dan pariwisata di Bengkulu.

Serupa dengan Bengkulu yang tengah bersiap mempercantik daerahnya sejak 2 tahun lalu, dimana perayaan Tabuik juga dikatakan selalu ‘laku’ dalam menarik minat masyarakat. Terbukti dari setiap tahunnya, perayaan bernuansa religi  ini tak pernah sepi dari kunjungan masyarakat. Konon, dahulunya perayaan yang sudah dimulai sejak tahun 1824 ini dilakukan oleh para pedagang Islam yang berasal dari Aceh, Bengkulu, India, bahkan negeri Arab.

Selain itu, tabot juga sebagai tradisi adat yang diperkenalkan oleh para ahli bangunan yang saat itu bekerja dalam membangun  benteng Marlbourght di Bengkulu. Mereka juga disebut masyarakat Sipai, berasal dari daerah Madras dan Bengali. Dari sebagian mereka yang ‘kerasan’ berkehidupan di Bengkulu lah tradisi perayaan Tabot bermula.

Kata ‘Tabot’ berasal dari bahasa Arab yang berarti sebuah kotak atau peti. Seperti tertera keterangan di surat al-Baqarah di ayat ke-248 bahwa tabut adalah sebuah peti yang berisikan kitab Taurat yang dapat membawa ketenangan kepada kaum nabi Musa as yaitu bani Israil. Kala itu bani Israil sangat mempercayai bahwa tabut akan mampu memberikan kebaikan selama berada di kekuasaan pemimpin mereka, namun bila tabut itu raib, maka kegoncangan dan bala-bencanapun diyakini akan menimpa kehidupan mereka. Oleh karena itulah, mereka amat menjaga tabut ini dan menjadikannya sebuah ritual hingga kini.

Di setiap perayaannya, jumlah tabut yang diusung tak hanya satu, namun bisa mencapai puluhan yang biasanya terdiri dari belasan peti yang dianggap sakral dan puluhan peti yang dikreasikan dengan bentuk bebas. Yang menjadi daya-pikatnya adalah kemasannya yang sangat attractive dan dibentuk sedemikian rupa dengan berbagai ornamen warna-warni yang amat mencolok-mata—membuat center-piece inipun disukai masyarakat yang tetap mengikutinya hingga perayaan berakhir.

Selain itu, pengarakan tabut-tabut yang penuh kemeriahan inipun disandingkan dengan perayaan hari kematian Husain bin Ali bin Abi Thalib, salah-seorang cucu Rasulullah saw yang tewas pada 10 Muharram 681 M dalam menghadapi pasukan Ubaidullah bin Ziyad di daerah Padang Karbala, Irak.

Diyakini oleh masyarakat Bengkulu yang aktif mengikuti perayaan ini bahwa perayaan Tabot memiliki ragam nilai, baik dari segi agama, sejarah, sosial, maupun budaya. Ditilik dari sudut agama katanya ritual ini merupakan ikut bersuka-citanya akan kehadiran bulan Muharram, selain itu menanamkan rasa cinta sekaligus duka-cita yang mendalam atas terbunuhnya Husain ra. Dari sudut sejarah, ia mengingatkan akan peristiwa Asyuro’ di Padang Karbala yang sangat menyayat hati dan mengundang kemurkaan.

Sementara jika dilihat dari sisi sosial, perayaan Tabot dipercaya dapat menumbuhkan sikap kebersamaan serta rasa solidaritas yang tinggi. Dan untuk sisi budaya, ia merupakan aset kebanggaan yang menjadi salah-satu ciri perkembangan tradisi di Bengkulu sejak ratusan tahun lalu.

Ditinjau dari alasan itulah, maka kegiatan tahunan ini juga mendapat perhatian serius dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata propinsi Bengkulu. Seperti dikatakan salah satu tokoh masyarakat Kota Bengkulu bahwa festival Tabot tersebut sudah mendapat dukungan lembaga pemerintah setempat yang salah-satu bentuk dukungannya adalah dengan penggalangan dari sudut promosi untuk disyiarkan melalui media massa, sehingga gaungnya semakin meluas.

Dikatakannya pula bahwa perayaan Tabot menjadikan adanya ‘hubungan emosional’ dengan dunia internasional, yaitu Irak  dengan sejarah tragedi di Padang Karbalanya dan Iran dengan pesta Asyura’nya.

Perayaan Tabuik atau Tabot
Adapun ritual yang terdapat di dalam perayaan Tabuik di Sumatera Barat dan Tabot di Bengkulu ini diantaranya adalah upacara Maatam Panja yang dilaksanakan tanggal 7 Muharram dan ditunaikan setelah sholat dzuhur. Ritual ini dikerjakan dengan mengitari sebuah daraga sambil menangis sebagai tanda duka-cita atas terbunuhnya Husein ra. Ada pula ritual Maarak Panja, yaitu pengarakan sebuah kubah yang terbuat dari bambu dan kertas, dimana kertas ini digambari jari-jari yang terputus, yang diseolahkan jari-jari Husein ra yang telah dipotong pada peristiwa Karbala. Kubah tersebut akan diarak mengelilingi kampung dan mengisyaratkan kesedihan akan tewasnya cucu Rasulullah tersebut. Kemudian di keesokkan harinya ada ritual Maarak Sorban, yaitu pengarakan yang menggambarkan peristiwa kepala Husein ra yang telah dipenggal dan juga memperlihatkan kekejaman Yazid bin Muawwiyah.

Sedianya, bangunan-bangunan bambu tersebut diusung hingga ke laut untuk dihanyutkan di hari terakhir yaitu hari ke-10 Muharram, bertepatan ketika waktu adzan maghrib dikumandangkan. Perhelatan ini tentu saja selalu membuat suasana kota ‘tanduk kerbau’ itu menjadi ramai bahkan padat karena kunjungan. Momen ini juga dimanfaatkan sebagian besar pedagang untuk menjajakan barang dagangan yang mereka peroleh laba karenanya.

Para pedagang tampak bersemangat atas hasilnya yang lumayan karena padatnya pengunjung, sehingga merasa adanya ‘berkah’ dari perayaan ini. Apalagi ritual terakhir Hoyak Tabuik yang sisa-sisanya menjadi obyek rebutan massa karena dianggap dapat mendatangkan berkah dan bisa dijadikan ‘penglaris’. Dari sisi lain, salah-seorang tokoh masyarakat kota Pariaman menyatakan bahwa perayaan Tabuik merupakan salah-satu tradisi kebanggaan untuk masyarakatnya, bahkan dikatakannya pula bahwa tradisi tersebut telah menjadi alat pemersatu bagi masyarakat daerah tersebut sehingga dibuat komitmen agar tradisi perayaan Tabuik sejatinya akan terus langgeng.

Pesta Asyura’

Hari Asyura’ merupakan hari dimana dahulunya Allah Ta’ala telah menyelamatkan nabi Musa as dari kejaran Fir’aun beserta bala-tentaranya. Sebagai rasa syukurnya, nabi Musa as melakukan shaum pada tanggal tersebut, yaitu 10 Muharram. Mengenai perihal ini, terdapat satu hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas ra, yang artinya lebih kurang ; sewaktu Rasululloh saw tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi shaum pada hari Asyura’. Lalu beliau bertanya, “Apakah ini?” Mereka menjawab, “Hari ini adalah hari yang baik, hari yang Allah telah selamatkan bani Israil dari musuh mereka. Kemudian, nabi Musa shaum. Lalu Rasululloh saw bersabda, “Aku lebih berhak terhadap nabi Musa dari kalian (orang Yahudi)”. Kemudian, beliau shaum dan memerintahkan (para sahabat) supaya berpuasa pada hari tersebut.” (HR. Bukhari-Muslim).

Disisi lain, Abu Qatadah menyebutkan bahwa Rasulullah saw juga bersabda, yang artinya, “Dan (dalam) shiyam hari Asyura’, aku berharap kepada Allah agar hal itu dapat menebus dosa dari tahun yang sebelumnya.” (HR. Muttafaqun ‘alaihi). (Lik/Red/Ggl)
 
Top