GuidePedia

Sukabumi, Global Post
Meskipun keberadaan SD di Sukabumi ini sudah cukup lama berdiri. Namun dari tahun ke tahun, kondisinya bukan tambah membaik, melainkan memburuk. Kerap diledek mirip kandang kerbau. Yesika (8) tampak semangat menyusuri jalanan setapak kecil nan berliku dipenuhi semak-semak liar untuk menimba ilmu di sekolah kebanggaannya SDN Cibeas, Kampung Sangrawayang, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, sekira pukul 07.15 WIB, Jumat (31/10/2014) lalu.

SD dengan 130 siswa itu hanya berdinding papan kayu dan lantai semen seadanya. Meski secara fisik tak ada yang bisa dibanggakan, Yesika masih bersyukur karena bisa belajar berhitung, membaca, dan menulis. “Punya banyak temen. Pak gurunya baik semua. Paling nggak suka kalau hujan, airnya netes sampai tas dan buku basah,” tutur bocah kelas 3 itu polos.

Bukan hanya atap bocor yang dikeluhkan Yesika, melainkan pengapnya udara. Maklum atap SD tersebut terbuat dari seng. Suhu di kelas bikin gerah. SD berjarak sekitar 15 km dari pusat pemerintahan itu didirikan warga pada tahun 2001. Ide itu tercetus karena SD terdekat dari perkampungan berjarak 3 km. Itu pun harus melalui jalan setapak, bukit curam, dan hutan.

“Kita bangun secara swadaya. Kalau jalan kaki kasian anak-anak harus lewat hutan,” jelas Simal (64), salah satu pencetus berdirinya SD Cibeas. Perjuangan warga terwujud. Imas Masraham (42), guru honorer ditunjuk sebagai pendidik sekaligus kepala sekolah. Awalnya, siswa duduk di lantai tapi kondisi membaik setelah ada kursi dan meja.

Pada tahun 2010, sekolah tersebut didaftarkan dan mendapat akreditasi C. “Tidak ada PNS di sekolah ini. Paling tinggi statusnya honorer,” lanjut Simal. Simal mengaku sudah jenuh mengajukan bantuan ke Disdik. Hampir tiap tahun proposal dilayangkan, namun bantuan tak kunjung datang. “Pernah datang orang dinas tapi cuma nengok. Nggak ada tindak lanjutnya,” katanya bernada kecewa.

Hal senada diungkap Yaya Jow (38), anggota komite sekolah. Terdesak kebutuhan, warga pernah menggunakan anggaran Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) untuk mempermak sekolah. Dana hanya cukup untuk membangun 2 ruang kelas yaitu kelas 1 dan 2.

Ruang kelas 3 dan 4 disatukan, hanya dibatasi sekat. Sedangkan kelas 5 dan 6 terpisah sendiri. Kondisi papan bolong-bolong. Lantai semen rusak karena injakan. Sebagian mengelupas dan berdebu.

“Saya prihatin, suka banyak yang ledek dan bilang kalau sekolah ini mirip kandang kerbau,” tutur Yaya Jow. Warga berharap pemerintah turun tangan. Sebab, warga kesulitan dana. Siswa-siswi SD Cibeas adalah generasi penerus bangsa. (Riz/dtc)
 
Top