GuidePedia

Global Post
Agusli Ilyas, petugas Penitia Penyelenggara Ibadah Haji di Daerah Kerja Jeddah punya segudang cerita tentang tingkah polah jemaah haji Indonesia selama di tanah suci. Di sela kegiatan, ia sering mengenang kelakuan jemaah, dari yang usil mengerjainya sampai yang membuatnya panik.

Saat menceritakan suka duka melayani jemaah, Agusli terkenang jemaah wanita asal Solo yang kebingungan mencari toilet di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Di plaza bandara yang terdiri dari lima lokasi A sampai E, berderet ratusan toilet. Biasanya toilet laki-laki dan perempuan bersebelahan. Masing-masing toilet terdiri dari 18 pintu. Meski cukup banyak, jika yang datang ratusan jemaah, toilet terasa sempit dan sesak.

Nah, kata Agusli, saat itu si ibu bertanya kepadanya di mana letak toilet perempuan. Dengan sopan, ia pun menunjukkan lokasinya. Namun Agusli sempat merasa heran, karena meski sudah ditunjukkan arah dan lokasinya, si ibu masih saja kebingungan. Bahkan sampai tiga kali memutari toilet. "Si ibu saya datangi dan komplen 'kok nggak ada buat perempuan, semuanya laki-laki. Kok pakai kerudung semua, tapi berjenggot'. Si ibu rupanya kebingungan, karena petunjuk gambar laki-laki dan perempuan mirip. Bedanya hanya di jenggot," kata dia.

 Pesan Konjen untuk Petugas Haji Jeddah yang Akan Kembali ke Tanah Air

Setelah dikasih penjelasan, si ibu akhirnya masuk ke toilet perempuan. Tapi tidak sampai semenit ia ke luar lagi dan bertanya kenapa toilet tidak ada airnya. "Saya tanya, sudah dicoba belum. Dia bilang sudah diputar, diketok, ditekan nggak bisa juga. Saya tanya, yang mana. Si ibu lalu menunjuk salah satu kamar mandi. Saya nyalakan keran, tiba-tiba air menyemprot dari atas. Saya basah kuyup. Rupanya si ibu usil saja, dia sudah tahu sebetulnya bagaimana menggunakan keran," kata Agusli.

Lain waktu, ada jemaah melapor kehilangan salah satu jemaah di kloternya. Agusli dan petugas di bandara panik. "Kita putar-putari bandara, kita kerahkan mobil golf mencari kemana-mana. Kami terus pastikan ke jemaah yang melapor. Rupanya bukan jemaah yang hilang, tapi dia sendiri yang kehilangan rombongannya. Jadi sebetulnya jumlah jemaah lengkap," kata dia.

Agusli juga menceritakan keharuannya atas sikap ratusan jemaah dari kloter 23 Ujung Pandang. Saat pemulangan dan mengantar jemaah ke gate imigrasi, tiba-tiba 300 jemaah menyalaminya, tua muda mencium tangannya. "Aduh saya risih, apa-apaan ini. Masak jemaah tua-tua nyium tangan saya. Saya jadi terharu sekali, sebab ini kejadian tidak biasa. Sambil cium tangan mereka menyampaikan terima kasih," kata Agusli.
Agusli pun penasaran, usut punya usut, ternyata sikap jemaah menyium tangannya karena ada 'sesuatu'. "Saya sebetulnya sudah ge-er, ternyata nggak tahunya jemaah puas dan senang bukan karena saya layani, tapi karena barang bawaannya lolos semua hahahaha. Rupanya entah bagaimana sweeping barang oleh petugas Garuda yang biasanya ketat, tidak berjalan seperti biasanya. Saya sendiri nggak sadar  barang bawaan mereka lolos semua, kalau mereka tak ngomong," kata dia.

Cerita lain yang disampaikan Agusli tentang dua jemaah wanita kakak beradik dari kloter 18 Ujung Pandang. Dua jemaah ini masih muda, antara 18 tahun sampai 20 tahun. Dan, tentu saja cantik. Saat itu fase kedatangan jemaah. Ia heran karena salah satu petugas bernama Cecep Kosasih yang biasanya sibuk, terlihat anteng di satu tempat.

"Begitu tahu ada jemaah cantik dan masih muda, petugas lain akhirnya berebut memegang nomor rombongan. Yang tidak berhasil tak mau kalah, saat penghitungan jemaah ketika sampai di jemaah itu selalu pura-pura lupa hitungan, jadi diganti petugas lain. Begitu sampai dua jemaah itu, petugas lupa lagi, berulang-ulang ganti-gantian. Kita harus bawa senang kalau melayani jemaah," kata Agusli. (VIVA.co.id )
 
Top