GuidePedia

Surabaya, Global Post
Beberapa karya siswa SMK seperti mobil esemka di kota Solo dan sepeda pemadam kebakaran di Jakarta telah populer dan berhasil diproduksi dalam jumlah banyak. Namun sayang, hal itu tampaknya tidak berlaku bagi karya-karya siswa SMK di Jawa Timur. Meski berbagai karya dengan nilai ratusan juta telah diciptakan, namun hingga kini karya-karya tersebut hanya terkatung-katung tak bermanfaat.


Tercatat ada lima karya siswa SMK yang pernah diciptakan di bawah naungan UPT Pelatihan dan Pengembangan Pendidikan Kejuruan (PPPK) Dinas pendidikan Jawa Timur. Diantaranya ialah 3 buah motor gede (Moge), satu unit pemadam kebakaran (PMK) mini dan satu unit becak tenaga surya. Total anggaran yang digunakan untuk membuat karya tersebut diperkirakan mencapai Rp 102 juta.


Salah seorang instruktur di UPT PPPK Dindik Jatim Agus mengatakan, karya-karya tersebut hanya berguna untuk pameran dan pada saat ada kunjungan saja, padahal, pada saat dipamerkan karya siswa SMK ini banyak yang minat dan ingin membeli.


“Kalau orang tau itu tidak dijual, Orang yang ingin membeli selalu bilang, untuk apa dipamerkan kalau tidak dijual," tutur Agus.


Ia juga mengakui, jika karya SMK ini sesungguhnya layak jual dan sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Misalnya saja mobil PMK mini, di jalan yang sempit seperti di surabaya ini, dia mengatakan PMK tidak akan mampu menjangkau masuk.Tapi sayang ide membuat PMK ini hanya berhenti menjadi sebuah karya siswa SMK. Selebihnya tidak ada kelanjutannya yang lebih bermanfaat untuk masyarakat. 


"Memang kita fokus disini untuk melatih siswa SMK agar kompeten dan mampu diandalkan oleh dunia industry kedepannya. Tapi jika memang karya siswa ini sebenarnya pantas untuk diproduksi banyak," tutur dia.


Agus berharap, ke depan karya-karya yang telah dilahirkan oleh para pelajar dapat direspon lebih lanjut oleh pemerintah. Sebab, sayang jika ide yang sudah berbuah karya itu tidak dimanfaatkan.


"Biarkan saja kami yang membuat ide dan prototypenya disini. Silahkan yang lain jika ingin mengembangkan. Kami sudah cukup senang jika ide ini akhirnya benar-benar bermanfaat," ujar dia.


Sementara itu menurut Kepala UPT PPPK Dindik Jatim Drs. Sumardijono Msi, untuk membuat satu karya itu membutuhkan waktu berbulan-bulan. Misalnya saja PMK mini, butuh waktu 3,5 bulan dan Moge SMK yang pertama kali dibuat SMK Jatim membutuhkan waktu pembuatan sampai 3 bulan. Anggaran yang dikeluarkan menurutnya tidak terlalu besar. sebab, sebagian besar mesin dan bahan material telah ada di UPT PPPK.


"Kita menggunakan mesin dari mobil bekas yang lama tidak pernah dipakai. Jadi harga pembuatannya relatif lebih murah," tutur Mardijono.


Menurut dia, karya siswa SMK yang terdapat dikantornya tersebut memang pantas untuk diproduksi massal. Namun demikan, dia sama sekali tidak berharap jika proses produksi massal ini akan ditangani olehnya. "Di UPT PPPK ini tidak berhak untuk memiliki Pendapat Asli Daerah (PAD). Karena kami tidak ingin fokus untuk peningkatan mutu pendidikan, bukan untuk mencari PAD, tutur pria yang hobi merawat burung berkicau.


Produksi massal karya siswa SMK ini menurutnya terbentur pada tataran kebijakan. Jika saja bapak Gubernur bersedia untuk memproduksinya secara massal, ini dimungkinkan bisa dilakukan. Jadi Pilot Project yang sudah dibuat oleh siswa SMK ini silahkan digunakan oleh lembaga lain untuk diperbanyak. Bisa saja untuk dibagikan ke daerah ataupun di jual ke pasaran.


“Sebenarnya jika karya-karya siswa SMK ini layak untuk dipasarkan.Tapi semua tergantung kebijakan gubernur. Dan kami akan tetap fokus untuk membuat Pilot Project karya siswa SMK lainnya," tutur dia.


Saat ini, Sumardijono mengaku tengah menggarap Vespa dengan roda tiga yang mirip dengan kendaraan ATV. Dia berharap, karya ini dapat menarik perhatian masyarakat terhadap pendidikan kejuruan atau SMK. "Tunggu saja nanti launchingnya pasti baik sekali karya anak-anak SMK ini,” tutur dia. [PUL]
 
Top