GuidePedia

Kota  Tasikmalaya, Global Post

Sejak  diresmikan   beberapa  tahun yang  lalu  hingga  saat  ini  terminal Tipe A  Indihiang Kota Tasikmalaya masih juga belum berfungsi secara optimal dan tetap sepi. Padahal biaya yang dikeluarkan untuk membangun terminal tersebut konon katanya  terbesar dan termegah se-Priangan Timur serta menjadi kebanggaan pemerintah Kota  Tasikmalaya  itu (kalau bagi  masyarakatnya belum tentu).
 
Tidaklah sedikit  para  pedagang di kios-kios yang berada di dalam komplek terminal  mengeluhkan sepinya pembeli (konsumen), karena para penumpang angkutan umum lebih   memilih atau pun turun di pool-pool BUS  tertentu. 

Selama  ini  kendaraan BUS masuk keterminal belakangan  ini hanya melintas tanpa menaikan dan  menurunkan penumpang di terminal, apalagi  setelah  salah  seorang  keluarga    pengusaha BUS masuk di  jajaran pejabat/peminpin  Pemerintah Kota Tasikmalaya.

Sebagian kalangan  menuding kurang berfungsi dan sepinya terminal tipe A tersebut  dikarenakan telah terjadinya konspirasi antara pengusaha Bus dengan pihak  pejabat pemerintah, sehinga menyimak kondisi tersebut di atas ada baiknya kita melakukan evaluasi secara  obyektif, komprehensip dan profesional mulai sejak perencanaan pembangunan terminal semegah itu  sudah  merupakan kajian yang dapat  dipertanggung  jawabkan ? 

Apakah program proyek tersebut  merupakan keperluan publik yang sifatnya mendesak dan sesuai dengan kebutuhan saat itu, sehinga harus mendapatkan prioritas untuk segara di lakukan ? Ataukah hanya sekedar pencitraan pejabat saat itu yang merasa bangga mampu membangun fasilitas/insprasstuktur yang megah dan “Wah” sebagai proyek mercuswar sekalipun tidak akan  berfungsi secara efektip dikemudian  hari ? 

Jikalau kita Flasback  kebelakang, sebelum  dibangun terminal tipe A Indihiang, pada  masa  kepeminpinan walikota dan wakil H. Sarip bersama H. Dede telah ada terminal  Cilembang yang masih merupakan aset milik Kabupaten Tasikmalaya dan berfungsi secara normal sebagai mana biasa. Bahkan para pedagang yang ada disekitar terminal pun asik–asik saja berusaha  dengan lancar serta  pedagang  pun merasa ada kemajuan dari pendapatan. Namun  tiba-tiba saat Pemkot Tasikmalaya memprogramkan untuk membangun terminal baru dilokasi  yang sekarang terbangun terminal  tipe  A Indihiang. 

Padahal ketika itu Pemkot Tasikmalya dalam kondisi masih kekurangan dan banyak  membutuhkan sarana dan prasarana gedung kantor pemerintahanya. Seandainya pertimbangan  Pemkot  Tasikmalya  saat  itu, lebih  baik  memanfatkan dan  membenahi terminal yang  ada [terminal Cilembang-red] dan  dana yang  ada  digunakan  sebagai konpensasi pengambil alihan  gedung kantor milik Pemkab Tasikmalaya yang ada di kota, dari pada dipakai untuk  membangun terminal baru  di Indihiang [terminal  tive A]. 
Menurut penulusuran kami akan  lebih efektif dan bermanfaat bagi masyarakat banyak, mengingat soal penyerahan aset dari Pemkab  Tasikmalaya ke Pemkot Tasikmalaya hingga kini masih belum tertuntaskan, sehubungan Pemkab Tasikmalaya sangat kekurangan dana untuk  gedung perkantoran di pusat  pemerintahan  yang baru di Singaparna.

Kasus sepi dan tidak berfungsinya terminal tipe A Indihiang harus di pandang  dari aspek pelayanan publik dan tidak hanya sekadar dari aspek pendapatan asli daerah [PAD] Pemkot   Tasikmalya, jika publik tidak merasa berkenan naik turun BUS di terminal dan lebih baik memilih di Pool, apalagi sekarang di  Kota  Tasikmalaya sudah banyak pool, berdampak pada naik turun penumpang di termianal sangat kurang. Hal ini terlihat berdasarkan pemantauan tim Global Post dilapangan hingga, Jumat (26/07) masih terlihat sangat sepi baik pengunjung  dalam hal ini penumpang, maupun bus yang masuk  dan keluar sangat jarang.

Diakui oleh petugas keamanan dishub yang ada di terminal tipe A IIP mengatakan  bawa penumpang BUS  hari  ke 16 puasa ini sangat menurun dari hari-hari biasanya yang biasanya bus Budiman jurusan Tasik - Jakarta sehari semalam biasa mencapai 24 armada  sekarang paling 12 armada yang berangkat disebabkan kurangnya  penumpang, sama  dengan bus-bus lain juga, ungkap dia. 

Bagi publik sendiri yang diharapkan adalah mendapatkan pelayanan yang mudah, murah, cepat, tepat dan efesien atas segala keperluanya, termasuk  angkutan  umum  untuk bepergian. (Asep M/Herman  Budiyyono)

 
Top