GuidePedia


Memaknai Hari Kemerdekaan
Memaknai Kemerdekaan menjadi sangat penting bagi siapa pun. Tidak hanya kemerdekaan dalam urusan pribadi, tetapi terlebih dalam berbangsa dan negara. Masyarakat Indonesia harusnya wajib bangga terhadap perjuangan para pahlawan. Tidak hanya terhadap duet pemimpin tertinggi pertama Indonesia Soekarno-Mohammad Hatta, tetapi juga kepada mereka yang ikut mengangkat senjata melawan penjajah.

Karena itu, dalam menghadapi HUT ke-68 Republik Indonesia (RI) 17 Agustus 2013, sewajarnyalah kita sebagai anak bangsa ikut menyemarakkannya, meski hanya sekadar mengibarkan bendera di depan kediaman masing-masing. Kemerdekaan yang dideklarasikan Presiden dan Wakil Presiden RI pertama, Soekarno-Hatta, 17 Agustus 1945 harus dimaknai sedemikian rupa.

Sebagai bangsa Indonesia, kita wajib berterima kasih kepada para pendahulu yang telah berjuang dengan berbagai cara, bahkan tak sedikit yang gugur, demi melepaskan negeri ini dari cengkeraman dan belenggu penjajah. Perang, kemudian melanjutkan dengan diplomasi di arena internasional, kini kita menikmati kemerdekaan. Tidak hanya bebas dari penjajah, tetapi bebas bersuara. Sebagai bangsa merdeka kita memiliki harga diri, sejajar dengan bangsa-bangsa lain.

Kita pantas bangga menyaksikan upacara kemerdekaan yang digelar secara kenegaraan, baik di Istana, di gubernuran, atau di perkantoran pemerintah lainnya. Tentu saja dengan harapan upacara tersebut tidak berhenti sampai acara seremonial. Harus ada tindak lanjut, yang tergambar dari kinerja.

Sebagai penyelenggara negara, penentu kebijakan, pemerintah tidak cukup hanya bicara soal keberhasilan. Kemerdekaan bagi masyarakat tidak cukup hanya dengan alasan telah menjamin kebebasan masyarakat mengemukakan pendapat, tetapi kemerdekaan yang dikehendaki lebih dari itu. Seperti kemerdekaan mendapat pendidikan, pelayanan kesehatan, hidup layak, dan banyak lainnya. 

Pemerintah juga harus menjamin keamanan masyarakat, menjadikan hukum berlaku bagi siapa pun, menjamin keamanan kekayaan negara, serta lainnya. Jangan jadikan kata kemerdekaan sebagai alasan untuk berbuat semaunya, demi kepentingan pribadi, penyelewengan jabatan, dan hal-hal jahat lain. Kemerdekaan tidak boleh kebablasan dalam arti negatif.

Kemerdekaan yang kebablasan kerap terjadi di negeri ini. Itu harus diluruskan penguasa negeri, seperti narkoba yang bebas masuk bahkan diproduksi di komplek penjara, peredaran senjata api ilegal, juga bebasnya sederet oknum eksekutif dan legislatif, bahkan yudikatif korupsi, merongrong kekayaan negara. Semua harus dibenahi.

Berbagai kejadian akhir-akhir ini membuktikan bahwa pemerintah terbukti tidak berdaya dari berbagai rongrongan. Bukti terbaru adalah tertangkap tangannya Kepala Satuan Kerja Khusus Minyak dan Migas (SKK) Migas Rudi Rubiandini oleh KPK terkait kasus suap, di samping sederet kasus hukum besar lainnya. Sepantasnya semangat kemerdekaan mendorong pemerintah membersihkan negeri, termasuk membabat tanpa pilih kasih pejabat yang kotor.

Melalui momentum Dirgahayu Republik Indonesia ke 68, seyogyanya kita harus berintrospeksi, lalu menatap hari depan dengan penuh semangat. Jadikan Hari Kemerdekaan sebagai wahana kebangkitan  dalam mengisi kemerdekaan yang telah dicapai. (Red)
 
Top