GuidePedia


Jakarta, Global Post 
Aksi Pemerasan dan perampasan hak para narapidana di rumah tahanan (penjara) Kabupaten Kerinci selama bulan suci ramadhan kian merajalela. Ironisnya pelaku kejahatan tersebut dilakukan oleh oknum bernama Mat Burki yang notabene kepala pengamanan rumah tahanan Negara penjara kabupaten Kerinci.
 
Ibaratnya, kejahatan tersebut bak pagar makan tanaman. Kenapa demikian, karena Kementerian Kehakiman dan Hak Asasi Manusia dianggap salah mengangkat pejabat dalam membina narapidana, “yang seharusnya membina narapidana itu pejabapat di Kalapas, tapi ternyata menzalimi narapidana sehingga sebanyak 130 orang narapidana mengajukan protes kepada Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia melalui pernyataan narapidana kepada Kepala Penjara Luhur Pramudi minggu lalu,” demikian diungkapkan Drs. H. Mudjadid Dulwathan, SH. MH. MBL atas laporan yang diterimanya selaku Ketua Umum Lembaga Perlindungan Hak Asasi Manusia Independen di Indonesia kepada Global Post pekan lalu.

Dikatakan Mudjadid, Sasaran pelaku kejahatan pemerasan dan perampasan hak milik narapidana berupa handphone dan isi dompet korban. Ternyata korban adalah narapidana narkoba korban rekayasa polisi dengan tuduhan pengguna narkoba yang dijatuhi hukuman penjara tanpa saksi yang sah disidangkan sebagaimana dialami terpidana dihukum atas berita acara polisi yang diajukan ke pengadilan karena tak mampu membayar oknum penyidik, sehingga korban alias narapidana diperas jaksa mengatasnamakan hakim. Kasus yang sama hampir tiap hari terjadi di pengadilan, tambahnya.

“Mereka korban penyidik dan jaksa penuntut umum. Begitulah nasib terpidana habis jatuh ditimpa tangga. Di pengadilan diperas jaksa, di penjara diperas Mat Burki kepala keamanan penjara,” ujar Mudjadid kesal.

Menurut pengakuan Edri Mahoni yang jadi korban pemerasan uang dan perampasan handphone oleh Mat Burki kepala rumah tahanan Negara Sungai Penuh Provinsi Jambi menyampaikan pesakitan yang dialaminya bahwa Mat Burki melakukan kejahatan kepada setiap tahanan baru yang pindah dari tahanan polisi kerumah tahanan Negara Kerinci Sungai Penuh diminta uang sebanyak Rp 500 ribu sampai satu juta rupiah, bagi yang tidak membayar dipukuli dan dirantai oleh Mat Burki kepala rumah tahanan Negara Sungai Penuh Provinsi Jambi tanpa ampun. Hal ini tanpa sepengetahuan kepala rumah tahanan Negara, bahkan bagi yang ingin berhubungan badan wajib bayar seratus ribu sampai lima ratus ribu di ruang kerja Mat Burki untuk tempat melakukan hubungan intim antara suami istri maupun pasangan remaja yang belum menikah.

Masih berdasarkan pengakuan korban, selain memeras narapidana yang terima uang dari pengunjung dengan cara menuduh korban berencana melarikan diri dari rumah tahanan jika keinginannya tidak dipenuhi. Selain itu MB juga meminta celana levis 501 seharga Rp 1.300.000,  “padahal sebelumnya saya sudah pernah melakukan (CMK) dan hukuman saya hanya tinggal 1 bulan. Tidak mungkin saya akan melarikan diri dari tahanan,” katanya. 

“Saya mohon kepada bapak untuk menindak lanjuti secepatnya hal-hal yang tidak benar yang telah dilakukan oleh Mat Burki (KPR) Rutan Sungai Penuh Provinsi Jambi,” demikian penuturaanya via short message service (SMS) kepada Global Post dan berharap agar Mat Burki ditindak sesuai hukum sebnarnya.

Kasus serupa dialami  Erianto Bin Azhari dan Yogi Oktavianus Bin Kenedi bersama Edri Mahoni Bin Yusrizal adalah putra Minang korban fitnah penyidik yang dipaksa menjalani hukuman. “Kami datang ke Kerinci pergi menghadiri pesta perkawinan saudara, lalu kami tidur di hotel Kerinci, tiba-tiba datang polisi menangkap kami dengan memperlihatkan ada narkoba, katanya milik kami dan kami langsung ditahan tanpa dapat membela diri,” ujarnya.

Dan masih berdasarkan pengakuan ketiganya, akhirnya dirinya diperas oknum jaksa agar mau menerima hukuman ini. Bahkan katanya Kepala Kejaksaan Hendro telah meringankan hukuman kami, sebagaimana dikatakan Jaksa yang menuntut kami, dan kami akhirnya tak berdaya dan terpaksa menginap di hotel prodeo Sungai Penuh yang penuh dengan tahanan, katanya. 

“Kami berharap cukuplah penderitaan kami berakhir di sini dengan harapan kepada bapak Presiden dan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia serta khusus kepada Kepala Rumah Tahanan Kerinci yang baru bapak Luhur Pambudi agar kami segera dibebaskan dari tempat pesakitan ini,” ujarnya berharap.

Diakhir pengakuannya salah satu narapidana bernama Erianto merasa terlindungi sejak kasus ini diusut oleh Luhur Pambudi bersama Bambang dari Kanwil permasyarakatan Jambi. “Semoga Handphone kami dapat dikembalikan dari tangan Mat Burki karena nama-nama  keluarga kami ada pada handphone itu perlu untuk berkeluh kesah kepada keluarga dan teman untuk mengatasi biaya sekolah anak-anak kami tinggalkan penuh penderitaan tanggung jawab menghadapi biaya hidup ditinggal suami pergi ke pesta perkawinan tak pulang karena ditahan,” pungkasnya mengharukan. (Chy/Red/Did)
 
Top