GuidePedia

 Kota  Tasikmalaya, Global Post 
Menjelang  bulan suci Romadan, banyak  kegiatan tahunan  yang selalu  dilakukan pada bulan yang penuh berkah  ini, seperti  pesantren  kilat  (sanlat) yang  diselenggarakan  hampir  di semua pondok pesantren.  Tahun  ini  Kemenag Kota  Tasikmalaya  menghimbau agar siswa didik biasa melaksanakan pesantren kilat  (sanlat) program  sekarang masih  mengacu  pada  tahun sebelumnya. 

Kepala  Kemenag   Kota  Tasikmalaya  dalam ruang  kerjanya   mengatakan  kepada  tim Global Post bahwa pihaknya menawarkan tiga opsi bagi sekolah menjalankan  kegiatan  belajar mengajar (KMB0  pada  waktu bulan   ramadhan. 

Pertama sekolah   boleh mengelar  kegiatan  belajar  mengajar (KMB) Seperti   biasa, kedua sekolah  bisa menitipkan ke pondok  pesantren, tetapi   tidak  pul  belajar. Ketiga,  sekolah mendatangkan ustadz untuk memberi pelajaran kepada para siswa siswi. ”Silahkan nantinya sekolah mengambil sendiri kebijakanya mana yang mau diselenggarakan, tergantung dari  situasi  dan  kondisi  sekolah  tersebut,  ungkap  dia.

Drs. H. Patoni, MM juga  mengatakan pihak  pondok pesantren kota juga  tidak sanggup  menampung  puluhan  ribu  siswa, jika semua mengikuti pesantren ramadhan “kita telah  berkomunikasi  dengan   para  pemilik  pondok   pesantren yang ada di  Kota  Tasikmalaya dan rata-rata daya tampung pondok  pesantren yang  jadi  persoalan,“ tuturnya.

Saat ini kata  Patoni, di Kota Tasikmalaya  terdata  ada  sekitar 324 Pondok Pesantren, adapun   jumlah  santri ada sekitar 20  ribu orang,  jadi   kalau  semua   siswa  diwajibkan di  pondok  pesantren  tersebut akan  overload dan   kegiatan  belajar mengajar (KMB) tidak  akan  berjalan  baik serta optimal, katanya.
Kepala  Dinas  Pendidikan  Kota Tasikmalaya Undang Herdiana mengatakan dinas   pendidikan  Kota  Tasikmalaya tidak akan mewajibkan  siswa  mengikuti  pesantren  selama  bulan  suci ramadhan  atau  pesantren  kilat (sanlat), karena sampai saat ini 324 pondok  pesantren  dikota  santri ini dinilai  tidak  sanggup  menampung 30  ribu  siswa. Terlebih diratusan pondok  pesantren  itu ada 20 ribu  santri. 

”Dari  hasil   survei  kami  dengan  Kemeng  Kota Tasikmalya, jika seluruh siswa   diwajibkan  pesantren  saat  bulan  romadhan, maka tidak  akan tertampung  oleh  perantren  tersebut,’  ujar   kepala   dinas  pendidikan

Menurut  dia jumalah  siswa  SLTA dan SLTP se Kota  Tasikmalaya sudah  mencapai  30 ribu lebih   siswa, sehingga jika dipaksakan  mengikuti  pesantren  selama   bulan  puasa, justru  membuat  kegiatan  belajar  mengajar tidak akan efektif, katanya. (Asep M/Herman B)
 
Top