GuidePedia

Jadikan Ramadhan Bulan Pendidikan Karakter
Kedatangan Bulan Suci Ramadhan, selain sebagai bulan penuh berkah, ampunan dan rahmat, selayaknya umat Islam menyambutnya dengan kegembiraan dan kebahagian. Di sisi lain, Ramadhan adalah bulan pendidikan. Pendidikan tidak hanya memiliki pengertian pelatihan belaka, tetapi lebih jauh dari itu, merupakan proses pembiasaan dan pembudayaan dalam rangka tumbuhnya karakter-karakter positif dan akhlak mulia (akhlakul karimah). 
 
Sebagaimana dituliskan Said al-Hawwa dalam bukunya, Al Islam bahwa pada dasarnya Ramadhan merupakan madrasah. Jika orang yang berpuasa pandai memanfaatkan sebaik-baiknya dengan amalan-amalan yang baik dan sesuai ajaran Islam, mereka akan menjadi manusia baru, tidak seperti sebelumnya. Oleh karena itu, di akhir Ramadhan, kita akan memasuki Idul Fitri, hari kemenangan, kembali ke fitrahnya sebagai manusia yang suci dan bersih dari dosa. 'Baru', dalam arti tidak hanya dengan pakaian-pakaian bagus saja, tetapi perilaku dan sikapnya dituntut berubah ke arah yang lebih baik. Ramadhan adalah madrasah tempat seorang muslim memperbarui ikatan-ikatan Islam dan mengambil bekal yang dapat menutupi segala kekurangan sebelumnya.

Dalam konteks ini, Ramadhan merupakan wahana atau sarana untuk mengembangkan pendidikan karakter dan budi pekerti. Karena, suatu bangsa akan tegak dan kokoh karena karakter dan budi pekerti yang luhur. Bangsa akan bubar jika ditopang oleh budi pekerti yang jelek. Sebagaimana kata-kata bijak seorang pujangga Mesir terkenal di penghujung abad XIX, Asy Syauqy Bey, yang sebait syairnya diterjemahkan oleh Prof DR Hamka lewat sebait puisi padat. Yaitu, "Tegak rumah karena sendi, sendi runtuh rumah binasa, tegak bangsa karena budi, budi runtuh binasalah bangsa."

Bangsa ini berada di tubir jurang karena krisis karakter dan akhlak mulia. Bangsa ini beridentitas tak karuan karena babak belur dihajar perilaku koruptif. Bangsa ini perlu berproses dan berjalan menuju jalan keikhlasan, kesabaran, mengembangkan solidaritas sosial yang kuat, kesederhanaan, saling tolong menolong, berempati dan keteladanan yang baik lainnya. Ruang publik bangsa ini agak sesak dengan karakter dan perilaku negatif. Sehingga, agak kesulitan untuk menjadi bangsa yang maju, berdikari, dan mandiri.
Bulan Ramadhan merupakan jalan untuk memulihkan perilaku-perilaku negatif dan merusak. Amalan-amalan "shiyam" (puasa) sesungguhnya salah satu usaha membentuk insan yang memiliki akhlak mulia, satu manusia yang berbudi luhur. Manusia-manusia yang siap dan disiapkan untuk membangun kemajuan bangsa dan negaranya.

Ramadhan merupakan bulan pendidikan untuk mengisi kekurangan dan kekosongan yang agak diabaikan oleh sekolah-sekolah formal. Sekolah-sekolah kita memiliki kecenderungan mengisi kognitif siswa-siswinya dan melupakan aspek afektif. Kekosongan ini dapat diisi oleh amalan-amalan bulan Ramadhan. Antara lain, conditioning (pembiasaan) menumbuhkan budi luhur dalam individu, kelompok dan masyarakat. 

Pendidikan karakter sendiri merupakan strategi dan metode untuk membumikannya dengan setidaknya melalui tiga hal, peneladanan (modelling), peniruan (imitation) dan pembiasaan (conditioning). Dhus, pendidikan karakter bukanlah pengajaran yang terpenting. Karena pengajaran ini seringkali melupakan pembiasaan dan pembudayaan. Di mana dua unsur ini merupakan hal terpenting dalam membumikan perilaku, sikap dan karakter yang positif.

Sedangkan nilai-nilai Ramadhan yang diyakini sebagai landasan pendidikan karakter adalah kejujuran, disiplin, kesabaran, amanah, silaturahmi dan kesungguhan dalam beraktivitas, berempati, pengendalian diri dan solidaritas sosial. Misalnya, nilai solidaritas sosial dalam berpuasa dipraktikkan secara nyata dengan berlapar-lapar saat puasa, hingga menumbuhkan empati dan solidaritas kita terhadap kaum miskin serta tak mampu semakin berkembang dengan kuat. 

Untuk itulah, kita diperintahkan untuk banyak-banyak bersedekah dan berbagi dengan mereka yang kurang beruntung secara ekonomis di bulan Ramadhan. Khusus di akhir bulan Ramadhan, kita juga diwajibkan membayar zakat fithrah, sebagai bukti bagi empati dan solidaritas kita terhadap sesama. 

Nilai-nilai tersebut akan menjadi hiasan bagi mereka yang berpuasa dengan benar dan tulus ikhlas. Buah pelaksanaan ibadah Ramadhan adalah terbitnya karakter positif dan akhlak mulia. Madrasah Ramadhan memberikan pelatihan dan pendidikan selama sebulan penuh merupakan proses pembatinan (internalisasi) nilai-nilai positif yang ditransformasikan kepada mereka yang berpuasa untuk diwujudkan dalam sikap keseharian mereka, baik di rumah, kantor maupun masyarakat. 

Ramadhan adalah madrasah di mana peserta didiknya akan mendapatkan kecerdasan emosional sekaligus spiritual. Dua kecerdasan ini merupakan basis utama bagi pendidikan karakter atau akhlak mulia. Tanpa dua hal ini, sangat mustahil bahwa pendidikan karakter dapat dibangun dengan kuat dan kokoh. Dua kecerdasan ini yang dapat mengarahkan dan memberikan panduan tegas untuk memperkuat pendidikan karakter.

Umat Islam dengan berpuasa, sesungguhnya sedang mendisain ulang untuk mengembangkan karakter dan akhlak mulia. Oleh karena itu, manfaatkanlah puasa beserta amalan-amalan yang menyertainya sebagai sarana mewujudkan individu baru dan masyarakat baru yang lebih berkarakter dan memiliki identitas, komitmen dan perilaku yang mendorong keadaban baik di ruang privat maupun publik.

Sekali lagi, kita sebagai umat Islam akan merugi jika pada bulan penuh berkah dan rahmat ini, hanya merasa lapar dan haus belaka, tanpa mampu mewujudkan tumbuhnya kesalehan individu dan kesalehan sosial. Semoga kita tidak termasuk orang yang merugi, tanpa ada perubahan perilaku positif sebagai output dari madrasah Ramadhan ini.(Red)
 
Top