GuidePedia


Keberadaan Rumah Rehabilitasi milik Yayasan Kelima di Mega Mendung, Bogor, sangat membantu bagi generasi muda pecandu narkoba untuk mengembalikan dirinya aktif dan kreatif di tengah masyarakat.
             
“Total yang pernah direhab di Mega Mendung selama 3 tahun, kurang lebih sebanyak 120 orang,” ujar Iqnatius Hendrik Yano, salah seorang yang bertugas sebagai konselor di Rumah Rehabilitasi Yayasan Kelima, Mega Mendung, Bogor, kepada Global Post, belum lama ini.
            
 Tiga tahun berhasil memulihkan 120 orang, tentu bisa dikategorikan sebagai prestasi luar biasa. Namun, lelaki kelahiran tanggal 17 Agustus 1955, menanggapinya dengan sangat biasa. Meskipun, dalam setiap menjalankan tugasnya, dia selalu berharap ‘anak-anak asuhnya’ dapat menjadi orang berguna  di tengah masyarakat.
           
 Dengan merendah, Iqnatius berkata, “Saya hanya bantu- bantu di Yayasan Kelima, di Rumah Rehab yang ada di Mega Mendung, Bogor. Kebetulan  saya diminta untuk mengawasi  rumah rehab oleh Ketua Yayasan Kelima, Batius SE M.Si. Ya, pada prinsipnya saya hanya membantu di Yayasan Kelima.”

Kendati demikian, Ignatius memastikan bahwa apa pun bisa dibagikannya kepada anak-anak yang ada di rumah rehab, akan dibagikannya dengan setulus hati. Tujuannya, anak-anak itu merasa mendapatkan kepedulian dan perhatian, sehingga nantinya bisa aktif di tengah masyarakat dengan baik.
           
 “Itu menjadi harapan kami sebagai konselor. Memang itu tak mudah, ya. Tapi, dengan mendampingi  atau menjadi konselor mereka, kami sangat optimis bahwa nantinya mereka akan diterima oleh masyarakat dan lingkungan. Walau pun kita tau mereka adalah mantan pecandu  narkoba dan pernah direhab,” tutur Ignatius.
          
Pembekalan yang diberikan kepada anak-anak di rumah rehab paling utama adalah mental. “Karena memang tak  mudah untuk kembali lagi seperti awal. Sangat dibutuhkan peran serta orang–orang terdekatnya , terutama keluarga dan lingkungan. Saya selalu berharap  supaya anak- anak diterima  oleh masyarakat,” tuturnya.
           
 Menurut Ignatius, kalau melihat latar belakang  mereka untuk  menjadi seorang  pecandu,  sebenarnya tak mau menjadi pecandu. Faktor lingkungan dan pergaulan, serta kurangnya pengawasan  dari orang  tua, justru membuat anak-anak itu mudah terjerumus  ke dalam pergaulan yang sangat berbahaya.
           
 “Saya merasa lebih prihatin pada anak-anak ini. Sebenarnya anak–anak ini mempunyanyi  kecerdasan dan kreatifitas  yang  selama ini tak tersentuh oleh siapapun,” tegasnya. 

Ternyata setelah direhab di Mega Mendung, aspirasi dan apa aja yang ada di benak mereka bisa tertampung. Banyak ungkapan–ungkapan  tentang apa yang ada di diri mereka masing-masing. “Di Yayasan Kelima inilah  meraka merasa ada yang memperhatikan, satu dengan yang lain,” ujarnya.

Akhirnya, lanjut Ignatius dengan penuh semangat, anak-anak itu sadar. Mereka sadar  karena aspirasinya ditampung dan diberikan pembelajaran bahwa selama ini mereka melakukan perbuatan yang hanya  melawan arus.

“Harapan saya pribadi untuk anak-anak yang pernah direhab,  bila sudah kembali ke tengah masyarakat jangan pernah berkecil hati. Tetap seperti  semula, beraktifitas, berkreatifitas,  dan berkaya,” pungkas Ignatius. (Susi KJ)
 
Top