GuidePedia

Pembaca Koran Global Post yang dirahmati Allah SWT. Dalam bulan Ramadhan ini lebih banyak lagi kesempatan untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT, diantaranya adalah bagaimana kita mengisi bulan Ramadhan ini berdasarkan syariat yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Ramadhan berarti pembakaran dosa-dosa. Tentunya, karena yang dibakar adalah dosa manusia. Manusia yang oleh Allah diberikan kebebasan berkehendak. Untuk mau atau tidak dibakar, nah itulah kembalinya kepada kita. 
Maka Allah membakar dosa-dosa itu dengan menunaikan perintah dan meninggalkan laranganNya. Ini berlaku secara umum bagi semua hamba Allah dari zaman kapanpun dan dimanapun. 
Bulan ramadhan itu membakar, sebab isi bulan Ramadhan sebagaimana diterangkan oleh Nabi Muhammad sendiri, bahwa pada 10 hari awal Ramadhan adalah turun rahmat. 10 hari pertengahan Ramadhan adalah maghfirah (ampunan) dan 10 Ramadhan terakhir adalah itqun minanar (pembebasan dari neraka).
Pertama adalah Rahmat. Rahmat disini khususnya hanya diberikan kepada orang-orang yang beriman. Sebab Allah mempunyai sifat Rahman dan Rahim, dua-duanya adalah isim mubalaghah atau bentuk kata yang mempunyai arti maha pengasih dan maha penyayang. 
Kalau Rahmat, bahwa Allah pemberi Rahmat, tetapi bersifat umum untuk semua makhluk. Jangankan manusia, partikel-partikel terkecil, bakteri-bakteri dan sel-sel pun diberi rahmat oleh Allah SWT. 

Rahmat itu umum  diberikan kepada siapa saja sesuai dengan ikhtiarnya. Jadi, kalau seseorang ingin kaya tidak usah sholat bisa kaya, tidak usah beriman juga bisa berpangkat tinggi. 
Itulah rahmat umum, tetapi rahmat khusus hanya diberikan kepada orang yang beriman dan profile orang beriman adalah orang yang rela diatur oleh Allah SWT dibidang syariah berupaya melakukan ibadadah sesuai aturan syariah. 
Dalam bidang mu’amalah juga rela diatur yang muda hormat sama yang tua dan yang tua menyayangi yang muda. Itu adalah sunattullah sebagai hukum umum yang berlaku.
Oleh karena itu yang diperintahkan untuk menunaikan ibadah puasa hanya orang yang beriman sebab orang berimanlah yang akan rela diatur. Karena rela diatur Allah akan menyayanginya. 
Allah memberikan rahmat dan cinta kepada kita, maknanya adalah filsafat cinta dalam syariah Islam artinya dekat. Kalau sudah mengambil jarak dan menjauh berarti sudah ada gejala-gejala tidak cinta. Allah cinta kepada kita itu berarti Allah dekat dengan kita dan apalagi lebih dari pada didekati Allah.
Kedua adalah Maghfirah. Mengapa berisi ampunan, sebab puasa adalah merupakan proses bertaubat dalam bentuk yang berat terutama dalam meninggalkan larangan Allah; Jangankan larangan yang memang bisa dilarang, yang biasanya halal disiang haripun menjadi haram(dilarang Allah); Berupaya meninggalkan larangan Allah adalah proses bertaubat, mengapa tekanannya pada laranganNya sebab melakukan perintah Allah itu berat, tetapi meninggalkan larangan Allah jauh lebih berat. 
Banyak orang yang sudah melakukan perintah Allah tetapi larangan Allah masih juga dikerjakan. Oleh karena itu ada maghfirah yang merupakan tujuan akhir. Kalau sekarang belum terasa dan akan terasa kalau sudah sakaratul maut.
Para ulama tasawuf mengatakan bahwa ketika ruh mau dicabut akan ditampakkan amal perbuatan kita. Allah menyatakan dalam QS Al Jalzalah ayat 7-9, “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya akan melihat (balasannya) dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya akan melihat (balasannya pula).” 
Maka bagi mereka yang sudah mendapat maghfirah Allah pada waktu sakaratul maut, mari kita mempersiapkan diri untuk menghadapinya dengan berserah diri kepada Allah secara total. Jadi maghfirah itu merupakan kebutuhan mutlaq setiap manusia.
Ketiga adalah ‘itiqun minannar (pembalasan dari api neraka). Pada akhir ramadhan bukan lagi kebiasaan tetapi meninggalkan larangan Allah sudah mempribadi. Jadi apa yang dilarang Allah sudah tidak dipikirkan lagi untung dan ruginya dan harus ditinggalkan demikian juga perintah Allah harus dikerjakan tanpa memikirkan untung ruginya. 
Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang berpuasa dibulan Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan keridhoan Allah, akan diampuni dosa-dosa terdahulu (HR Ahmad). Bahkan dalam hadist lain disebutkan “dosa-dosa yang akan datang”. 
Logikanya adalah kalau meninggalkan dosa itu sudah mempribadi, maka dia akan berusaha untuk tidak berbuat dosa. Tidak ada orang yang tidak berbuat dosa kecuali malaikat dan para rasul yang ma’sum (terpelihara). Jadi siapapun khilaf. 
Tetapi ada perbedaan orang-orang yang taqwa, dan orang-orang yang mengerjakan perbuatan keji atau menganiyaya diri sendiri .
 Orang taqwa ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka (Ali Imran: 135). Tetapi, orang yang tidak taqwa, jangankan ingat kepada Allah, diingatkan pun mereka marah.
Semoga kita mendapatkan rahmat dan hidayah dari Allah SWT. (Penulis adalah Kasi Madrasa Kantor Kementrian Agama Kota Bekasi)
 
Top