GuidePedia

Semarang, Global Post
Kenaikan harga BBM dapat mempengaruhi seluruh harga bahan pokok, maupun barang-barang lain, baik berupa kebutuhan primeir maupun skunder. Ini menjadi beban masyarakat yang golongan ekonominya menengah ke bawah.

Beban itu semakin berat terlebih bagi masyarakat miskin, ditambah lagi saat ini sudah di ambang bulan Ramadhan dan Lebaran nanti. ”Berat rasanya menghadapi permasalahan perekonomian sekarang ini,” ujar seorang tukang ojek yang mangkal dari pagi, dan baru narik dua kali.

Berkaitan dengan naiknya BBM, Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informasi (Dishubkominfo) Kota Semarang, juga melaksanakan kegiatannya yakni dengan mensosialisasikan tarif baru angkutan umum, 26 Juni 2013 lalu. 

Kepala Dishukominfo Kota Semarang, Agus Hermunanto menerangkan, pihaknya telah menempel selebaran di lingkungan terminal dan di dalam angkot mengenai kenaikan ongkos transportasi.

”Ini sudah disahkan dalam Peraturan Wali Kota No 551.2/375/2013. Tarif baru yang diberlakukan setelah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) berselisih 22 persen dari tarif lama,” ujarnya.

Sementara Kabag Hukum  Setda Kota Semarang Abdul Haris, mengatakan bahwa peraturan tersebut secara normatif sudah menjadi ketetapan. ”Mengenai materi Perwal sudah diserahkan ke Pak Wali saat itu sudah di tetapkan,” jelas Haris. 

Jadi, sudah ada tarif baru untuk angkutan kota (angkot), bus kecil dan sedang, taksi serta bus Damri AC dan non-AC. Ongkos Damri Non-AC, misalnya, dari semula Rp 2.600,- menjadi Rp 3.000,- . (Yf)   
 
Top