GuidePedia

Semarang, Global Post 
Di Desa Popongan, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang, masalah raskin yang diduga menyimpang dilaporkan ke polisi.
             
Penyimpangan itu awalnya dibeberkan oleh seorang warga desa, lalu diberitakan. Namun, beberapa media yang memberitakan masalah raskin itu, diduga hanya berdasarkan informasi abal-abal. ”Tentu, pihak kepolisian tidak semudah itu untuk menerima laporan yang masuk,” tutur salah satu tokoh masyarakat desa Popongan. 

Muhsinin, Kepala Desa Popongan, ,engatakan bahwa sejak awal penerimaan raskin untuk para warga memang dijual. ”Ini bukan kehendak saya, melainkan atas musyawarah dan kehendak warga itu sendiri, dengan satu suara bulat untuk mencapai kesepakatan,” ungkapnya. 

Dari penjualan raskin itu, kata kepala desa, sebagian dibayarkan kepada Bulog dan sebagian masuk kas untuk pembangunan desa. ”Ide-ide itu muncul dari warga, melalui rapat di Rt, Rw, dusun hingga ke tingkat desa. Di desa dirapatkan melalui rapat perangkat desa, dusun, tokoh masyarakat, serta ulama, dan satgas raskin pun hadir dalam rapat itu,” Muhsinin.

Muhsinin mengatakan bahwa dirinya menjadi Kepala Desa Popongan sudah masuk dua periode. ”Kenaapa permasalahan ini tidak dari dulu dipersoalkan. Kok baru sekarang setelah saya menjalankan tugas selama 7 bulan ini. Kalau memang warga tidak berkenan, kenapa tidak tanya dulu pada saya selaku kepala desa,” katanya. 

Menurut Muhsinin, hasil penjualan raskin itu banyak dinikmati oleh warga masyarakat Desa Popongan, antara lain ada mobil ambulance yang sewaktu-waktu dibutuhkan jika ada warga yang sakit,  kemudian jalan sudah rapih dengan betonisasi. ”Masih banyak lagi untuk dapat dinaikmati oleh warga,” ujarnya. 

Muhsinin mengatakan bahwa dirinya sebagai kepala desa tetap akan menjalankan tugas sebagaimana mestinya, yakni mengayomi warga dan masyarakat dengan melaksanakan pembangunan. ”Harapan saya, permasalahan ini segera selesai,” pungkasnya. (Yf/Tim)  
 
Top