GuidePedia

Siapakah Yang Pantas Menerima BLSM

BLSM yang bergulir seiring dengan naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi ternyata telah menimbulkan persoalan baru. Segudang persoalan muncul karena ternyata pemerintah tak memiliki data up to date terkait jumlah orang miskin. Data lama yang dipakai sudah barang tentu tak kredibel. Ujung-ujungnya penerima BLSM, banyak yang tak tepat sasaran, bahkan menuai protes banyak pihak.

Kasus penyaluran BLSM kini mulai terkuak oleh media, terutama media elektronik yang menayangkan banyak fakta mencengangkan. Ada penerima BLSM yang nota bene keluarga cukup berpunya. Rumah milik sendiri, berkeramik, bahkan cukup bagus, peralatan elektronik lengkap, sementara sang nyonya rumah tampak mengenakan perhiasan yang cukup wow.

Di sisi lain, banyak yang merasa berhak, justru tak mendapatkan jatah BLSM karena tak memiliki kartu Jamkesnas atau tak terdata. Padahal, yang bersangkutan jelas-jelas tak berpunya, bahkan tak sedikit yang berprofesi sebagai pemulung. Dus, muncullah kecemburuan-kecemburuan di masyarakat.

Untuk mengatasi hal ini, ada pemerintah daerah yang sampai berinisiaf menambah sendiri jumlah penerima BLSM dengan menggunakan dana sosial Pemda. Lha ini kan nanti malah berbahaya. Jangan-jangan uang darurat milik Pemda terkuras hanya karena takut menerima serangan warga yang tak puas karena tak terima BLSM. Padahal, peruntukan dana darurat Pemda jelas bukan untuk itu.

Apalagi, dana yang dikeluarkan melalui program yang namanya BLSM ini sifatnya sementara, hanya untuk kebutuhan sesaat, digulirkan hanya 4 bulan, dan tak akan menimbulkan kemandirian ekonomi masyarakat pada tahap-tahap berikutnya. Kita hanya seperti memberi pancingan tapi bukan kailnya.

Mungkin benar bahwa bagi masyarakat yang benar-benar miskin, dana ini dibutuhkan hanya untuk sekedar membeli beras. Tetapi, mekanisme pembagiannya kenyataannya memang menunjukkan pemerintah tidak siap.

Ada baiknya pemerintah tak memberikan pengalihan subidi berupa uang, tetapi makanan pokok untuk kebutuhan sehari hari. Ini banyak dilakukan di negara maju untuk membantu masyarakatnya yang miskin. Karena kenyataannya, banyak masyarakat tak menggunakan dana BLSM sebagaimana mestinya. Ada yang untuk bayar utang, membeli barang konsumtif dan lain lain. Di sisi lain, mereka semakin tak mampu membeli bahan pokok yang harganya sudah melambung akibat kenaikan harga BBM.

Tapi sekali lagi Pemerintah harus lebih jeli dalam setiap membuat program, barangkali yang perlu diperhitungkan adalah, tingkat harkat dan martabat rakyat miskin yang seolah-olah menjadi bahan eksploitasi. Karena itu ke depan hendaknya Program BLSM atau apapun namanya harus menyentuh kepada yang membutuhkan dengan tetap mengedepankan harkat dan martabat seseorang. (Red)

 
Top