GuidePedia

Jakarta, Global Post
Lonjakan harga bahan kebutuhan pokok hingga kini terus bergerak liar,apalagi ditambah dengan kepastian pengumuman kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Bahkan, kenaikan harga sejumlah komoditas pangan dan pertanian di pasaran sudah melonjak jauh melebihi batas kewajaran.

Menurut ekonom Hendri Saparini, lonjakan harga bahan pangan itu akan terus berlangsung pasca kenaikan harga BBM bersubsidi. "Apalagi setelah naiknya harga BBM, maka harga kebutuhan pokok akan makin tinggi," katanya di Jakarta, Rabu (20/6) pekan lalu. 

Sementara itu, Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Sofyano Zakaria menilai, kenaikan harga BBM bersubsidi saat ini tidak tepat karena akan berdampak buruk bagi perekonomian masyarakat. 

Sebab, dengan kenaikan yang diberlakukan sekarang, harga barang kebutuhan pokok dipastikan naik berlipat karena menjelang Ramadhan. Kenaikan harga kebutuhan kembali naik mendekati momentum Lebaran. 

Kondisi itu, menurut dia, akan menjadikan daya beli masyarakat makin turun drastis. "Silakan pemerintah menghitung lagi berapa banyak orang miskin yang akan bertambah. Seharusnya kenaikan harga BBM dilakukan secara bertahap, misalnya Rp 200 per liter setiap bulan sehingga tidak memberatkan dan masyarakat akan terbiasa. Muncul gejolak itu pasti pada 2-3 bulan, tapi setelah itu akan terbiasa," ujar Sofyano. 

Terkait hal itu, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengingatkan kalangan pengusaha untuk tidak melakukan spekulasi karena akan menimbulkan kenaikan harga komoditas pangan secara tidak terkendali dan memengaruhi inflasi. 

"Untuk pangan pokok lainnya, kita akan mengawasi pengusaha-pengusaha. Besok saya akan panggil seluruh pengusaha agar tidak berspekulasi di pasar untuk memanfaatkan momentum atas dinaikkan harga BBM. Tentunya aktivitas penimbunan akan kita beri sanksi," katanya di Kantor Presiden belum lama ini.

Dia mengakui ada pengaruh kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi terhadap transportasi komoditas, namun akan diimbangi dengan kecukupan pasokan. "Kita sudah bahas agar dampaknya tidak signifikan. Walau ada kemungkinan kenaikan, tetapi kalau jumlah pasokannya lebih banyak, akan membantu menjaga stabilitas harga," ujarnya. 

Pemerintah, kata dia, berharap harga beberapa komoditas, seperti daging sapi, bawang, dan lainnya, dapat turun seiring dengan kecukupan pasokan dan persediaan yang ada. 

Sedangkan terkait sanksi bagi penimbun, Gita menegaskan, sanksi juga akan diberikan kepada importir yang merugikan masyarakat. "Sanksi tegasnya, kalau mereka importir suruh kita cabut izinnya. Kalau mereka agak di luar batas wajar," tuturnya. 

Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa memastikan kecukupan stok pangan dan sejumlah komoditas lainnya untuk mengamankan target inflasi 7,2 persen sesuai dengan asumsi pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2013. Dia juga mengakui, salah satu instrumen untuk menjaga inflasi adalah memastikan volatilitas harga pangan bisa terjaga. 

"Ada tiga hal yang memengaruhi inflasi, volatile food. Oleh karena itu, dalam rapat dengan Kadin dan kementerian terkait dibahas bahwa suplai harus kita penuhi. Rapat koordinasi pangan tadi pagi yaitu suplai pangan cukup. Kenaikan-kenaikan itu tidak sebagaimana yang tergambarkan," ucap Hatta pekan lalu. 

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), komoditas yang mengalami kenaikan harga yaitu cabai. Namun, Hatta mengatakan kenaikan itu tergolong biasa menjelang Lebaran atau bulan puasa. 

"Kita lakukan suplai yang cukup dan apabila perlu kita lakukan intervensi. Seluruh daerah kita cukupi dan setiap gudang Bulog ada 3 juta ton; sangat cukup dan belum lagi pembelian sisa panen yang kita perkirakan Bulog akan mencapai 2 juta ton," paparnya. 

Selain itu, pemerintah juga memberikan izin kepada Bulog dapat melakukan stabilisasi harga di pasar secara langsung. Sementara untuk daging sapi, Hatta mengatakan bahwa Bulog mendapat izin impor daging sapi 3.000 ton sehingga dapat menurunkan harga daging yang saat ini Rp 90.000 menjadi di kisaran Rp 76.000 hingga Rp 80.000 per kg. 

Berdasarkan pantauan di lapangan, pasca kenaikan harga BBM terhadap sejumlah harga kebutuhan pokok juga merangkak naik. "Kenaikan harga terjadi hampir tiap hari," ujar Abdul Karim, seorang pedagang telur ayam, di pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Selama sepekan ini, menurut dia, harga telur ayam ras naik Rp 3.000 per kilogram (kg). Harga yang semula Rp 19.000 menjadi Rp 22.000 per kg. Kenaikan harga juga diikuti gula pasir eceran, yang semula Rp 12.000 menjadi Rp 13.500 per kg. 

Sedangkan harga minyak curah naik Rp 1.000 per kg menjadi Rp 11.000 per kg. Karim mengaku kenaikan harga sembako sudah berlangsung sejak dua pekan lalu. Dia juga memperkirakan, harga itu akan naik terus seiring dengan momen kenaikan harga BBM, bulan Ramadhan, dan menjelang Lebaran. 

Begitu juga dengan harga bumbu dapur, seperti cabai merah dan bawang merah, naik Rp 4.000 per kg. Harga cabai menjadi Rp 32.000 per kg, sedangkan bawang merah Rp 34.000 per kg. Begitu juga dengan sayur-mayur, ikut-ikutan naik signifikan. (Well/Ray/Ant)
 
Top