GuidePedia


Malang, Global Post  
Merebaknya isu korban yang diduga salah tangkap yang dialami Bapak dan anak oleh petugas Polres Tana Toraja sejak delapan tahun silam lalu. Mereka dituding melakukan pembuhan disertai pemerkosaan dan kini harus mendekam di dua lapas yang berbeda di Jawa  Timur dan sama-sama divonis hukuman mati.

Kasus salah tangkap ini sendiri diungkapkan Andreas Sutiono, pembimbing rohani Lapas Lowokwaru, Kota Malang. Dia mengaku mendapat mandat dari dua orang narapidana hukuman mati, Ruben Pata Sambo dan anaknya, Markus Pata Sambo, untuk menjelaskan ke publik atas peristiwa sebenarnya.

Keduanya merupakan warga Jalan Merdeka Kelurahan Tono Mamullu, Kecamatan Makale, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Mereka ditangkap di Makassar atas tuduhan pembunuhan disertai pemerkosaan yang terjadi pada 25 Desember 2005.

Bapak anak itu menjalani hukuman sebagai terpidana mati sejak 2006 lalu di dua lapas berbeda di Jawa Timur. Ruben Sambo di Lapas Lowokwaru, sedangkan Martinus di Lapas Porong.

Tudingan salah tangkap itu menyusul pengembangan kasus beberapa saat setelah keduanya divonis mati. Petugas Polres Tanah Toraja menangkap pelaku lain atas kasus sama. Dia adalah Agustinus terpidana di Lapas Makassar, yang juga dijatuhi hukuman mati.

“Dalam satu kasus pembunuhan, muncul dua pihak pelaku pembunuhan yang berbeda dan sama-sama mendapat hukuman mati,” ujar Andreas.

Saat ini, Ruben melakukan upaya hukum dengan mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Makassar, kasasi ke Mahkamah Agung (MA), serta peninjauan kembali ke Mahkamah Agung. Namun belum ada keputusan, meski pelaku sebenarnya atas tindak pidana tersebut sudah ditangkap. 

“Pelaku sudah membuat pernyataan bermaterai pada 30 November 2006 lalu bahwa Ruben dan anaknya bukan pelaku yang sebenarnya,” terangnya.

Sementara itu, pihak Lapas Lowokwaru masih belum bisa dikonfirmasi terkait kasus itu. Untuk menjumpai Ruben pun, petugas lapas masih harus berkoordinasi dan meminta para awak media untuk kembali lagi jika sudah ada undangan.

Polisi Bantah Salah Tangkap Dua Terpidana Mati

Sementara Polres Tana Toraja membantah terpidana mati Ruben Pata Sambo dan Markus Pata Sambo adalah korban salah tangkap. Keduanya ditangkap karena terlibat dalam pembantaian keluarga Martina Labiran pada Desember 2005. Hal itu dikuatkan dengan fakta dan keterangan para saksi.

Dituding salah tangkap dalam kasus pembantaian tersebut, Waka Polres Tana Toraja, Kompol Philipus Pini berang. Menurutnya bapak dan anak tersebut merupakan dalang dari pembantaian tersebut.

”Ruben Pata Sambo, Markus Pata Sambo, dan Agustinus Pata Sambo berdasarkan fakta dan keterangan saksi, aktor utama dalam pembunuhan keji tersebut. Hal ini juga dikuatkan dalam rekonstruksi dimana para pelaku saat itu tidak ada yang menyanggah keterlibatan Ruben dan Markus,” ujarnya. 

Keterlibatan Ruben dalam kasus itu sebagai otak yang merancang pembunuhan terhadap korban. Berdasarkan keterangan saksi di Berita Acara Pemeriksaan (BAP), Ruben sempat memimpin rapat pembunuhan tersebut di rumahnya sebanyak dua kali. Ruben juga yang menjadi penyandang dana buat tim eksekusinya tersebut.

Sementara Agustinus dan Markus adalah aktor eksekusi. Mereka yang melakukan pembunuhan dan pemerkosaan serta membuang mayat para korban.

Dia juga memastikan tidak ada tekanan maupun pemukulan terhadap para tersangka selama menjalani proses penyidikan. Para penyidik kasus tersebut sudah dipanggil Polda Sulselbar. “Rencananya para penyidik ini akan memaparkan proses penyidikan kasus tersebut ke Polda Sulselbar di Makassar,” akunya.
Sementara itu, Pengadilan Negeri Makale juga menganggap penanganan hukum terkait kasus pembunuhan yang mendakwa Ruben cs sudah sesuai dengan aturan hukum yang berlaku. Di persidangan para terdakwa sudah mengakui keterlibatan mereka.

Seluruh berkas yang dikeluarkan pihak pengadilan tidak ada yang menyanggah keterlibatan Ruben dan anaknya dalam pembunuhan sadis tersebut. “Hingga akhirnya pengadilan memutuskan hukuman mati untuk keduanya,” ujar Panitera Sekretaris PN Makale, Panoto.

Dalam perkara itu kepolisian semula menahan delapan tersangka yakni Ruben, Markus Pata Sambo, Juni, Agustinus, Martinus, Tato, Ateng dan Budi. Para terdakwa yang sudah bebas adalah Tato dan Martinus, sementara Budi dinyatakan tidak terbukti bersalah. (Ant/Remond)
 
Top