GuidePedia

Bekasi, Global Post 
Namaku Dian Fitrie. Aku bagian dari Yayasan Kelima Ibu dan Anak (KIA) di Bogor, Jawa Barat. Awalnya, memang background  aku dari pecandu positif narkoba, yang sangat ditakutkan banyak orang. 

Ternyata banyak perempuan pecandu positif. Itu juga dirasakan temen-temen di Bogor, Karena kultur , semua perempuan kalau sudah bandel diasingkan oleh keluarganya, termasuk saya sendiri. Saya diasingkan dari Jakarta ke Bogor.

Dengan berjalanya waktu, akhirnya saya betah di Bogor. Banyak hal yang dapat saya lakukan. Saya mendapatkan kebahagian yang tak ternilai. Salah satunya, saya membantu  di  Kelima Ibu dan Anak (KIA)  yang ada di Bogor, agar  para  perempuan bisa bangkit, dan bisa berbagi dengan yang lain. Itu membuat saya sangat bahagia.

Di KIA, waktu itu,  gaji saya baru hanya Rp.450 ribu. Namun, saya merasa ada ketenangan batin. Ada kebahagiaan yang sangat luar biasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ternyata, saya bisa membantu orang lain. 

Dulu saya dianggap sampah. Terakhir, keluarga memberitahukan ke bapak saya, bahwa saya sudah tidak usah lagi disembuhkan. Biar tinggal mati, baru bawa pulang mayatnya ke rumah.

Mendengar itu, saya merasa sakit hati. Tapi, saya  mau  membuktikan kepada mereka  bahwa   saya bukan sampah. Tidak seperti yang dibayangkan, saya masih bisa sembuh. Meskipun orang berfikir HIV/AIDS dan pecandu tidak bisa sembuh, dan tidak bisa diharapkan lagi.
***
Saya lahir pada bulan Oktober 1982. Sejak  kelas I di bangku SMP, saya sudah   mengenal obat-obatan/narkoba, tepatnya sejak umur 12 tahun. Pada waktu, di lingkungan keluarga saya tidak ada yang pakai  narkoba.

Awalnya dari merokok dengan teman-teman.    Kita saling berbagi. Ngisap bareng dengan teman-teman. Lama kelamaan  kita makai yang terendah sampai yang ke tingkatan tinggi.

Dari situ saya mengetahui bahwa narkoba itu bukan hanya satu jenis. Ada putau, kamlet, masrum, ganja, sabu, dan alkohol. Semua kita coba. Ngetren-nya, ya putau. Akhirnya, kita pakai bareng-bareng. Lokasinya sangat mudah  dijangkau. Jalan kaki saja tidak sampai 5 menit, kita mendapatkan dibutuhkan.

Ya, awalnya rokok dulu. Posisinya gak nyandu, kalau di rumah gak ngerokok. Tapi, kalau dah ngumpul pasti ngerokok  sampai kita berani bawa pulang ke rumah dan ngerokok di kamar Lama kelamaan  orang tua mengetahuinya, karena mencium aroma asap rokok. Orang bilang anakku dah mulai gak beres nih.

Awalnya kita coba-coba di luar, akhirnya menjadi pecandu. Kita pakai putau, karena putau itu high class. Sabu juga termasuk high class. Hanya orang-orang yang mampu saja yang bisa  membeli  dan menikmatinya.
 Sekarang saya ingin memberi  yang tebaik buat hidup saya. Masih banyak teman-tema yang membutuhkan pertolongan, terutama bagi kaum wanita dan anak kecil. Sebenarnya sering yang berbuat dosa itu adalah orang tuanya, tapi dampaknya ke anak.

Saya merasa sangat beruntung masih bisa berbagi sama teman-teman, padahal dulu saya dianggap sampah tak berguna. Sekarang saya bisa membuktikannya, terutama kepada keluarga saya. (Susi Kj)
 
Top