Sabtu, 07 April 2012

Bintang Sinetron, Fandy Kristian: Produksi PH SinemArt Lebih Bekualitas

Jakarta, Global Post
Karir pesinetron tampan Fandy Kristian yang kini sudah genap berusia 26 tahun, semakin popular menghiasi layar televisi kita. Terbukti,  saat ini dirinya semakin mantap mengikat kontrak ekslusif dengan sebuah PH besar yang dipimpin Leo Sutanto, yakni SimaArt.  “Dikontrak  menjadi pemain ekslusive di PH besar seperti SinemaArt, adalah prestige  sebagian besar para bintang sinetron tanah air,” ujar artis sinetron yang lebih suka dibilang sebagai pemain sinetron itu, saat dijumpai Global Post, di Citos, baru baru ini.

Bagi Fandy, SinemaArt adalah PH yang sangat besar. “Sebagai pemain , saya sangat mengakui kwalitas maupun kwantitas produksinya. Apalagi Leo Sutanto  adalah seorang produser yang memiliki insting dan nalar bisnis yang luar biasa,” tuturnya lagi.
 
Terbukti para pemain  yang dikontrak ekslusive oleh SinemaArt,  seperti mendapatkan gengsi tersendiri. Namun, Fandy juga tidak berarti memberikan respon negative terhadap banyak PH baru yang bermunculan.
“Bukan berarti tidak berkwalitas, akan tetapi kalau bicara rutinitas dan profesional management, jelas saya merasa lebih nyaman bila iikat oleh PH yang sudah berkelas, dan sudah memiliki brand seperti SinemArt,”  ujarnya diplomatis.

Bagaimana soal honor? “Saya tidak menampik honor  di PH yang sudah dikenal seperti SinemArt akan lebih terjamin. Mereka lebih bisa menghargai,” ucapnya.

Fandy juga mengungkapkan, kalau seorang pemain sudah dikontrak ekslusive, bukan berarti mau dimonopoli oleh satu PH saja. Akan tetapi, katanya, kalau dilihat dari kaca mata bisnis sudah jelas akan semakin membawa perubahan dan persaingan yang lebih baik, di antara banyaknya rumah produksi yang musti dipilih oleh seorang calon pemain. 

“PH yang tidak jelas dan hanya sekedar coba coba berbisnis di produksi sinetron, dapat diukur kemampuan managementnya. Dari situ dulu,”  ungkapnya. 

Disinggung mengenai kapan maried, Fandy hanya bilang tidak selalu apa yang  dilakoninya mesti diceritakan lewat media. “Yang pasti, setelah mencapai tahap berumah tangga, harus benar-benar sukses dalam berbagai hal,” tandasnya.

Fandy mengibaratkan dirinya sedang berjalan, setapak demi setapak ingin dilaluinya dulu dengan baik dan penuh keyakinan. “Saya tidak mau pada saatnya tidak siap, ya seperti saya ungkapkan tadi. Kalau pas di perjalanan tiba-tiba ada batu besar menghalangi langkah kita dan kita tidak mampu menyingkirkannya, kan bisa runyam ,” kata Fandy. (Dino /An)  
    
Ada  Yang Tak Biasa
By: Bob Doang “Sapu Lidi & Imah Seniman  

Bandung, Global Post
Gemericik air kali nan bening  terasa sangat menyejukkan hati. Apalagi, canda ria ikan-ikan yang berenang di sekeliling danau buatan itu seolah mengajak bercanda dan membuat  hati kita semakin terhibur. Kepenatan karena stres oleh rutinitas dan kesibukan selama bekerja, rasanya langsung hilang seketika ditelan indahnya alam yang begitu mempesona dan menyiratkan rasa ada yang tak biasa.    
                 
Kota kembang Bandung, telah melahirkan sebuah inspirasi dan imajinasi dalam hidup ini. Seorang lelaki baya yang nyentrik dan lebih suka dibilang seniman serta bergaya apa adanya, adalah Bob Doang.

Bbegitulah nama yang sudah tidak asing lagi bagi para wisatawan lokal maupun asing yang datang berkunjung ke Sapulidi Resort dan Imah seniman yang berada di kawasan wisata Lembang Bandung. 

Dalam kesempatan waktunya, Bob Doang berbagi cerita kepada Global Post seputar flash story dan cita  cita yang masih diimpikannya. Tidak terbayang olehnya, kalau bisnis usaha dagang makanan telah mengantar dirinya patut untuk dibincangkan dan telah menjadi inspirasi bagi banyak orang yang ingin meniru bisnisnya.
Nama Sapu Lidi, kata Bob, adalah merek dagang kali pertama dirinya memulai merintis usaha bisnisnya di kota Bandung, terutama di produk pakaian dan celana yang berbahan Jeans. 

Dari mulai melukis sepatu dan dijual laku sampai bisa mengontrak tempat di Ciampelas Bandung, Bob mulai menyadari karakter yang sebenarnya dan sadar akan dirinya harus  melangkah kemana. 

Sehabis dari usaha besar yang diluar karakternya, diakui Bob telah membuat dirinya  terhempas dan jatuh bangkrut di bisnis sebelumnya . 

Mengumpulkan barang barang bekas kesana kemari hanya ingin sekedar  mendisain interior tempat yang telah dikontraknya agar kelihatan artistik bagi seorang Bob Doang, bukanlah hal yang mustahil untuk membangkitkan kembali keterpurukannya  sampai pada titik yang membuat seorang Bob Doang dapat menemukan karakter yang sesungguhnya dalam dirinya. 

Bob mulai merasakan senang. Ternyata hasil pemikiran kerasnya mendulang sukses yang luar biasa. Saat itu, kira-kira tahun 87, semua orang pasti tahu pakaian dan celana berbahan jeans dengan mode sobek sobek begitu menjadi trend setter di kawasan perbelanjaan Ciampelas Bandung. 

Ironisnya, kenang Bob, sepulang dari Jakarta karena bisnisnya hancur, dirinya benar benar tidak punya apa apa. “Jangankan uang, orang orang disekelilingnyapun enggan untuk menoleh apalagi dimintai bantuan,” katanya.
Wajar saja kata Bob Doang, di saat sukses banyak orang datang walau tidak diundang. Nah, pada saat kita berada di titik nadir siapa yang mau menolong?” ungkapnya. 

Hanya kuasa Tuhan dan keberanian  bermodal nekad serta diimbangi dengan perhitungan yang matang dalam berbagai hal, membuat Bob terpikir bahwa uang bukanlah segalanya untuk menentukan arah langkahnya.
Sapu Lidi Sawah, dan Imah Seniman membuat Bob Doang telah berubah. “Dari situlah muncul sesuatu dan ada yang tidak biasa,” ungkapnya.

Lantas? Ikuti kisah obrolan selanjutnya, agar menjadi bagian inspirasi dalam mengembangkan diri dan usaha bisnis anda.  Bersambung ..... (Anto) 
           
dr H Firman Wahyuni  &  Hj Risdianti S.Sos
Kemesraan Pasutri, Sukses Berjualan Roti Bakar 
Jakarta Selatan , Global Post 
Berawal dari usaha yang dirintis sejak tahun 1971, orang yang hobby makan roti dan mie instan Merk Roti Bakar Eddy,  kini menjadi salah satu tujuan di wilayah DKI Jakarta.

Begitulah Eddy Supardi memulai bisnisnya. Kini, dia memiliki sembilan cabang  kedai yang tersebar di Jakarta. Semuanya sangat ramai dikunjungi pembeli.  Di tengah  persaingan ketat banyaknya produk kuliner yang ada, kedai roti bakar Eddy sampai saat ini  masih menjadi trend setter dan top rating bagi kaum muda yang suka roti  bakar dan aneka makanan lainnya.

Ada pepatah bilang, buah jatuh takkan jauh dari pohonnya. Rupanya, hal itu dijawab oleh Hj Risdianti S.Sos sebagai generasi penerus yang mengikuti jejak ayahandanya, membuka kedai roti bakar. 

Dari Empat bersaudara Hj Risdianti S.Sos, mengaku enjoy dalam bekerja,  dengan usaha yang ditekuni sekarang. “Bekerja adalah bagian dari ibadah,” tuturnya. 

Sekarang, mengelola dan membawahi management  di lima cabang, dengan total karyawan mencapai 150 orang, Hj Risdianti S.Sos merasa bersyukur kepada Allah Swt , yang telah melimpahkan rezki diusahanya, sehingga dapat membina kesejahteraan karyawannya dan masa depan bagi keluarganya. 

Ia mengatakan, pekerjaan yang ditekuninya sekarang bukan sekedar cari uang,  akan tetapi merupakan sebuah hidayah, anugerah dan amanah yang diberikan oleh Allah Swt. 

dr H Firman Wahyuni sebagai suami  tentu sangat mendukung dalam usaha yang di kelola isterinya. “Pada intinya membina rumah tangga dan usaha serta tidak lupa berdoa  haruslah seiring sejalan,” begitu pesannya.

Ibarat Pasutri, kata dia, harus dapat saling menjaga amanah sebuah pernikahan dan dapat mensyukuri yang ada. “Dalam hidup saya tidak muluk – muluk, kemesraan dunia juga harus diimbangi dengan bekal kebahagiaan menuju akhirat nanti,” tegasnya  di sela sela pembukaan kedai yang baru dibukanya di Jalan Ciledug Raya Petukangan Selatan, Jakarta Selatan, tidak jauh dari Kampus Budi Luhur.

“Jadi, bagi penikmat Roti Bakar Eddy Mania di seputaran Ciledug dan Tangerang, sudah nggak perlu jauh lagi,  kalau mau mampir dan kangen makan roti bakar Eddy,”  sapanya sambil berpromosi. (Rudi-73)    

Dhita Sari,
Bintang Kecil  Kembang Bandung

Bandung , Global Post
Di usianya yang baru menginjak 6 tahun dan masih duduk  di bangku  nol besar TK Assalam  di Bandung, putri pertama dari pasangan Bambang dan Maya ini, mengatakan kalau merasa sudah sangat siap terjun kedunia artis, khususnya di seni peran sinetron maupun film.
                
 Dia adalah Dhita Sari. Kemampuannya sudah kelihatan sekali, bahkan beberapa Ph besar besutan rumah produksi Jakarta sudah pernah melibatkan diirnya.
                
 “Saya sudah pernah bermain di sinetron Garuda Impian SCTV, sinetron Satria Indosiar, dan sinetron Fathiyah MNCtv,” ungkap Dhita Sari, saat ditemui Global Post, baru baru ini.
                 
Gadis belia yang berparas ayu ini mengaku telah menyabet berbagai prestasi di dunia modeling. Hal itu juga dibenarkan kedua orang tuanya, dengan mengatakan bahwa putrinya memiliki keinginan yang kuat untuk terjun ke seni peran. 

Bambang selaku sang ayah, terkadang juga mengkhawatirkan Dhita pada saat syuting. Karena, diakuinya, proses syuting terkadang sangat menyita waktu sampai pagi. “Tapi, mau bagaimana lagi yang penting dapat dijalani dengan baik dan profesional,” ujarnya member alasan.

 Bambang mengungkapkan bahwa dirinya selaku orang tua siap mendukung karir putrinya yang lagi naik daun. Sedangkan Maya, ibundanya selalu setia mendampingi putrinya, termasuk  untuk menjaga kondisi dan mengatur jadwal kegiatan syuting agar semuanya dapat berjalan dengan baik. “Prestasi dan sekolah harus seiiring,” katanya memberi penjelasan.
Pengakuan lain datang dari Usep dan Freddy selaku koordinator Agency dan pencari bakat D. Pro yang bermarkas di Jl Geger Kalong Tengah No. 79 Bandung. “Bakat dan kemampuan Dhita sudah tidak perlu diragukan lagi,” katanya. 

Freddy juga sering mengaudisi beberapa pendatang baru yang seumuran Dhita, akan tetapi yang memiliki multi talenta seperti Dhita diakui Freddy sangat jarang sekali. 

Dhita, khususnya di Bandung, setiap ada acara kontes modeling selalu jadi buah bibir. “Rasanya suatu saat diprediksi bisa menjadi kembang Bandung yang meramaikan blantika industri sinetron dan film kita,” harap Freddy di akhir obrolannya, saat mendampingi Dhita dan kedua orang tuanya . (Sugeng)

Poppy Nopriadi, Kabag Humas & Protokol Pemkot Serang  
“Berwisata Sambil Belajar”
Sukabumi, Global Post
Hujan baru saja mereda setelah hampir tiga jam mengguyur perkampungan Baros,  Sukabumi, Jawa Barat. Terik  panas matahari sontak berganti udara sejuk nan segar. Hari itu sejumlah official off roader dari berbagai daerah semua berkumpul di Bukit Kemuning. Tidak terkecuali Tb Haerul Jaman, Walikota Serang, Banten, juga turut  menguji udrenalin dengan mobil off road barunya. “Bagi Pak Walikota, di luar dinas tidak ada salahnya menyempatkan diri jalan-jalan kedaerah lain,“ ungkap Poppy Nopriadi, Kabag Humas dan Protokol Pemkot Serang kepada Global Post. Bagi Poppy sendiri, setiap berwisata ke daerah lain di Indonesia ataupun ke luar negeri yang jadi incarannya,  bukan sekedar ingin menikmati kuliner ataupun sekedar jalan-jalan biasa. Akan tetapi, dengan sering berkeliling ke daerah lain justru ada nilai tambah yang dilihatnya. “Berwisata sambil belajar dapat menimbulkan gagasan,” tutur Poppy.
Sebagai Kepala Bagian Humas dan Protokol Pemkot Serang, Poppy menyadari pentingnya untuk belajar dari kemajuan - kemajuan wisata yang dicapai di daerah lain. “Terkadang, untuk mendapatkan sebuah konsep dan strategy komunikasi yang baik, tidak melulu harus bekerja di belakang meja,” imbuhnya.
Berwisata sambil belajar, dinilainya sebagai penggabungan konsep nyata yang tidak membosankan. Di samping dapat bernostalgia bersama keluarga, Poppy juga bangga kalau pada akhirnya dari apa yang dilihatnya juga dapat dikembangkan di tempatnya bertugas, Kota Serang, yang juga memiliki wilayah yang sangat potensial untuk wisata alam maupun wisata sejarah dan religi. 

Kabag Humas dan Protokol Pemkot Serang itu berpendapat, olah raga otomotif juga memiliki pangsa pasar yang sangat menjual. Di samping olahraga otomotif diikuti oleh para kalangan tertentu, komunitas para off roader yang rata-rata berjiwa petulangan, kegiatan ini dapat mampu menjalin kekuatan jiwa sosial, bahkan memiliki daya tarik tersendiri untuk menyedot para wisatawan lokal maupun asing,” urainya. 

Tidak heran, kalau Poppy sangat senang dengan adanya rencana Pemkot Serang untuk mengadakan cara serupa. Kegiatan ini bekerjasama dengan Event Organizer Jakarta, PT Multi Deltindo dan tvOne. Terlebih akan diundang para off roader dan para wisatawan untuk datang ke Kota Serang.

Ya, Poppy pun tak sungkan-sungkan untuk mempromosikan kegiatan itu. “Kegiatannya tidak sekedar melihat atraksi liar para official off roader yang akan berlaga. Kegiatan yang diperkirakan berlangsung tiga hari ini memiliki nilai bakti sosial sekaligus untuk mempromosikan Kota Serang,” tutur Poppy.

Acara diperkirakannya jelas akan menarik perhatian, apalagi kemajuan Kota Serang saat sudah semakin terlihat. Poppy juga berharap agar para pecinta olah raga otomotif off roader walaupun tidak diundang secara resmi dapat datang ke Kota Serang di penghujung bulan April ini. 

“Keindahan alam Serang dan sekitarnya akan mampu menarik minat para  wisatawan, untuk melihat Serang lebih dekat lagi. Tak kenal maka tak sayang, anda tertarik  silahkan datang,” ujarnya meyakinkan. (Rudi-73)     

___________________________________________________________________________________
 
Dr H Shofiyullah Muzammil M.Ag:  
Demo Kritik Sosial Politik Seharusnya  Dilirik Para Produser & Sineas Indonesia

Yogyakarta, Global Post – Berbicara mengenai demo yang belakangan sangat marak,  bahkan beritanya hampir tiap detik menghiasi layar kaca dan media cetak lainnya. Seharusnya hal itu bisa memuka mata para produser dan sineas Indonesia. Kok, bisa? Adalah Dr H Shofiyullah Muzammil M.Ag, dosen UIN Kalijaga Yogjakarta, yang mengemukakan hal itu saat bincang-bincang dengan wartawan Global Post di Yogyakarta, belum lama ini. Bahkan, sang dosen tampak sangat serisu dengan gagasannya itu.
Padahal, Shofiyullah paham betul soal menghitung hari ketentuan dan kebijakan pemerintah mengenai kenaikan BBM yang masih tarik ulur, dan akhirnya kenaikannya diundur, yang tentu masih menyiratkan rasa was - was bagi rakyat Indonesia. 

Ironis, memang! Isu yang berkepanjangan soal BBM ini, masih menuai pemahaman yang pro dan kontra di kalangan elit politik yang duduk di kursi panas. 

“Bayangkan saja, belakangan aksi demo yang hampir merata bergejolak di hampir semua daerah, ujung –ujungnya berakhir bentrok dan  anarkis. Berita di media elektronik maupun cetak yang meliput bentrok antara aparat keamanan dan para pendemo, sudah layaknya sebuah adegan film yang jadi tontonan sehari-hari bagi  masyarakat,” urai dosen UIN Kalijaga Yogyakarta itu. 

Sayangnya, menurut Shofiyullah, para sineas film dan produser, belum banyak yang mengambil tema sosial politik, atau potensi - potensi sumber daya alam dan manusia untuk diangkat lebih mengena dalam sebuah film cerita yang enak ditonton. 

Industri film kita masih banyak yang adopsi dari bollywood. Apalagi beberapa perusahaan film India seperti MD, Multivision dan perusahaan film lainnya. Sinetron atau film yang diproduksinya tidak jauh dari konflik rumah tangga, kawin cerai, dan sangat tidak mendidik,” ungkap Shofiyullah.  

Padahal, isu sosial di masyarakat   maupun potensi-potensi sumber daya alam dan manusia sangat luar biasa dan bila diangkat ke sebuah frame yang beralur entertainment dan memiliki unsur pesan moral,  jelas mendapat respon postif dari penonton. 

“Apalagi saat sekarang  ini, terutama warga negara Indonesia, masih sangat membutuhkan  media informasi yang dapat  membidik angle potret masyarakat Indonesia yang sekarang ini boleh dibilang kronis dan mendekati akut,” tandasnya.  

__________________________________________________________________________________
 
Sulitnya Berkreatifitas Di Indonesia

Aliansi Masyarakat Peduli Acara Televisi Indonesia (AMPATI) melaporkan  RCTI ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) terkait dugaan pelecehan yang dilakukan oleh juri Indonesian Idol, Anang Hermansyah dan Ahmad Dhani.
Yenniliyan selaku produser sebuah PH di bawah bendera PT Multi Deltindo (Universal Entertainment) dalam menanggapi masalah itu, mengatakan bahwa laporan itu sebagai hal aneh. “Kenapa baru sekarang ada yang melaporkan? Bukannya soal joke, kritikan bahkan bahasa–bahasa yang sengaja dilontarkan merupakan sebuah motivasi bagi anak-anak yang ingin tampil berkreativitas, agar mereka juga menyadari dimana letak kelebihan dan kekurangan potensi yang mereka miliki,” ujarnya kepada Global Post, dengan nada serius.

Yenni pun menyesalkan pihak-pihak yang sengaja mencari sensasi lewat acara ini. “Kalau berkreativitas saja sudah mulai dibawa ke meja hukum, kenapa industri kreatif dari barat yang mulai masuk ke berbagai media ke Indonesia, terutama di media televisi—yang salah satu contohnya penayangan video klip musik yang visualisasinya banyak vulgar (terkesan setengah porno), dibiarkan lolos sensor,” tandasnya.       

Bukannya membela pihak Indonesian Idol,  Yenni hanya menilai sikap dari AMPATI itu terlalu berlebihan. “Mestinya untuk belajar itu, ya harus dikritik. Malah terkadang dimarahin. Itu semua hanyalah proses memotivasi kita untuk terus belajar, agar lebih baik. Bukan maksud untuk melecehkan, tetapi itulah prosesnya,” ungkapnya. 

Tidak hanya di pertelevisian, “ketika kita duduk di bangku sekolah ataupun kuliah, kita terkadang memperoleh teguran yang sangat keras dari seorang guru atau dosen. Apabila teguran itu memang positif apa yang dipermasalahkan?” kata Yenniliyan yang sekarang juga sibuk mempersiapkan keberangkatan crew-nya untuk risert dan hunting untuk sebuah produksi film layar lebar berjudul “Belahan Hati Di Tanah Suci”. 

Film itu rencananya akan segera diproduksi. “Kami bekerja sama dengan Kedubes di sana,” ungkap Yennidi tengah kesibukannya mempersiapkan berbagai program yang hendak diproduksinya. 

Menurutnya, kalau memang ada Violence Communication di acara Indonesia Idol, mestinya AMPATI mengirimkan teguran terlebih dahulu ke pihak yang bersangkutan, agar memperbaiki cara memberikan kritikan.

“Tidak harus dilaporkan ke KPI kan? Apakah ini hanya persaingan bisnis? Semestinya jangan menjegal sebuah kreatifitas berkesenian yang masih dianggap wajar-wajar saja dan tidak menyalahi aturan dan norma-norma yang ada,” tegasnya. (Sgng, Rudi73)

 __________________________________________________________________________________

Tb. Aria Mandalika
Ingin Jadi Bintang Bukan Karena Ayah Walikota

Sukabumi, Global Post
Berani dan punya jiwa berpetualang. Itu dasar utama kalau menggeluti  hobby otomotif, khususnya di dunia olah raga off roader. Itulah prinsip penting yang dikemukakan Walikota Serang - Banten, Tb. Hairul Jaman, saat diwawancarai Global Post, di arena off road, Bukit Kemuning Resort Baros, Sukabumi, baru-baru ini.  Sebuah prinsip yang juga dapat membangkit motivasi putra-putrinya menjadi bintang di arena penuh risiko itu.
            
 Hairul Jaman, yang mengaku berminat dan hobby off road sejak remaja itu, mengatakan bahwa dirinya juga merasa bangga, karena kedua putranya memiliki hobby yang sama dengan dirinya: suka dengan tantangan.
            
 “Kedua putranya Tb. Udra Sengsana, Tb. Aria Mandalika  lebih memilih motor cross. Kalau yang paling kecil sukanya baru jalan–jalan,” kelakar Tb. Hairul Jaman.

Melihat bakat dan minat putra-putrinya, Walikota Serang itu tidak ragu-ragu untuk selalu memberi dorongan dan dukungan. Sebab, menurutnya, mendidik anak sekarang berbeda dengan didikan orang tua di jaman dahulu, yang  apa–apa musti mengikuti kemauan sang orang tua. 
  
 “Keinginan untuk maju sang anak, apalagi sudah bermental  mandiri, serta berani ambil sikap untuk menentukan pilihannya, sudah merupakan gaya pemikiran yang mustinya dimiliki oleh anak - anak kita sebagai generasi penerus masa yang akan datang,” ujarnya dengan nada mantap.           
Kebiasaan tidak selalu memanjakan putra–putrinya, kata Tb. Hairul Jaman, juga merupakan kebiasaannya yang tidak bisa ditawar – tawar. 

“Ada kalanya sebagai orang tua, selalu bersikap seperti layaknya kusir delman, mencoba mengarahkan agar pola pikir dan kemauannya tidak melenceng kesana kemari,” imbuhnya.
             
Tb. Udra Sengsana dan adiknya Tb. Aria Mandalika,  juga sangat mengagumi ayahnya, Tb. Hairul Jaman—yang juga Walikota Serang itu,   pada saat turun lapangan mengikuti tantangan liar dengan mobil off road-nya . “Walau ada perasaan was-was dan sering kali deg-degan juga,” kata  Tb. Aria Mandalika.
Hobby seperti itu telah membuat dirinya semakin termotivasi untuk mengikuti jejak ayahnya, berpetualangan di arena otomotif yang penuh tantangan dan resiko tinggi. 

Tidak main – main, Tb. Aria Mandalika ingin sekali menunjukkan prestasinya, yakni  menjadi bintang lapangan di dunia motor cross.

Ditanya soal seputar kekuasaan ayahnya, yang menjabat sebagai Walikota Serang, Tb. Udra Sengsana dan adiknya Tb. Aria Mandalika, mengakui bahwa mereka justru akan merasa malu kalau sikap dan prilakunya tidak mencerminkan sebuah kepribadian yang baik dan berprestasi.

“Pada saatnya, hobby yang digeluti diharapkan membawa hasil dan prestasi yang gemilang, biar  membawa harum nama Kota Serang di seantero raya,” timpal kata Tb. Udra Sengsana.
Begitu semangat kedua putra Walikota Serang ini, yang juga ingin ikut andil mempromosikan Kota Serang lewat hobbinya. (Rudi-73)         
 

0 komentar:

Poskan Komentar