GuidePedia


Jakarta, Global Post 
Sejumlah tokoh dari berbagai elemen masyarakat yang dimotori oleh tokoh perubahan Rizal Ramli melakukan kongres perubahan menyepakati perlunya dilakukan perubahan menuju Indonesia yang lebih baik. Kongres yang dilakukan beberapa waktu lalu dihadiri berbagai kalangan masyarakat yang terdiri dari pengamat, aktivis LSM, mahasiswa, tokoh lintas agama, dan serikat buruh. Tampak beberapa tokoh seperti Ahmad Sumargono, Letnan Jenderal Purnawirawan Marinir Suharto, Letnan Jenderal Purnawirawan Tyasno Sudarto, Ichsanuddin Noorsy, Revrisond Baswir, Hendri Saparini, Romo Kristo dan lainnya.
Mayoritas tokoh dalam kongres tersebut menyampaikan bahwa rezim sekarang sudah abai terhadap rakyatnya. Rezim sekarang dinilai lebih suka berkhidmat kepada para 'majikan' asingnya yang menjajah lewat ekonomi. kekecewaaan ini pun akhirnya sampai pada kesimpulan, revolusi adalah sebuah keniscayaan.

Ekonom senior yang menggagas Kongres Perubahan, Rizal Ramli, dalam pidatonya menyesalkan sikap pemimpin yang pintar memainkan peran dalam sebuah ironitas. Di bawah kepemimpinannya yang sangat sopan, ternyata kekerasan malah berkembang biak. "Pidatonya halus santun sopan, tapi tindakan kekerasan terus dilakukannya. Tragedi Papua, Bima, Lampung terjadi. Kekerasan terjadi di mana-mana, di seluruh Indonesia. Jadi lengkaplah sudah ini," terang Rizal dihadapan ratusan massa peserta kongres.

Disampaikannya bahwa kondisi saat ini sangat ironi, di satu sisi, ada kelompok masyarakat yang berada dalam zona nyaman. Mereka menganggap tak ada masalah pada bangsa ini. Di sisi lain, ada kelompok masyarakat yang berada dalam zona menyedihkan. Mereka terjerembab dalam kubangan kemiskinan karena daya beli mereka makin lama makin merosot. Dan ternyata kelompok kedualah yang menjadi mayoritas di bangsa ini.
"Ternyata, demokrasi yang kita perjuangkan dengan susah payah hasilnya cuma begini. Tak bermanfaat untuk rakyat," kata Rizal.]

Oleh sebab itu, pemerintahan ini sudah tak layak untuk dipertahankan. Pemilu harus segera dipercepat agar masyarakat bisa kembali sejahtera.

"Kalau kita pertahankan semakin lama akan semakin rusak sendi-sendi kehidupan kita bernegara akan semakin rusak. Oleh karenanya perubahan harus dilakukan sekarang juga," kata Rizal yang juga tokoh Gerakan Perubahan ini.

Kebebasan Semu

Pengamat politik Yudi Latief pada kesempatan tersebut menyampaikan bahwa bangsa Indonesia membutuhkan pendalaman dan perluasan pemahaman berdemokrasi. Pasalnya, sejak agenda reformasi bergulir 13 tahun lalu, demokrasi yang Indonesia kembangkan berdimensi sangat parsial yaitu sekadar menganggungkan kebebasan semu.


"Seolah-olah lawan tirani itu hanya kebebasan. Oleh karena itu kalau ingin demokrasi seolah-olah, cukup hadirkan kebebasan dan dengan itu tirani berakhir," katanya.

Ditegaskan Yudi, musuh dari tirani itu bukan cuma kebebasan. Namun yang terjadi kini adalah ketidakadilan masih berkembang bebas dan luas. Bahkan dalam perkembangan terakhir, kebebasan sudah ditarik mundur ke belakang.

"Dalam kebebasan berkeyakinan, bagaimana orang Ahmadiyah, orang syiah di Sampang dieksekusi. Pembangunan gereja dibatasi seperti kasus GKI Yasmin. Kenyataannya, kebebasan sedang di roll back. Padahal itu katanya satu capaian daripada demokratisasi di era reformasi," jelas Yudi.

Dikatakannya bahwa demokrasi saat ini sudah diselewengkan, sehingga diperlukan gerakan untuk mengembalikan kembali tujuan demokrasi dengan cara yang benar agar bisa mensejahteraan rakyat. "Untuk itu, langkah pertama dan utama adalah segera hentikan rezim ini," kata Yudi Latif.

Masih menuut Yudi, untuk mengubah situasi yang tidak sesuai amanat reformasi, perubahan dibutuhkan dan tidak aneh jika dimulai dari sekelompok kecil warga negara.

"Mereka yang pro-perubahan adalah mereka yang menyimpang dari mainstream (arus utama). Oleh karena itu, gerakan perubahan selalu dimulai oleh kelompok-kelompok kecil," katanya. (Rully/Ray/Ant/SK)
 
Top