GuidePedia


Bekasi, Global Post 
Entah apa yang menjadi penyebab, tampaknya pembangunan Islamic Center Kabupaten Bekasi, terus menuai masalah. Jika masalah tender masih jadi persolan sampai sekarang, masalah tanah urugannya pun menjadi persoalan pelik yang tidak mudah diselesaikan. Ya, Bantaran Kali Kabupaten Bekasi di wilayah Kecamatan Tambun Utara, tepatnya, di Kampung Turi, Desa Sriamur, kini dijadikan sebagai tempat beroperasinya galian tanah boncos ilegal. Galian ini, selain berakibat merusak lingkungan, juga menimbulkan adanya kubangan yang sangat membahayakan kepada anak-anak di sekitar urugan tersebut.

Armada pengangkutan galian bekerja pada malam hari, dengan melintasi jalan utama Kecamatan Tambun Utara. Tanah boncos tersebut kemudian dikirim ke lokasi pengurugan proyek pembangunan gedung Islamic Center. 

Camat Tambun Utara, Suharto, mengakui bahwa galian itu bermasalah, sehingga pihaknya pun sudah dua kali melayangkan surat agar galian itu dihentikan. Namun, tidak dihiraukan. “Memang kegiatan galian itu ada. Kita sudah upayakan penyetopan melalui pendekatan, namun penanggung jawab (Mandor Ganyang) tidak mengindahkan sama sekali. Saya lanjutkan surat permohonan bantuan ke Satpol PP Pemkab Bekasi, sampai saat ini saya masih menunggu belum ada jawabannya,” katanya.

Fajar R  dari LSM Leksos mengatakan, karena kepala desa dan Camat sudah merespon, seharusnya pejabat Pemkab Bekasi yang lebih berkonpeten, khusnya Bupati, lebih tegas memberikan keputusan penghentian galian tanah boncos ilegal tersebut.

“Masalah ini akan sangat mempengaruhi basis kinerja beliau di daerahnya sendiri terkait lingkungan dan pembangunan gedung Islamic Center yang dengan menyerap anggaran yang sangat tinggi itu,” lengkap pada.
Hal senada dikatakan Rosid, salah seorang warga sekitar, mengatakan kepda Global Post. Menurutnya, galian tersebut sudah merusak lingkungan, terutama adanya kubangan dengan kedalaman yang sangat membahayakan,  baik bagi masyarakat maupun binatang. 

“Lingkungan rusak karena kedalamannya hingga mencapai 8 meter, dengan pengambilan tanah galian untuk kedua kalinya,” ujarnya. (R. Gani)
 
Top