GuidePedia


Kab. Semarang, Global Post 
Untuk mengantisipasi peredaran narkoba di wilayah hukum polres Semarang khususnya wilayah wisata Bandungan dan sekitarnya, polres Semarang telah bekerjasama dengan pemkab Semarang dan pengelola hotel, hiburan dan restoran agar tidak melindungi para pengedar atau pemakai narkoba. Kapolres Semarang AKBP IB Putra Narendra mengatakan  Bergas dan Bandungan merupakan wilayah rawan peredaran narkoba karena banyak hotel dan tempat hiburan karaoke yang menjadi salah satu sarana potensial para pengedar narkoba.
“Herman Permana alias Toni (40) pengedar sabu-sabu dan Nur Chasanah alias Echa (21) pemandu Karaoke (PK) berhasil ditangkap petugas satuan narkoba Polres Semarang usai menggelar pesta sabu-sabu di salah satu kamar hotel Matahari di desa Sekunir kecamatan Bergas Kab Semarang” kata AKBP IB Putra Narendra dalam gelar kasus di Mapolres Semarang.

Menurut Kapolres. Pengungkapan kasus narkoba tsb diawali dari informasi yang diperoleh anggota satuan narkoba dan ditindaklanjuti dengan penggerebekan di salah satu kamar di hotel Matahari dan berhasil menangkap Echa berikut barang bukti berupa satu kantong plastic sabu-sabu, seperangkat alat hisap dan dua buah handphone yang disembunyikan di bawah tempat tidur.

Echa mengakui barang-barang tersebut milik Herman Permana yang mengontrak rumah di sekitar desa Sikunir Bergas, pertugas berhasil mengamankan Herman dari tempat kosnya berikut barangbukti lima bungkus plastic kecil berisi 41 butir ekstasi, alat hisap, timbangan plastic, tiga buah handphone, buku catatan penjualan sabu-sabu dan uang sebesar Rp.3,4 juta. Sejumlah barang bukti tersebut menguatkan dugaan bahwa tersangka Herman merupakan seorang pengedar barang terlarang.

Polisi kini mengejar Bandar pemasok sabu-sabu kepada tersangka Herman, namun pihaknya sedikit kesulitan karena dalam pengakuannya Herman tidak pernah menyebut nama Bandar besar yang selama ini berperan sebagai pemasok sabu-sabu dan ekstasi tersebut.

“Bisnis narkoba menggunakan jaringan system rantai terputus, pelaku yang tertangkap selalu mengaku tidak kenal dengan pemasoknya. Ini menjadikan kesulitan pihak kami untuk membongkar jaringan yang lebih besar” kata AKBP IB Putra Narendra.

Sementara Herman mengakui baru tiga bulan menjadi pengedar sabu-sabu di wilayah kab Semarang dan mendapatkan sabu-sabu dari Jakarta melalui seorang kurir. “Saya pesan melalui telepon dan dikirim lewat kurir, sampai saat ini saya tidak kenal dengan bandarnya” kata Herman yang pernah ditahan di Surabaya dengan kasus yang sama. (Rz)
 
Top