GuidePedia


Oleh :
Mudjadid Dulwathan

Memasuki Peringatan hari Hak Asasi Manusia (HAM) Sedunia, 10 Desember  lalu oleh banyak orang dianggap sebagai peringatan munculnya peradaban manusia yang adil dan terlepas dari berbagai penindasan dan eksploitasi. Tapi, tak sedikit kalangan yang menganggapnya sebaliknya. Maraknya fenomena kemiskinan, kesenjangan, kelaparan, pengangguran, eksploitasi dan penindasan di berbagai wilayah dunia adalah fakta empiris yang menguatkan pandangan bahwa HAM belumlah menjadi 'dewa penolong'. Lihatlah betapa kesenjangan masih mewarnai wajah penduduk dunia. Trend kemiskinan semakin memburuk, jurang kesenjangan kian menganga, badai kelaparan kencang menerpa, pengangguran menggunung, berbagai bentuk eksploitasi bahkan penindasan terus saja berlangsung.

Data yang bisa dihimpun dari berbagai riset dunia melaporkan situasi yang sangat memprihatinkan. Jumlah orang miskin yang hidupnya kurang dari 1 dolar sehari meningkat dari 1,197 miliar jiwa pada 1987 menjadi 1,214 miliar jiwa tahun 1997 (20% dari penduduk dunia). Sementara 1,6 miliar jiwa (25%) penduduk dunia lainnya hidup antara 1-2 dolar per hari.
 
Kesenjangan pendapatan antara 1/5 penduduk dunia di negara-negara kaya dengan 1/5 penduduk di negara-negara termiskin meningkat 2 kali lipat tahun 1960-1990 dari 30:1 menjadi 60:1. Pada 1998 meningkat menjadi 78:1. Dua puluh tahun lalu, perbandingan pendapatan rata-rata di 49 negara terbelakang dengan pendapatan negara-negara terkaya adalah 1:87. Saat ini menjadi 1:98.

Sejak 1994-1998, nilai kekayaan bersih 200 orang terkaya di dunia bertambah dari 40 miliar dolar menjadi lebih dari 1 triliun dolar. Aset 3 orang terkaya lebih besar dari gabungan GNP 48 negara terbelakang. Jumlah miliarder meningkat 25%, dua tahun terakhir menjadi 475 orang dengan nilai kekayaan lebih besar dari 50% penduduk termiskin dunia.

Seperlima orang terkaya di dunia mengonsumsi 86% semua barang dan jasa, sementara 1/5 orang termiskin di dunia hanya mengkonsumsi kurang dari 1% saja.

Gambaran tersebut masih harus diperparah oleh fakta di seluruh dunia bahwa kira-kira 50 ribu orang meninggal setiap hari akibat kurangnya kebutuhan tempat tinggal, air yang tercemar, dan sanitasi yang tidak memadai. Kelaparan adalah fenomena ironis lainnya, yang disebabkan oleh kenyataan bahwa pengembangan perdagangan dunia lebih dititikberatkan pada negara-negara Utara (negara-negara maju), sementara perluasan utang lebih diarahkan ke negara-negara Selatan (negara-negara berkembang). Ironisnya, pada 1997, 78% anak-anak di bawah usia 5 tahun yang kekurangan gizi di negara-negara sedang berkembang sebenarnya hidup di negara-negara surplus pangan.

Dewasa ini 826 juta manusia menderita kekurangan pangan yang sangat kronis dan serius, kendati dunia sebenarnya mampu memberi makan 12 miliar manusia (2 kali lipat dari penduduk dunia) tanpa masalah sedikit pun. Jumlah orang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan gizinya diperkirakan bertambah besar hingga 3%, dari 1,1 miliar tahun 1998 menjadi 1,3 miliar orang tahun 2008. 

Duapertiga penduduk Afrika Sub-Sahara dan 40% penduduk Asia mengalami kekurangan pangan pada tahun 2008. Setiap hari 11 ribu anak mati kelaparan di seluruh dunia, sedangkan 200 juta anak menderita kekurangan gizi dan protein serta kalori. Lebih dari 800 juta menderita kelaparan di seluruh dunia dan 70% di antara mereka adalah wanita dan anak-anak.

Pada akhir 1998, kira-kira 1 miliar pekerja (1/3 dari tenaga kerja dunia) menjadi pengangguran atau setengah pengangguran. Angka tersebut merupakan yang terburuk sejak Depresi Berat pada tahun 1930-an.
Para pengusaha menggunakan fleksibilitas ekstra dalam undang-undang ketenagakerjaan (yang diwajibkan IMF dan Bank Dunia) untuk lebih banyak mengurangi dan merampingkan pekerjaan ketimbang memperbesar kemampuan produktif maupun menciptakan lapangan kerja. Sebanyak 200 perusahaan terbesar dunia menguasai 30% perekonomian dunia kendati mereka hanya memperkerjakan 1% angkatan kerja dunia. Sementara keuntungan mereka membengkak 362,4% antara tahun 1983-1999, mereka hanya menambah tenaga kerja sebesar 14,4%.

Melihat kenyataan tersebut, kita pun bertanya, di mana letak HAM yang senantiasa diserukan ke seluruh penjuru dunia (terutama oleh negara-negara maju) itu jika berbagai fakta keterpurukan di atas masih saja dibiarkan melanda penduduk dunia (terlebih di negara-negara sedang berkembang dan juga negara-negara terbelakang).

Jika HAM didefinisikan sebagai hak yang melekat dalam diri manusia dan pemenuhannya tidak dapat ditawar-tawar, bukankah kelaparan, kurang, gizi, kemiskinan merupakan hal yang juga tak bisa ditawar-tawar? Jika hak untuk hidup adalah bagian dari hak asasi, bukankah kemiskinan, kelaparan, pengangguran, eksploitasi adalah bentuk-bentuk ancaman bagi hak hidup itu sendiri? Jika demikian, sebagai penyeru slogan HAM, negara-negara maju mestinya dituntut untuk bertanggung jawab atas semua yang terjadi.

Tapi, apa yang terjadi sangatlah paradoks. Berbagai skenario yang disusun negara-negara maju (negara donor) untuk menghapuskan berbagai fakta kesenjangan tersebut hanya akan mengantarkan pada jebakan-jebakan baru yang jauh lebih kronis. Mantan Presiden Venezuela, Carlos Andres Perez, mengatakan, IMF membunuh umat manusia tidak dengan peluru ataupun rudal tetapi dengan wabah kelaparan dan kemiskinan.
Pernyataan tersebut tampaknya tak berlebihan, mengingat solusi yang ditawarkan Bank Dunia kepada negara-negara yang selama ini 'katanya' akan diobati penyakit kemiskinannya, tak sedikit yang malah berujung pada ketergantungan hebat kepada lembaga-lembaga tersebut. Alih-alih menciptakan peradaban manusia yang adil, seruan-seruan HAM malah melahirkan berbagai penindasan dan eksploitasi yang tiada henti. Quo vadis HAM! Penulis adalah; Ketua Umum Lembaga Perlindungan Hak-Hak Asasi Manusia Independen di Indonesia, Praktisi hukum dan dosen widya iswara Pusdiklat Kementerian Perdagangan RI.
 
Top