GuidePedia


Magelang, Global Post
Pembangunan alun – alun Magelang yang terletak di pusat kota Magelang, yang menelan dana sebesar Rp. 6.5 milyar—dari APBD Tingkat I Rp 4 milyar dan APBD II Rp 2,5 miliar—sampai saat ini masih berjalan.
Pembangunan alun–alun ini telah dimulai sejak bulan Agustus. Padahal, APBD 2011 telah disyahkan pada 29 Desember 2010 dan dana/uang akan cair 2 sampai 3 bulan kemudian. Ironisnya, pelaksanaan pembangunan yang dimulai bulan Agustus 2011 bersamaan dengan datangnya musim hujan.  Suatu pembangunan yang dilaksanankan pada musim hujan selalu bisa dipastikan kualitas maupun keawetannya tidak dapat dipertanggungjawabkan.
“Pembangunan alun – alun (trotoar) di kota Magelang jelas perlu diapresiasi karena untuk memperindah atau mempercantik pemandangan,” ujar Ahmad S,  pendiri LSM At’Taqwa saat bertemu Global Post di lokasi pembangunan alun – alun kota Magelang.

Namun, menurut dia, perlu dikaji ulang karena ternyata pembangunan trotoar kali ini menggunakan keramik yang kualitasnya bukan kw 1,  dan menggunakan keramik yang mengandung sifat licin yang tidak bisa menyerap air.

Trotoar berfungsi untuk pejalan kaki danjuga pembatas jalan, yang dibawahnya ada saluran air sebagai saluran irigasi. Tidak menutup kemungkinan suatu saat akan ada orang jatuh terpeleset yang bisa mengakibatkan gegar otak.

Apabila ada kasus seperti itu, keluarga korban dapat mengajukan gugatan kepada Pemerintah Kota Magelang atau Wali Kota, berdasarkan pasal 1365 KUHPerdata, “Setiap  perbuatan melanggar hukum yang membawa kerugian kepada seorang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut”. 

Dasar tuntutn itu adalah perbuatan melanggar hukum yang dilakukan oleh pejabat (on recht matige overheidsdaad). Karena tugas pejabat salah satunya adalah memelihara keamanan dan keselamatan warganya. Hal ini jelas bertentangan dengan pasal tersebut.

“Pembangunan trotoar memang sudah harus dilaksanakan karena memang sudah selayaknya diganti,” ujar Lie Anto Saputro dari PDIP saat ditemui Global Post di gedung DPRD Kota Magelang beberapa waktu lalu.
Pembangunan alun – alun ini bertujuan untuk menjaga kawasan alun – alun sebagai pusat rekreasi, kata dia, untuk kelancaran lalu lintas karena sering terjadi kemacetan terutama di depan Trio Plaza. Selain itu, untuk penertiban area parkir yang terkadang menyebabkan kemacetan lalu lintas,  juga untuk penataan para pedagang kaki lima (PKL).

Dengan diperbaikinya kawasan alun – alun akan tampil bersih sehingga akan nampak indah. Namun, apalah artinya keindahan bila bisa mengakibatkan kecelakaan? Karena keramik yang dipergunakan bukan kw 1. Hal ini bisa mengakibatkan lantai licin dan membahayakan bagi pejalan kaki terutama anak – anak kecil. Karena sudah beberapa kali hal ini terjadi. 

Jadi, memang perlu dikaji sudahkah pembangunan ini sesuai dengan standar pelayanan publik dan mengacu pada analisa mengenai dampak lingkungan (AMDAL). (S.Uni – Fiyan)
 
Top