GuidePedia


Tangerang, Global Post
Konflik berkepanjangan terjadi dalam pembagian hasil dari penjualan tanah almarhum H Asmar yang terletak di Desa Belimbing Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang. Tanah itu tercatat dalam SPPT No : 36.19.161.008.002-0062.0 Persil : 4a.IIIC : 918, Luas : 4878 M2 dengan batas-batas ; Sebelah Utara tanah milik Iskandar, Sebelah Timur Jl. Pipa Pertamina, Sebelah Selatan tanah milik Dulgani atau Ratna, sebelah Barat Jl. Tanggul Kali. Sedangkan kepemilikan tanah diperoleh berdasarkan Girik No. 918, tanggal 13 Juni 1977, dari nama Amiah kepada H. Asmar (ahli waris), dengan luas tanah keseluruhan sebesar 8.937 m2.
Berdasarkan ahli waris dari Amiah kepada H Asmar yang merupakan anak kandung dengan memiliki istri 2 orang yang benama Alm. Hj. Sapinah dan H Onah, serta memiliki 10 orang anak yang benama Hj. Hapipah (53) yang betempat tinggal di Kampung Melayu Desa Kampung Melayu Barat Kec. Teluk Naga, Sahroni (49) yang bertempat tinggal pemukiman Selembaran Jaya Kec. Kosambi, H. Sarnubi (47) yang bertempat tinggal di Rawa Lini Desa Teluk Naga Kec. Teluk Naga, Siti Ropiah (44) yang bertempat tinggal di Kp. Melayu Barat, desa Kp. Melayu Barat, Kec. Teluk Naga, Uum Komalasari (41) yang bertempat tinggal di Kp. Kali Jaya, desa Kp. Melayu Barat, Kec. Teluk Naga, Maryani (38) yang bertempat tinggal di Pondok Gede desa Kp. Melayu Barat, Kec. Teluk Naga, Syahrudin (34) yang bertempat tinggal di Kp. Melayu Barat, tinggal di Salembaran Jaya Kel. Salemabaran Jaya Kec. Kosambi, Oriah BT H. Amang yang bertempat tinggal Salembaran Jaya Kel. Salembaran Jaya Kec. Kosambi Kab. Tangerang.
            

 Selanjutnya, ahli waris dari Alm. Asmar alias H. Amang sebanyak 10 orang menjual tanah warisan di jalan Pipa Desa Belimbing Kec. Kosambi Kab. Tangerang sebesar 4878 m2 kepada Suhaimi Limsa (60) yang beralamat di Taman Harapan Indah Kel. Jelambar Baru, Kec. Petembamburan, Kotamadya Jakarta Barat.
Penjualan tanah itu dilakukan di hadapan Notaris Ida Rosyidah SH MKN, pada tanggal 23 Oktober 2011, untuk dibuatkan Akta Jual Beli, yang memenuhi persyaratan yang telah ditentukan, seperti  Surat Pernyataan Tidak Sengketa, Surat Keterangan Riwayat Tanah dari Desa Belimbing, Kec. Kosambi Kab. Tangerang.
Namun, setelah uang muka diterima ahli waris tanah atas nama H. Amang alias H. Asmar selaku pihak penjual dari Suhaimi Limsa (60) selaku pihak pembeli, maka konflik pun mulai terjadi.
             
Pihak yang menggugat mengatakan bahwa warisan itu harus dibagi-bagi dari pihak keluarga besar istri pertama H Iyang yang bernama Alm. Acah.

Mereka beranggapan tanah tersebut merupakan warisan dari kakek uyutnya yang diwariskan pada istri ke-2 H Iyang (Alm) kepada Hj. Amiah, dan diwariskan lagi kepada anaknya yang bernama H. Amsar. Padahal, secara tertulis dan aktualnya berdasarkan Girik No. 918, tanggal 13 Juni 1977 dari nama Aminah kepada H. Asmar (Ahli Waris), dengan luas tanah keseluruhannya sebesar 8.937 m2.

Selama menikah dengan H. Iyang (alm) tidak pernah memberikan warisan apapun kepada anak maupun cucu-cucunya dari ke-3 istrinya. Tanah tersebut merupakan harta dari Alm. Hj. Amiah selama masa hidupnya, sebelum meninggal dunia mewariskan kepada anak-cucunya.
Secara hukum keluarga besar Alm. H. Asmar dan ahli waris merupakan pemilik tanah tersebut. Tidak adanya pihak dari istri pertama maupun ketiga di dalam pembagian warisan tersebut, diduga adanya otak pelaku yang mencari keuntungan pribadi untuk memperkaya diri.
Selain permintaan dari keluarga Alm. Acah agak memaksa dengan aturan sendiri yang dibuat diantaranya : 

Uding (anak dari Aiing & cucu dari alm. Acah), Iskandar (anak dari Pocang & cucu dari alm. Acah), RW. Pinan, Mandor jadi alias buntung (anak dari Arah & cucu Alm. Acah) mereka meminta bagian penjualan dari warisan alm. H. Asmar sebesar 1.000 m2 s/d 2.000 m2. “Selain itu, adanya tuntutan lain termasuk dalam proses pelengakapan suat-surat riwayat tanah,” ungkap Syahrudin alias Udin.
            
 Menurut Kuasa Hukum dari Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Wartawan Demokrasi Indonesia (LBH-AWDI), Sanggam L Tobing SH, konflik yang terjadi dari penjualan tanah Alm. H. Asmar merupakan perkara kriminal yang dilakukan oleh keluarga besar dari istri pertama Alm. H Iyang yang bernama Acah.
“Keluarga besar dari alm. Acah yang meminta bagian dari hasil penjualan tanah alm. H. Asmar yang dianggap merupakan warisan dari kakeknya kepada Alm. Amiah dan ahli warisnya. Padahal, kenyataan merupakan harta kekayaan dari alm. Amiah sendiri, karena sepeninggalan alm. H. Iyang tidak pernah memberikan apapun terhadap istri yang 3 orang tersebut. Kenapa pihak keluarga dari istri pertama mempermasalahkan bahwa tanah tersebut merupakan ahli waris,” urainya.

Secara hukum, tegas  Sanggam L Tobing SH, kliennya sangat kuat dimata hukum. Sebab, sumber surat sangat jelas dan tidak ada sengketa. “Dugaan kami ada oknum yang memprovokasi semua konflik ini kepada keluarga besar alm. H. Iyang, diluar saudara kandung alm. H. Asmar yang mencari keuntungan pribadi guna memperkaya diri,” ujarnya.
             
Sanggam L Tobing SH mentakan, apabila ada pihak keluarga besar alm. H Asmar dan ahli warisnya yang diganggu, baik dalam bentuk ancaman maupun kekerasan, akan ditindaklanjuti secara hukum. 

“Sudah banyak diceritakan dari pihak ahli waris tanah atas nama alm. H. Asmar. Ada perusakan patok, sebanyak tiga kali dihancurkan oleh oknum yang mengatasnamakan keluarga besar. Tindakan yang dilakukan oleh oknum aparat desa dan keluarga besar alm. Acah merupakan tindakan pidana,” tegas Sanggam, SH.
 Kepala desa yang dimaksud ketika hendak dikonfirmasi wartawa tidak bisa ditemui di kantornya maupun di rumahnya alias menghindar dari sorotan lampu kamera dan pertanyaan dari beberapa wartawan. (Team AWDI)
 
Top