GuidePedia


Semarang, Global Post 
Tidak bisa dipungkiri, belakangan ini kota Semarang memang lebih tertata, karena terus bersolek dengan berbagai pembenahan.  Masalah banjir yang merupakan problem klasikpun—meski belum hilang, sudah ada beberapa titik lokasi yang berkurang. Sayang, di tengah hiruk-pikuk kesibukan pembenahan kota, serta gema senandung Semarang Setara, ada persoalan sederhana tetapi menyangkut keselamatan manusia yang terabaikan.
Dikatakan terabaikan, karena sudah berlangsung bertahun-tahun. Sudah berganti Walikota, sudah berganti Dirlantas (Selamat Datang Kembali, Pak Naufal/Dirlantas Polda Jateng, AKBP Drs M Naufal Yahya, M.Sc.ENG), dan sudah berganti pula Kasat Lantas (Selamat Datang Kembali Pak Jaladri/Kasat Lantas Polrestabes Semarang, AKBP Dwi Tunggal Jaladri SIK, SH, MHum).

Dikatakan sederhana, karena hanya masalah Traffic Light. Ironisnya, Traffic Light sebagai “petunjuk resmi” dari pemerintah kepada masyarakat, ternyata ada yang berpotensi mencelakakan keselamatan jiwa manusia.
Bisa jadi, judul itu dinilai mau bikin heboh-hebohan, alias bikin sensasi. Namun, begitulah adanya, Judul tersebut bukan sensasi, tapi bisa saja hal itu merupakan sebuah ancaman yang realistis.

Penggunaan kalimat neraka, karena pada dasarnya tiap manusia tidak ada yang memiliki ticket (jaminan) akan masuk surga, kecuali atas Kehendak-Nya. Karena itu, tiap manusia lebih berpeluang untuk masuk neraka. Na’ udzubillahi minjalik…

Lalu apabila ada umat manusia yang Masuk Neraka meskipun sebatas kiasan, apakah kesalahannya hanya sebatas pada orang-orang yang terlibat kecelakaan?  Padahal, yang (mungkin) terlibat kecelakaan nantinya adalah orang-orang yang merasa benar, karena masing-masing diperbolehkan pemerintah untuk melajukan kendaraannya dengan sinyal lampu Traffic Light berwarna hijau.

Terkait dengan Perempatan Neraka itu, yaitu adanya perempatan jalan yang sangat membahayakan bagi pengendara beserta penumpangnya, baik kendaraan roda dua maupun lebih. Salah satu perempatan tersebut adalah yang berlokasi di Jalan Madukoro menuju Jalan Arteri RE Martadinata dan menuju Jalan Puri Maerokoco,  yang memiliki dua lajur jalan dengan pembatas sungai.  

Pada perempatan tersebut, lampu Traffic Light menyala hijau dari kedua arah yang bersimpangan. Dari arah Jalan Madukoro, kendaraan diijinkan oleh Pemerintah untuk lurus menuju Jalan Puri Maerokoco, ke Jalan Arteri RE Martadinata arah kiri menuju Kali Banteng dan kanan menuju Pelabuhan Tanjung Mas. 

Padahal, secara bersamaan, kendaraan dari Jalan Puri Kaerokoco lajur satunya, juga diperbolehkan untuk menuju Jalan Arteri RE Martadinata kea rah kiri menuju Pelabuhan, ke kanan menuju Kali Banteng, serta lurus menuju Jalan Madukoco.
Dengan demikian, potensi terjadinya kecelakaan di lokasi tersebut sangat besar. Karena kendaraan dari Madukoro yang akan jalan lurus dapat ditabrak oleh kendaraan dari arah Jalan Puri menuju Arteri arah kanan.
Demikian halnya dengan kendaraan dari arah Madukoro yang akan menuju Pelabuhan, dapat ditabrak oleh kendaraan dari Jalan Puri yang akan lurus ataupun kea rah kanan.

Bila kecelakaan terjadi pada perempatan tersebut, tentunya kedua belah pihak enggan disalahkan, karena merasa masing-masing sudah diijinkan untuk jalan dengan isyarat lampu traffic light menyala hijau. Lalu, siapakah yang patut disalahkan? Lalu dengan menyalahkan sesuatu, atau seseorang, bisakah mengembalikan keadaan seseorang yang sudah celaka?
Dari Riwayat Tour of Duty Dirlantas Polda Jateng dan Kasat Lantas Polrestabes Semarang, keduanya adalah pakar keamanan dan keselamatan, serta rekayasa lalu lintas. Sehingga dapat diyakini, persoalan ini adalah pekerjaan sepele yang sangat mudah ditangani. 

Namun, biasanya, karena masalah pengadaan barang adalah Domainnya Pemerintah Daerah, dalam hal ini Pemkot Semarang, maka siapapun Kasat Lantas dan Dirlantasnya, persoalan ini akan terus terkatung-katung bila Pemkot Semarang melakukan pembiaran, mengabaikan keselamatan warganya.

Bisa jadi juga, bapak-bapak di Pemerintah Kota tidak bisa memperhatikan kondisi pada perempatan tersebut, karena perjalanan telah diamankan oleh Patwal, sehingga tidak berhadapan dengan kondisi dimaksud.

 Dan, sebagai tambahan, Perempatan sejenis juga berlokasi di Jalan Gajah Mada pada persimpangan Depok-Kranggan, serta tidak tertutup kemungkinan terdapat pada lokasi lain. Semoga persoalan ini tidak dijawab dengan “Berkendara, ya harus hati-hati. (YF/Sri Hendarti)
 
Top