GuidePedia


Tasikmalaya, Global Post 
Pengerjaann proyek Sungai Cipalebuh di Kecamatan Pameungpeuk Kabupaten Garut yang dikelola langsung oleh Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air  (PSDA) Propinsi Jawa Barat,  yang bersumber dari dana Bencana Alam Propinsi Jawa Barat sebesar Rp 4 milyar, diduga keras pada pelaksanaannya ada main mata  dengan pihak dinas terkait,  serta sebahagian dilakukan orang dalam. Dugaan keras adanya pengerjaan sebahagian dilakukan orang dalam PSDA itu sendiri bukan merupakan hal baru dan bukan rahasia umum lagi, khususnya di kalangan rekanan Jasa Kontruksi atau pemborong yang mendapatkan pekerjaan dari Dinas PSDA. Bahkan, bisa dibilang, hampir delapan puluh porsen pekerjaan yang ada di dinas ini pengerjaannya selalu disub orang dalam.
Khusus Cipalebuh diduga ada permainan oknum pejabat dinas di Bandung dengan oknum pejabat di BPSDA Ciwulan Tasikmalaya Ir.Toni M Rahmat. Terlebih, para pengelola proyek tersebut termasuk para pengawassnya dari BPSDA Ciwulan Cilaki Tasikmalaya di bawah komando Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Ir H Toni M Rahmat, yang menjabat Kepala Seksi Sundawapan di BPSDA Ciwulan Tasik.

Toni menurut berbagai sumber Global Post, ya pejabat, ya wasit, juga pemain alias sering ngesub proyek yang ada di dinasnya. Bahkan, kesaktian Toni juga bisa mengkondisikan proyek-proyek yang dilelang yang nilainya milyaran rupiah. Hal tersebut bukan rahasia lagi di kalangan rekanan-rekan sejawatnya, juga bagi para wartawan di Tasikmalaya.

Tapi yang menjadi pertanyaan, kenapa pihak Dinas PSDA Propinsi Jabar  sepertinya menutup mata? Lebih istimewanya lagi, Toni oleh Dinas PSDA Propinsi Jabar, salah satu calon kuat akan dipromosikan menjadi Kepala BPSDA Citanduy Tasikmalaya. Ada apa dibalik itu asalkan setoran lancar?
Gerakan tutup mulut yang dilakukan para pengawas proyek Sungai Cipalebuh agar tidak bocor keluar  begitu rapat. Tidak ada serangpun  para pengawas yang ditanya wartawan memberikan jawaban secara transparan. Semuanya pada tutup mulut rapat-rapat.

Itu terjadi ketika Global Post mempertanyakan terhadap salah seorang pengawas proyek tersebut bernama Dedi. Ia (Dedi) tidak memberikan jawaban, berapa ketinggian Tembok Penahan Tanah (TPT)  dan berapa kedalaman pondasi yang akan dikerjakan dan juga berapa nilai proyeknya.
Dedi cukup menjawab tidak tahu. Hal senadapun sama  dijawab seorang pengawas  lainnya bernama Margono ketika ditanya wartawan hanya cukup menjawab tidak tahu. ”Saya hanya diperintahakan mengawas saja,” ujar Margono. 

Papan proyek pun di drop dari dinas PSDA Bandung. ”Jadi, kalau para pengawas itu  cukup menjawab tidak tahu, apa fungsinya sebagai pengawas lapangan?”cetus salah seorang pejabat kepada Global Post.
Bila kedua pengawas senior itu sudah demikian jawabannya, apalagi para pengawas keenam lainnya yang masih baru dan muda-muda. Jelas, yang senior sudah demikian, bawahannyapun akan menurutinya. Apakah gerakan tutup mulut itu karena ada komndo dari sang atasan selaku Kepala Seksi Sundawapan yang juga PPTK Ir. Toni?

Bahkan ketika Global Post mempertanyakan berapa nilai proyek Sungai Cipalebuh  yang delapan paket pekerjaan secara keseluruhan. Baik  kedua pengawas senior itu, termasuk PPTK Ir H Toni  ketika ditemui di tempat kerjanya, tidak  memberikan komentar seperti membisu. ”Tidak perlu tahu dan tidak perlu dibicarakan lagi,” cetus Toni dengan nada sinis.

Menurut sumber, kedelapan paket pekerjaan itu nilainya ada yang Rp 4 milyar, ada juga menyebut Rp 6 milyar. Yang jelas, tutur sumber, nilai proyek Sungai Cipalebuh itu bisa dikatan misterius,  karena baik pengawas maupun PPTK tutup mulut, sulit dikonfirmasi karena dengan berbagai alasan  proyek itu yang punya lakon Dinas PSDA Propinsi Jabar. 

Sementara menurut beberapa wartawan Tasik yang pernah melihat langsung ke lokasi beberapa proyek tersebut, cukup membingungkan. Karena pada waktu itu, proyek sudah berjalan, para pengawas ada sebahagian  ditempat serta papan proyek tidak terpampang di lokasi. ”Jadi, sulit untuk menjumlah berapa nilai proyek keseluruhan,” ujar Budi, wartawan Fakta Indonesia.

Kepala BPSDA Ciwulan – Cilaki Tasikmalaya, Ir. Azhari Dwikora ketika hendak dikonfirmasi Global Post, tidak berada di kantornya. Menurut beberapa stafnya, yang bersangkutan sedang rapat di Bandung selama dua hari. 

Proyek Sungai Cipalebuh sebanyak delapan paket di Kecamatan Pameungpeuk Kabupaten Garut dengan nilai yang misterius itu bersumber dari dana Bencana Alam Propinsi Jabar, yakni untuk pembuatan pembangunan Tembok Penahan Tanah (TPT). 

Berbagai kalanganmeminta pihak Inspektorat Propinsi Jabar harus turun ke lapangan. Bahkan, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Propinsi Jabar diharapkan mengauditnya, karena proyek tersebut menelan dana lebih dari satu milyar. Mampukah pihak Inspektorat Jabar dan BPK  mengungkap kasus proyek misterius itu yang diduga keras banyak kebocorannya. sehingga merugikan uang negara? (Aa Kosmara HBS)
 
Top