GuidePedia


Jakarta, Global Post 
Banjir Kanal Timur (BKT) dibayangkan oleh masyarakat luas menjadi salahsatu icon Jakarta yang dapat diandalkan sebagai pencegah banjir dan obyek wisata yang mampu meningkatkan perekonomian. Disepanjang aliran BKT ada angkutan Transportasi Air, dengan pinggirannya berhiaskan pohon-pohon hijau nan indah, yang bermanfaat untuk menghibur kepenatan keseharian Masyarakatnya. Pada malam hari warga sekitarnya dapat berinteraksi menikmati pemandangan sepanjang BKT seperti pada umumnya di Kota-kota Dunia yang menerapkan Water front system.

Tetapi BKT yang kita saksikan saat ini sangat berlawanan dengan bayangan sebagian masyarakat luas karena yang ditampakkan BKT disepanjang tubuhnya yang masih baru itu adalah aliran air berwarna kehitaman dengan tumpukan sampah berenang-renang. Pinggiran BKT juga, ditumbuhi pohon-pohon yang ditanami masyarakat setempat secara sendiri-sendiri, dan rerumputan yang juga tumbuh sendiri-sendiri. Tumbuhnya pohon-pohon dan sampah-sampah itu datang sendiri tanpa lebih dahulu menunggu komando dari kucuran dana APBD/APBN. Sementara, unit-unit kerja yang terkait dalam menata BKT, sibuk mengurusi proyek-proyek yang persentasenya sudah jelas. Termasuk memilih rekanan yang ’pengertian kedalamnya’ kuat. 

Masyarakat sebetulnya lebih peka dibandingkan para pejabat yang duduk dibirokrasi mengelola uang rakyat. Mereka tau, bahwa pinggiran BKT yang airnya sedang tiris dan kumuh itu, harus ditutupi dengan hijaunya pohon-pohon, meski hanya pohon sayuran. Mereka sangat menyadari betul dan peka pada serkelilingnya. SKPD diwilayah-wilayah harus menunggu ketok palu terhadap usulan anggaran. Juga masih menunggu kucuran dana, pelelangan dan persentase ke panitia lelang. Akibatnya,gedung Sekolah yang baru dibangun pun bisa saja rubuh.
BKT hanya secuil cerminan betapa buruknya birokrasi yang dimainkan. Khusus Jakarta Timur saja, urusan penuntasan BKT saja belum tuntas. Proyek BKT seolah dijadikan proyek yang berkesinambungan.Ribuan rumah dan tempat tinggal telah berpindah untuk berubah menjadi bentangan air. Keterlibatan intens para mafia tanah telah beberapa kali menyeret pejabat-pejabat di Jakarta Timur memenuhi panggilan yang berwajib.

 Ditempat-tempat strategis dilihat mata, sudah ada photo bang Foke dengan himbauannya agar masyarakat tidak buang sampah sembarangan. Bernuansa karikatur dengan kumis yang pas. Mencetak poster-poster itu bukan biaya sedikit. Ratusan juta tertelan. Tapi hasilnya, Nihil. BKT terlihat seperti bayi yang ditelantarkan dan hanya diingatkan dalam rapat-rapat koordinasi yang membutuhkan makan siang dan transport. Uang siapa? Ya uang Rakyat.
BKT lusuh seolah bayi tak pernah mandi. Tidak juga dipakaikan baju dan celana. BKT proyek Mega yang diresmikan pengerjaannya oleh Ibu Mega tahun 2003, seperti mengharapkan Satriom piningit sebagai pahlawan Banjir. Dari proses Inventarisasinya, hingga pembebasan koridornya penuh drama yang membuat satu-dua oknum mendadak kaya. Tetapi juga membuat banyak masyarakat yang kehilangan tempat tinggalnya, mendadak Gila. Bahkan ada yang langsung mati karena berulangkali dipanggil oleh Kejaksaan.

Cerminan BKT yang terbentang sepanjang kita melintas dan menatapnya dalam keseharian kita, menggambarkan betapa masih miskinnya terapan Birokrasi yang kita perlihatkan kepada Masyarakat. Pejabat kecil saja di unit-unit kerja strategis, mampu menjadikan pengamanan dalam di kantornya sebagai ‘Centeng’. Ada yang cium-cium tangan sedikit menjilat uang hasil persentase dari rekanan Bahkan ada yang membayar tenaga Ormas tertentu untuk mengamankan proses lelang misalnya, atau untuk pengamanan diri pribadi. Biayanya bisa lebih besar dari budget yang dibuat untuk mengamankan seorang Walikota.
Saat ini BKT menunggu uluran tangan yang bersih dan jernih dari kita semua. Uluran tangan yang satu dan padu. Khususnya pemegang wewenang di pusat maupun di wilayah Jakarta Timur, mempersiapkan mewujudkan Propaganda-propaganda terdahulu yang mungkin sebentar lagi akan terjawab. 

Musim penghujan sudah tiba. Ritual banjir lima tahunan di Jakarta telah mulai mendengung ditenlinga Masyarakat yang berharap pada keberadaan serta kesiapan BKT. Sanggupkah BKT mereduksi banjir yang terjadi di Jakarta sejak dahulu kala, walau hanya 30 Persen, lebih kecil dari janji yang membahana?

Kita lihat saja. Apakah Dana besar yang dikucurkan melalui sudut-sudut kantong pnjaman Bank Dunia, APBN dan APBD itu sanggup membuat tenang warga Jakarta tidur lelap tanpa teror banjir. Melakukan aktifitas sehari-hari tanpa teror banjir? Yang jelas, proyek BKT telah menelan uang negara yang sangat besar beserta pengorbanan masyarakatnya yang patut diperhitungkan. Juga proses yang dilaluinya, telah membuat ada orang yang kaya mendadak dan juga gila mendadak. (Arto)
 
Top