Minggu, 16 Oktober 2011

Jateng Butuh Pengawalan Distribusi Pupuk


Semarang, Global Post 
Kenaikan harga pupuk di pasaran menjadikan perhatian Gubernur Jawa Tengah H. BIbit Waluyo. Sebab, untuk meningkatkan hasil usaha tani, bahan utamanya adalah pupuk.
Namun, pupuk menjadi beban para petani, karena harga pupuk selalu melonjak tinggi. Gubernur mengatakan, pengawasan oleh pemerintah daerah dinilai masih lemah dan itu terbukti belum adanya sinkronisasi koordinasi Bupati, Camat, dan Kepala Desa/Lurah. 
Bibit meminta agar pejabat daerah benar-benar mengawasi jalur distribusi pupuk sampai ke tangan petani dan katanya “Saya tidak ingin lagi mendengar keluhan petani mengeluh soal pupuk.  Kerap dapat laporan di Jawa Tengah harga pupuk mahal, di daerah lain pupuk langka, dan persoalannya satu, kepala daerah kurang mengoptimalkan fungsi pengawasan,” tandas Bibit.  

Disampaikan kepada para petani, agar dalam menggunakan pupuk sesuai takaran atau kebutuhan, sehingga tidak mengurangi jatah kebutuhan petani lain, maka kepada para Bupati, Camat dan Kepala Desa/Lurah juga harus memantau penggunaan pupuk yang tepat aturan, dan bila melanggar tentunya harus diperingatkan.
Belum lama ini waktu Gubernr juga meninjau penyiapan pupuk di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang bersama Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultural Jawa Tengah Aris Budiono, yang didampingi Manager PT Pusri Jateng Eddy Hamim.

Menurut Aris Budiono, di lapangan tugas Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3) belum meksimal dan KP3 seringkali tidak mengawasi secara menyeluruh sampai ke tingkat petani. Kondisi itu diperparah dengan kebijakan Bupati yang kurang memahami soal pupuk.  

Ditekankan Aris, sebenarnya bupati harus membuat laporan soal kebutuhan pupuk per bulannya, dan hal ini diberikan kepada para camat, agar dapat diteruskan kepada kepala desa/lurah.

Aris menambahkan, namun demikian masih banyak para camat mengaku tidak menerima laporan dari bupati. “Jadinya camat kurang menguasai kebutuhan pupuk di daerahnya dan inilah juga yang menjadi persoalan serius,” ujarnya.

Perlu diketahui, kebutuhan pupuk Jawa Tengah sesuai pengajuan rata-rata sebesar 901.000 ton, namun disetujui Menteri Pertanian hanya sebesar 818.000 ton. Dengan begitu 90% sudah memenuhi kebutuhan dari sekarang ini saja.

Manager PT Pusri Jateng Eddy Hamim mengatakan, pihaknya telah menyiapkan 6.222 ton, juga penggunaan pupuk bersubsidi (penggunaan untuk padi), dan untuk mengetahui  pendistribusian yang baik, maka disejumlah daerah diminta mendata dan mengawasi pada pemupukan jenis tanaman lain seperti jagung atau polo wijo ungkapnya. (Yf)

0 komentar:

Poskan Komentar