GuidePedia


Surabaya, Global Post 
Surabaya yang terkenal pemuda dan pemudinya dengan julukan arek Suroboyo. Namun, kini tercemar dengan pelacuran putih abu-abu—istilah untuk prostusi siswi SMA, dan berada di level memprihatinkan.
Hasil penangkapan terbaru Tim Subnit Vice Control Satreskrim Polrestabes Surabaya jadi bukti. Selasa pecan lalu polisi mengamankan seorang siswi SMK Negeri di kawasan Surabaya Selatan yang dituding sebagai mucikari. Icah,  panggilan akrab ABG berusia 15 tahun itu, ditangkap bersama seorang  pengusaha bernama Ari Haryanto, 43 tahun, karena kedapatan melacurkan seorang teman sekolahnya Vena (samaran). Siswi berusia 15 tahun itu oleh Ari dimasukan kamar Hotel Palm Inn Jalan Kencana Sari Timur. “Untuk mempertanggungjawabkan perbuatanya, Icah dan Ari kini kami tahan di Mapolrestabes,” kata Kasatreskrim AKBP Anom Wibowo.
Nama Ari sendiri sebenarnya sempat menjadi bahan pemberitaan ketika sekitar 9 Januari lalu rumahnya  di Rungkut dibobol oleh pencuri. Harta bendanya sekitar Rp 1,2 miliar raib. Selama ini, Ari juga dikenal dekat dengan beberapa pengusaha pedagang Keputran.
       
 Pengungkapan kasus ini berawal dari ketidaksengajaan polisi saat menggelar pengamanan peringatan Paskah di sebuah gereja di daerah Kencana Sari Timur, Sabtu pekan lalu. Saat itu anggota Tim VC Satreskrim curiga melihat gelagat mencurigakan dari dua gadis yang masih berusia ABG yakni, Icah dan Vena.

Tak lama berselang, Vena dijemput seseorang menggunakan dengan mobil da menuju lah ke hotel Palm Inn.”Dari situ anggota langsung curiga, dan diperiksalah Icah yang sedang menunggu di jalan dekat hotel,”jelas Anom
        
Ketika dimintai identitasnya, Icah tercatat sebagai siswi sebuah SMK Negeri. Icah mengaku  mengantar temanya, Vena. ”Yang sedang dipesan pria hidung belang,” lanjutnya.
Setelah mengamankan Icah. Polisi langsung bergerak menuju hotel Palm Inn. Di sana ditangkaplah Ari. Saat itu Ari berada di lam pekamar bersama Vena. Icah dan Ari pun langsung digelandang ke Mapolrestabes.
        
 Dalam pemeriksaan, Icah mengakui mendapatkan order khusus dari Ari. Mucikari belia ini diminta menyediakan perempuan sebayanya sebagai teman kencan. Dari situlah, Icah menyodorkan nama Vena.
Icah dan Vena sama-sama duduk di bangku kelas X di sekolah yang sama. Untuk,” menjual” teman sekolah itu, Icah mematok tariff Rp 500 ribu sekali kencan. “Dari uang kencan itu biasanya Icah mendapatkan bagian Rp 200 ribu,” lanjut Anom.

Sejauh ini, Icah mengaku baru sekali menjual temanya ke pada om-om hidung belang, Namun, keterangan itu masih di dalam polisi. Sebab, penyidik menduga Icah sudah lama terjun di bisnis haram.
        
Jaringan prostitusi tersebut diduga tidak hanya melibatkan Icah dan Vena. Ada beberapa nama lain. Mereka sama-sama siswi di SMK Negeri di kawasan Surabaya Selatan tersebut. Dua di antaranya disebut polisi dengan nama samara Sukma dan Lala. Dua nama itu adalah kakak kelas Icah. Sukma dan Lala bahkan disebut-sebut sah lebih lama terjun ke lembah hitam.

Mereka juga pernah”diboking”Ari yang kini mendekam di jeruji besi Mapolresta. Munculnya nama Sukma dan Lala berdasarkan keterangan Ari kepada penyidik. Mula-mula Ari mengenal Sukma terlebih daulu.
Perkenalan direktur pemasaran sebuah asuransi itu melalui perantara seorang karyawan salon bernama Jessy. 
Siswi SMA yang dipromosikan Jessy ialah Sukma. Sukma saat itu tengah magang di salon di daerah Rungkut sebagai SPG. Ketika melihat Sukma, ternyata Ari langsung tertarik. Ari pun kemudian mulai mengajak kencan Sukma. Sehabis Sukma kemudian merekommendasikan Lala. Sehabis Lala pun kemudian merekomendasikan adik kelasnya Icha. Dari situ, Icha merekomendasikan ke Vena.
        
 Sementara itu, Global Post Selasa pekan lalu menemui Vena di sekolahnya. Dia mengaku sudah berhubungan dengan Ari dan diberi uang Rp 500 ribu. ”Habis itu kami janjian di Vida,” katanya.
Sebab, saat itu dia hendak menyerahkan jatah Icha sebesar Rp 200 ribu. Vena mengatakan,awalnya Kamis lalun dia mendapat SMS dari Icha.dia tulis, Ven, ada kerjaan nih, mau nggak?Aku lagi butuh uang Rp 200 ribu,”ujar Vena.
Vena pun membalas dengan menanyakan maksudnya dan diberitahu jika pekerjaannya adalah melayani pelanggan. Lantas mengapa Vena mau saja diajak bekerja?”Saya ada problem,HP saya hilang ada yang mencuri,”ungkapnya Vena.
         
Sementara itu, Wakasek Kesiswaan di sekolah Vena menjamin, pihaknya tak bakal mengeluarkan murid-muridnya yang terlibat kasus tersebut, baik pelaku maupun korban. Sebab, pihaknya ingin membina mereka.”Kalau dikeluarkan, bukannya menyelesaikan masalah. Malah menambah masalah,”katanya. (Lexs)
 
Top