GuidePedia

Indramayu, Global Post 
Dengan segenap tekad dan hasrat, membungbung, mengejar impian yang tinggi, mencapai langit. Demi sebuah rasa membahana agar keluarga menyamai tetangga rela membelenggu rindu terpisah dengan anak, suami, orang tua dan saudara. Dengan alasan budaya yang sama. pergilah mereka menaiki burung besi. Membawa sejuta angan demi penghidupan yang nyaman. Mengadu nasib di negri orang tidaklah selalu menyenangkan. Banyak TKW Indonesia bernasib malang, meskipun diakui tidak sedikit pula yang berhasil dan sukses. Perempuan muda yang cantik jelita, bibirnya merah alamiah, kulitnya coklat ke Indonesiaan. Matanya berbinar. Tubuhnya seperti guitar. Perempuan itu, ramah tamah, sopan santun dan murah senyum duduk termenung lesu. Pandangannya tampak kosong. Ia seakan merenungi nasib malang yang tengah menimpanya dirinya.


Harapan untuk meperoleh gaji yang besar sebagai tkw di malasia pupus. Keinginanya mendapatkan lembaran uang ringgit malaysia pun tinggal impian. Perempuan itu mengaku pernah disekap satu bulan empat hari di sebuah apertemen di Malaysia.

Ia berangkat keluar negeri, karena didatangi oleh seseorang seponsor.   Ia diberi informasi dan dijanjikan dipekerjakan di sebuah restoran dengan gaji Rp.2.5 Juta per bulan. Namun,  janji-janji itu hanya dibibir saja tak pernah menjadi kenyataan. Justru   Sebaliknya perempuan cantik itu dijadikan sebagai pelacur dan dipaksa harus melayani minimalnya 4-5 orang per malam.

Ia berangkat lewat Pontianak (Kalimantan ) dengan naik pesawat. Dari Pontianak terus menuju Kucing (Malaysia) dengan jalan darat. Kemudian dari Kucing (Malaysia) menuju Kualapumpur.

Di ibukota negara tetangga itu, pemilik tubuh seperti guitar itu dijemput oleh seorang agen penyalur dan dibawa ke apertemen. “Oleh agen penyalur kemudian saya di jual kepada orang yang berinisial lek  dengan harga 3.500 ringgit. setelah itu saya dibawa lex, dan diinapkan di rumahnya, yang alamatnya saya tidak tahu, di sana saya disekap dan dijadikan pelacur,” tuturnya.

Ia mengatakan, sampai sekarang banyak wanita Indonesia ditipu  dan dijadikan wanita penghibur di Malaysia. “Wanta-wanita itu kebanyakan disekap di sebuah tempat dan dipekerjakan pada malam hari agar melayani para tamu-tamu di hotel,” ungkapnya.

Pada siang hari, kata dia, mereka disekap di rumah Lex. Rumah itu dijaga ketat oleh preman, bodyguard, dan tukang pukul. Pada malam hari dirinya di bawa ke hotel dan dipaksa melayani tamu-tamu hidung belang. Perlakuan itu dialami setiap malam. Ia tidak boleh ber istirahat, meskipun dalam keadaan sakit.

Ia mengaku rata-rata setiap malam harus melayani empat sampai lima  orang. Kalau hanya melayani tiga orang ia dimarahi. Bahkan bukan hanya itu, ia juga dihukum dengan cara dikunci dalam kamar kecil dan tidak diberi makan selama satu hari.

Bagaimana dengan gaji? “Saya tidak digaji sepersenpun. Gaji yang dijanjikan penyalur Rp.2.5 juta per bulan hanyalah impin belaka. Janji-janji itu hanya dibibir saja tak pernah menjadi kenyataan,” ungkapnya.

Ia menuturkan, uang bayaran dari para tamu semuanya di terima Lex. Para tamu membayar 158 ringgit untuk waktu 45 menit. Kalau satu malam penuh,  tamu membayar 700 ringgit.

Jika kebetulan tamunya berbaik hati, diberi tips 10 ringgit. Namun, itu jarang terjadi. Sebaliknya, beberapa tamu malah memperlakukannya secara tidak manusiawi. Kalau tidak menurut kemauanya, tamu itu protes. “Saya dimarahi oleh tukang pukul. Daripada dimarahi, terpaksa saya menuruti kemauannya,” tuturnya sambil menghapus air matanya.

Sewaktu berada di penyekapan, ia tak berhenti-hentinya berdoa agar bisa keluar dari apertemen “neraka” tersebut. Doanya pun terkabul. Pada hari Minggu (tanggal 20 Maret 2011) lalu, kebetulan Lex menengok istri mudanya di Jakarta. Penjaga apertemen pun tidak ada di tempat, saat itulah ia kabur.

“Saya kabur pukul 16.00. Saya lari dari lantai 24 lewat jendela. Saya tidak tahu apertemen yang dijadikan untuk penyekapan saya. Yang saya tahu, saya disekap di lantai 24,” katanya.

Begitu sampai di bawah, ia kemudian naik taxi menuju KBRI Malaysia, supir taxi itu kebetulan orang Sunda dan tidak mau dibayar, begitu mengethui nasib malang yang menimpa dirinya.

Wanita itu kapok pergi keluar negeri sebagai TKW,  walaupun diiming-imingi bayaran atau gaji berapapun, ia tidak akan tertarik. Ia tampak trauma, sekarang ia menjadi buruh tani. (Lilik Rakiyah) 
 
Top