GuidePedia


Mojokerto, Global Post 
Siswa kelas 12 SMK Palapa, Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto, Rizal Anggi Winata alias Tuning (17 tahun) terpaksa tak ikuti ujian nasional (UN),  karena tak mampu membayar Rp 1,5 juta untuk biaya akomodasi pengawas. Ibu Anggi, Minarsih menangis sebelum pingsan saat menghadap Kapolres Mojokerto AKBP Prasetijo Otomo, Senin lalu. Anggi juga menjadi tahanan polisi terkait kasus narkoba. Anggi menjadi Polres Mojokerto, setelah dia dibekuk satuan narkoba, Kamis lalu, saat mengantarkan narkoba di Mojoanyar. Selain menahan Anggi, polisi juga mengamankan 390 butir pil koplo jenis Dobel L dan uang sebesar Rp 50.000,- Karena ditahan, Anggi hanya bisa mengikuti UN dalam tahanan.

Namun, untuk mengikuti UN, dia diminta membayar Rp 1,5 juta diluar uang ujian sebesar Rp 1,2 juta yang sudah dilunasi dan tunggakan SPP Rp 200.000,- “Uang Rp 1,5 juta itu katanya untuk akomodasi lima orang pengawas selama tiga hari, karena pelaksanaan ujian dilakukan di kantor polisi,” jelas Minarsih (45 tahun), ibu Anggi saat menjenguk anaknya di Mapolres Mojokerto.
       
Ketidakikutan Anggi dalam UN ini pun terdengar Kapolres Mojokerto AKBP Prasetijo Utomo. Lalu ia pun memanggil Minarsih ke ruanganya untuk menceritakan kendalah hingga anaknya tak bisa mengikuti UN. Didampingi Kasubag Humas Polres Mojokerto AKP Lilik Achri Ekowati, Kasat Narkoba AKP Soetrisno dan Kasat Intelpam Iptu Imam, Minarsih menceritakan tentang kesulitan anaknya hingga tak bisa mengikuti UN.
       
Warga Kedonglengkong RT 03/RW 01 Kecamatan Dlanggu ini mengatakan, mereka tak sanggup jika harus membayar uang ujian sebesar Rp 1,5 juta. Sebab, suaminya Suntoro hanya bekerja sebagai buruh tani. Karena itu, ia pun memutuskan untuk tidak mengikutkan anaknya pada UN. Saat bercerita tentang kesulitan ekonominya, Minarsih yang sehari-hari bekerja sebagai buruh goring kerupuk tersebut jatuh pinsan.
      
 Mendengar penuturan tersebut, Kapolres Mojokerto AKBP Prasetijo Utomo meminta agar Kaset Narkoba dan Kaset Intelpam untuk berkoordinasi dengan sekolah guna mengupayakan agar Anggi bisa mengikuti UN. ”Jika memang karena tidak bisa bayar uang ujian sebesar Rp 1,5 juta tersebut, biar uang itu ditanggung Polres. Kan ada dana infak di Polres, biar diambilkan dari itu,” jelasnya. Meski Anggi menjadi tahanan polisi, bukan berarti hak dia untuk mengikuti unas menjadi hilang.
       
Kepala SMK Palapa, Roaita Khoironi di hadapan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto M Talqin membantah tudingan adanya biaya Rp 1,5 juta untuk akomodasi lima pengawas. Menurutnya, polisi dan sekolah sudah berkoordinasi untuk menggelar UN Anggi di ruang Kasat Narkoba. ”Namun, pada hari Sabtu (16/4) orangtua Anggi menyatakan anaknya mundur dari UN, ini  disertai surat pernyataan pengunduran dirinya,” jelas Khoironi.
        
M Talqin menambahkan, karena mundur dari peserta UN, maka Anggi tak bisa mengikuti UN, termasuk pula ujian susulan. Meski begitu, lanjut dia, Anggi memiliki peluang untuk ikut ujian paket C atau UN pada tahun depan. (Lexs)
 
Top